Home
>
News
>
Publication
>
Apa itu Nisbah, Contoh, dan Ketentuannya dalam Perbankan Syariah
Apa itu Nisbah, Contoh, dan Ketentuannya dalam Perbankan Syariah
Monday, 20 May 2024

Penulis: Najim Nur Fauziah 


Apa itu Nisbah 

Dalam keuangan Islam, istilah "Nisbah" mengacu pada rasio atau perbandingan keuntungan dalam suatu transaksi atau investasi. Nisbah melibatkan pembagian keuntungan dan kerugian di antara pihak-pihak yang terlibat, dihitung berdasarkan persentase tertentu. Nisbah juga dapat didefinisikan sebagai perjanjian bagi hasil antara bank dan nasabah, yang dianggap sah dalam prinsip-prinsip Islam.  

Nisbah juga merupakan sebuah metode yang berfungsi sebagai alternatif dari sistem berbasis bunga yang biasa digunakan di bank konvensional, karena dianggap sebagai bentuk riba yang secara eksplisit dilarang dalam ajaran Islam. 

Tentunya perhitungan nisbah di bank syariah berkaitan dengan kontrak yang telah disepakati di awal antara kedua belah pihak atau lebih. Besaran porsi nisbah ditentukan sesuai kesepakatan bersama dan kerelaan antar pihak tanpa ada unsur paksaan.  


Apakah Nisbah sama dengan Riba? 

Tidak, Nisbah tidak sama dengan Riba. 

Secara definisi nisbah mengacu pada rasio bagi hasil atau proporsi yang disepakati dalam transaksi keuangan syariah termasuk distribusi keuntunugan dan kerugian di antara pihak yang terlibat berdasarkan persentase tertentu. Nisbah berfungsi sebagai perjanjian untuk pembagian keuntungan antara bank dan pelanggan dengan tujuan mendapatkan keuntungan yang sah yang diakui berdasarkan prinsip Islam. Sedangkan Riba, mengacu pada bunga bank atau tambahan yang dinilai tidak adil dan dilarang dalam Islam. 

Dengan demikian, Nisbah melibatkan perjanjian bagi hasil berdasarkan rasio yang disepakati, sedangkan Riba mengacu secara khusus pada bunga bank yang dilarang dalam keuangan Islam. 


Jenis-Jenis Nisbah 

Nisbah dapat dibedakan sebagai berikut:  

  1. Nisbah aktiva tetap terhadap modal bersih adalah nisbah yang digunakan untuk memutuskan jumlah investasi yang harus dilakukan dalam aset tetap dengan modal pemilik bisnis.  
  2. Nisbah at-tamwil wa al-wada’i atau financing to deposit Ratio (FDR) merupakan rasio pembiayaan bank syariah menggunakan dana pihak ketiga.  
  3. Nisbah fi ihtiyathi naqdi atau rasio cadangan tunai (cash ratio) merupakan sebuah likuiditas perusahaan yang membandingkan rasio total kas dan setara kas perusahaan dengan kewajiban lancar. 
  4. Nisbah jariyah adalah rasio lancar yang mengevaluasi kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek tanpa bergantung pada persediaan.  
  5. Nisbah jumlah modal atau rasio jumlah modal (total capital ratio) merupakan rasio untuk mengukur seberapa besar modal yang digunakan dalam suatu perusahaan.  
  6. Nisbah kas atau rasio kas (cash ratio) merupakan sebuah rasio keuangan yang mengindikasikan kemampuan suatu perusahaan dalam menggunakan kas dan setara kasnya untuk melunasi utang jangka pendek atau utang lancar.  
  7. Nisbah laba bersih terhadap modal bersih merupakan satu perhitungan yang digunakan untuk mengukur seberapa baik suatu perusahaan dalam mengelola asetnya untuk menghasilkan laba.  
  8. Nisbah laba terhadap aktiva (ROA) merupakan rasio atau nisbah utama untuk mengukur kemampuan dan efisiensi aktiva dalam menghasilkan laba (profitabilitas).  
  9. Nisbah laba terhadap modal atau return on equity (ROE) merupakan sebuah rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat kemampuan modal dalam menghasilkan laba bersih. 
  10. Nisbah likuiditas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan lembaga usaha maupun peminjam dalam memenuhi kewajiban atau utang jangka pendek.  
  11. Nisbah modal primer terhadap aset adalah tolok ukur yang digunakan sebagai patokan untuk menentukan apakah sebuah perusahaan memiliki jumlah modal yang cukup.  
  12. Nisbah modal terhadap resiko aset merupakan jumlah modal dibagi rata-rata total nilai aset, dengan setiap aset dinilai berdasarkan bobot risikonya.  
  13. Nisbah perputaran mengacu pada rasio turnover yang mengukur efisiensi suatu perusahaan dalam mengelola aset atau kewajibannya.  
  14. Nisbah si'ri al sahmi ila al ribhi atau rasio yang mengacu pada harga-pendapatan (PER). PER mengukur harga saham perusahaan saat ini dan laba per saham (EPS). 
  15. Nisbah utang terhadap modal bersih atau rasio leverage adalah rasio keuangan yang membandingkan jumlah utang terhadap modal bersih atau ekuitas.  


