Rabu, 22 April 2026 – Harga emas dibuka menguat di level US$4.726 per troy ons di tengah dinamika geopolitik serta perubahan ekspektasi makroekonomi global.
Indonesia memiliki kekayaan nikel terbesar di dunia, dengan cadangan mencapai 21% dari total cadangan global. Kita patut bangga karena sumber daya alam strategis ini menjadi kunci penting dalam revolusi industri modern, terutama untuk pengembangan kendaraan listrik dan teknologi ramah lingkungan.
Rabu, 22 April 2026 – Pada perdagangan hari ini, harga CPO diperkirakan bergerak dalam rentang stabil dengan peluang penguatan tipis, sementara harga TBS diproyeksikan tetap mengikuti tren positif seiring dukungan harga CPO.
Selasa, 21 April 2026 – Harga emas dibuka di level US$4.825 per troy ons dan bergerak volatil seiring meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran.
Selasa, 21 April 2026 - Pasangan mata uang ini bergerak naik ke sekitar 0,5920 pada awal sesi Asia, didukung oleh rilis data inflasi Selandia Baru yang melampaui ekspektasi pasar. Penguatan ini mencerminkan optimisme investor terhadap prospek kebijakan moneter yang lebih ketat di Selandia Baru. Fokus pasar selanjutnya tertuju pada rilis data penjualan ritel AS yang dapat memberikan arah tambahan bagi pergerakan pasangan mata uang ini.
Selasa, 21 April 2026 - Harga minyak pagi ini terpantau bergerak bullish dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian akan kelanjutan negosiasi damai AS dengan Iran mendekati berakhirnya gencatan senjata selama 2 minggu yang akan berakhir pada 22 April. Selain itu, situasi di Lebanon yang terus memanas di tengah berlangsungnya gencatan senjata juga turut mendukung laju minyak.
Selasa, 21 April 2026 – Melihat tren fundamental dan teknikal yang cenderung positif dengan volatilitas rendah, harga CPO berpotensi melanjutkan penguatan ringan (sideways-up) pada perdagangan hari ini.
Senin, 20 April 2026 - Mengawali pembukaan pekan pagi ini harga minyak terpantau bergerak bearish didukung oleh sentimen dari pernyataan optimis Trump akan segera tercapainya kesepakatan dengan Teheran. Meski demikian, peluang harga terkoreksi bullish masih cukup kuat dipicu oleh sinyal eskalasi konfrontasi AS - Iran di jalur Selat Hormuz, dan pernyataan Israel untuk menyerang Hizbullah dengan kekuatan penuh.