Selasa, 31 Maret 2026 - Pasangan mata uang ini menghentikan tren pelemahan selama lima hari berturut-turut dan bergerak menguat di kisaran 0,6867 pada sesi Asia hari Selasa. Penguatan ini didorong oleh apresiasi dolar Australia setelah rilis notulen rapat bulan Maret dari Reserve Bank of Australia (RBA). Sentimen positif tersebut memberikan dorongan awal bagi pasangan mata uang ini setelah sebelumnya berada dalam tekanan.
Selasa, 31 Maret 2026 – Harga emas mengawali perdagangan dengan kenaikan tipis ke level US$4.517 per troy ons, terdorong permintaan safe haven yang meningkat di tengah eskalasi konflik Timur Tengah.
Senin, 30 Maret 2026 - Pada pembukaan pekan pagi ini harga minyak terpantau melambung menembus level di atas $100 per barel dipicu oleh sentimen dari sinyal meluasnya perang di kawasan Timur Tengah yang berpotensi mengancam pasokan minyak global lebih lanjut.
Senin, 30 Maret 2026 - Yen Jepang (JPY) menguat terhadap sebagian besar mata uang utama pada sesi Asia hari Senin, sekaligus mengakhiri tren pelemahan selama empat hari terhadap Dolar AS (USD), dengan pergerakan saat ini berada di sekitar level 159.93.
Senin, 30 Maret 2026 – Harga emas turun ke kisaran US$4.512 per troy ons pada awal sesi perdagangan, meskipun eskalasi geopolitik di Timur Tengah masih berlanjut memasuki pekan kelima.
Jumat, 27 Maret 2026 – Harga emas turun ke kisaran US$4.388 per troy ons pada awal sesi perdagangan, tertekan oleh penguatan dolar AS serta kenaikan harga energi yang kembali memicu kekhawatiran inflasi global.
Jumat, 27 Maret 2026 - Pada penutupan pekan pagi ini harga minyak terpantau bergerak terkoreksi bearish menyusul isyarat Trump untuk memperpanjang gencatan serangan ke Iran. Meski demikian, penolakan proposal damai AS dan eskalasi serangan Israel di kawasan regional Timur Tengah menjadi katalis yang berpotensi mendorong minyak kembali bullish.
Jumat, 27 Maret 2026 - Pasangan mata uang ini bergerak di level 0.6825 kembali mengalami tekanan dan mencatat pelemahan selama tiga hari berturut-turut. Penurunan ini dipicu oleh memburuknya sentimen pasar di tengah meningkatnya risiko eskalasi konflik, terutama karena keraguan terhadap tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.