Jenis Akad dengan Bagi Hasil

Pada dasarnya, penetapan prinsip pembagian hasil di bank syariah yang dipilih tersebut harus disepakati dalam akad. Berikut jenis akad yang akan menjanjikan nisbah di awal: 

  • Mudharabah 
    Dalam syariah bank, prinsip bagi hasil didasarkan pada konsep akad mudharabah. Mudharabah adalah bentuk pembiayaan dimana bank memberikan 100% dana kepada nasabah yang mengelola dana tersebut. Setiap keuntungan atau kerugian yang terjadi kemudian dibagi sesuai dengan nisbah atau nisbah yang disepakati di awal kontrak. Nisbah tidak ditetapkan oleh peraturan perbankan Indonesia atau hukum Syariah Islam, yang memungkinkan bank untuk menentukan kisaran untuk nisbah itu sendiri. 
    Bank menanggung kerugian selama bukan karena kelalaian pelanggan. Jika kerugian terjadi karena kelalaian pelanggan, pelanggan bertanggung jawab untuk mereka. Untuk memitigasi potensi kerugian, bank harus memahami karakteristik risiko operasional bisnis dan berkolaborasi dengan nasabah untuk mengatasi setiap permasalahan yang timbul dalam pengelolaan dana. 


  • Musyarakah
    Prinsip bagi hasil berdasarkan akad musyarakah mengacu pada kerjasama antara bank dan nasabah dalam pembagian keuntungan dan risiko. Hal ini dikarenakan dalam akad musyarakah bank dan nasabah  saling berbagi modal, keuntungan, dan risiko dalam suatu usaha. 
    Prinsip bagi hasil dalam akad musyarakah menekankan pembagian keuntungan secara adil sesuai kesepakatan awal antara bank dan nasabah. Pembagian Keuntungan berdasarkan nisbah atau persentase kepemilikan masing-masing pihak, sehingga semua pihak yang terlibat ikut berbagi risiko dan mendapatkan bagian dari keuntungan sesuai kontribusi. Selain itu, bagi hasil dalam akad musyarakah juga menekankan pada partisipasi aktif dari semua pihak yang terlibat dalam pengelolaan usaha. 


Faktor yang Memengaruhi Nisbah Bagi Hasil 

Pembagian nisbah bagi hasil juga dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Faktor tersebut diantaranya:  

Faktor Internal: 

  1. Kinerja Usaha: Kinerja usaha merupakan faktor kunci yang memengaruhi pembagian nisbah bagi hasil. Semakin baik kinerja usaha, semakin besar keuntungan yang dapat dibagikan kepada pihak-pihak terlibat. 
  2. Risiko Usaha: Risiko usaha juga memainkan peran penting dalam penetapan nisbah bagi hasil. Pembagian keuntungan dan kerugian biasanya mempertimbangkan tingkat risiko yang ditanggung oleh masing-masing pihak. 
  3. Modal Usaha: Jumlah modal yang disediakan oleh pemilik modal (shahibul maal) turut memengaruhi nisbah bagi hasil. Modal yang lebih besar dapat berdampak pada besarnya bagian keuntungan yang diterima. 

Faktor Eksternal: 

  1. Resiko: Faktor eksternal seperti risiko pasar, politik, atau alam juga dapat mempengaruhi penetapan nisbah bagi hasil. Pihak-pihak yang terlibat harus mempertimbangkan risiko eksternal ini dalam pembagian keuntungan. 
  2. Biaya: Biaya operasional dan administratif juga menjadi pertimbangan dalam menetapkan nisbah bagi hasil. Biaya-biaya ini harus dipertimbangkan agar tidak mengurangi potensi keuntungan yang akan dibagi. 


Mekanisme Perhitungan Nisbah 

Dalam perbankan syariah, mekanisme perhitungan hasil terdiri dari dua macam yaitu: profit sharing dan revenue sharing. 

  • Profit Sharing
    Profit Sharing
    atau bagi hasil di bank syariah mengacu pada mekanisme pembagian keuntungan antara bank dan nasabahnya berdasarkan hasil perhitungan hasil bersih dari total pendapatan setelah dikurangi berbagai macam biaya yang telah dikeluarkan. Di bank syariah sebenarnya lebih sering menggunakan istilah Profit and Loss Sharing dimana terdapat pembagian untung dan rugi dari pendapatan atas hasil usaha yang dilakukan. Jika mendapat keuntungan akan dibagi kedua pihak sesuai nisbah kesepakatan di awal perjanjian dan apabila mengalami kerugian akan ditanggung bersama sesuai porsi masing-masing pihak.  

  • Revenue Sharing 
    Revenue sharing merupakan perhitungan bagi hasil didasarkan kepada total seluruh pendapatan yang diterima sebelum dikurangi dengan biaya-biaya yang telah dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan tersebut. Sistem revenue sharing berlaku pada pendapatan bank yang akan dibagikan dihitung berdasarkan pendapatan kotor (gross sales), yang digunakan dalam menghitung bagi hasil untuk produk pendanaan bank. 


Contoh Nisbah Bagi Hasil 

Berikut adalah contoh simulasi mekanisme bagi hasil tabungan di Bank Syariah A.

Nasabah A menyimpan dananya di bank syariah A pada bulan Agustus sebesar Rp. 1.000.000 dengan menggunakan prinsip Mudharabah Mutlaqah. Kemudian bank akan mengelola dan menyalurkan dana tersebut pada produk pembiayaan bank. Selanjutnya bank akan mendistribusikan bagi hasil keuntungan tersebut kepada nasabah berdasarkan nisbah yang telah disepakati diawal akad dan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Dan diketahui saldo rata-rata tabungan seluruh nasabah pada bulan Agustus adalah Rp10.000.000.000 dan pendapatan bank yang dibagi hasilkan pada bulan Agustus Rp300.000.000 maka bagi hasil yang akan diterima nasabah adalah sebagai berikut: 

Adapun rumus yang digunakan dalam perhitungan bagi hasil di Bank Syariah A adalah: 

(Saldo rata-rata simpanan nasabah : Saldo rata-rata seluruh simpanan sejenis) X (Total pendapatan distribusi bagi hasil untuk simpanan sejenis) X (Nisbah bagi hasil) = Keuntungan atas bagi hasil.  

Maka perhitungannya adalah sebagai berikut: 

= (Rp. 1.000.000: Rp10.000.000.000) X Rp300.000.000 X 15% 

= Rp 0,0001 X Rp300.000.000 X 15% 

= Rp 30.000 X 15% 

= Rp 4500 



Baca artikel lainnya:

  • Apa itu akad wadiah & contohnya dalam perbankan syariah?
  • Apa itu akad istishna & contohnya dalam perbankan syariah?
  • Apa itu akad salam & contohnya dalam perbankan syariah?
  • Apa itu akad ijarah & contohnya dalam perbankan syariah?
  • Apa itu akad musyarakah & contohnya dalam perbankan syariah?
  • Apa itu akad mudharabah & contohnya dalam perbankan syariah?
  • Apa itu akad murabahah & contohnya dalam perbankan syariah?
  • Apa itu akad wakalah & contohnya dalam perbankan syariah?
  • Apa itu akad qardh & contohnya dalam perbankan syariah?
Member of
© Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX)
Join Our Monthly Newsletter
Follow Us
Contact Us
Midpoint Place, 22nd Floor, K.H. Fachrudin Street No. 26, Tanah Abang, Jakarta Pusat
+62 21 4050 7788