Home
>
News
>
Publication
>
AUDUSD Turun Tiga Hari Beruntun, Dolar AS Didukung Yield Tinggi
AUDUSD Turun Tiga Hari Beruntun, Dolar AS Didukung Yield Tinggi
Friday, 27 March 2026

 

Pembukaan

% Perubahan

EURUSD

1.1525

0.04%

GBPUSD

1.3331

0.01%

AUDUSD

0.6890

-0.94%

NZDUSD

0.5760

-0.05%

USDJPY

159.78

-0.14%

USDCHF

0.7945

0.05%

USDCAD

1.3859

0.01%

GOLDUD

4388.67

-0.09%

USD/IDR

16,898

0.00%

Fokus:

  1. Eskalasi konflik Timur Tengah dan lonjakan harga energi memperkuat Dolar AS serta menekan mata uang berbasis risiko seperti AUD.
  2. Kekuatan fundamental AS, termasuk yield tinggi dan pasar tenaga kerja yang solid, menjaga dominasi USD meskipun ada faktor domestik dari Australia.


AUDUSD

Jumat, 27 Maret 2026
- Pasangan mata uang ini bergerak di level 0,6825 kembali mengalami tekanan dan mencatat pelemahan selama tiga hari berturut-turut. Penurunan ini dipicu oleh memburuknya sentimen pasar di tengah meningkatnya risiko eskalasi konflik, terutama karena keraguan terhadap tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.

Faktor geopolitik menjadi pendorong utama pergerakan pasar, seiring meningkatnya pesimisme bahwa upaya damai antara AS dan Iran akan segera tercapai. Kondisi ini turut menekan pasar saham global, dengan Wall Street ditutup melemah, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS justru mengalami kenaikan. Kenaikan yield ini memberikan dukungan tambahan bagi Dolar AS, yang tercermin dari penguatan Indeks Dolar AS (DXY) yang naik ke sekitar level 100,00.

Di sisi lain, kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah semakin memperburuk situasi. Spekulasi mengenai penutupan hampir total Selat Hormuz mendorong lonjakan harga energi secara signifikan, dengan harga minyak WTI meningkat tajam sepanjang tahun berjalan. Lonjakan harga energi ini turut memperkuat Dolar AS, mengingat komoditas tersebut diperdagangkan dalam USD, sekaligus menambah tekanan bagi mata uang berbasis risiko seperti AUD.

Dari sisi fundamental, data ekonomi AS menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang masih solid, tercermin dari klaim pengangguran yang tetap rendah. Pernyataan Presiden Donald Trump yang tidak berkomitmen pada kesepakatan damai juga menambah ketidakpastian global. Sementara itu, meskipun Reserve Bank of Australia sebelumnya menaikkan suku bunga dan sempat mendorong AUDUSD menguat, tekanan dari aliran safe-haven ke Dolar AS kembali mendominasi. Wakil Gubernur RBA, Christopher Kent, juga menegaskan bahwa konflik telah memperketat kondisi keuangan dan berpotensi meningkatkan inflasi, meskipun bank sentral tetap berupaya menahan dampak lanjutan terhadap ekspektasi inflasi jangka panjang. AUDUSD diperkirakan memiliki area support di kisaran 0,6800, sementara resistance berada di area 0,6860.

EURUSD - pasangan mata uang ini bergerak di level 1,1530 dengan tekanan yang masih dipengaruhi oleh kuatnya Dolar AS di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik. Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran terus menjadi faktor utama, terutama setelah Iran menolak proposal 15 poin yang diajukan Washington untuk mengakhiri perang. Iran menegaskan bahwa setiap kesepakatan harus sesuai dengan kepentingan mereka, termasuk jaminan keamanan dan pengakuan atas kendali di Selat Hormuz, sehingga memperkecil peluang penyelesaian dalam waktu dekat.

Penutupan efektif Selat Hormuz turut meningkatkan premi risiko geopolitik pada harga minyak, yang berdampak pada kekhawatiran inflasi global. Lonjakan harga energi ini berpotensi mendorong bank-bank sentral utama untuk mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka kemungkinan pengetatan tambahan apabila tekanan inflasi terus meningkat. Kondisi ini menciptakan lingkungan pasar yang lebih berhati-hati dan mendukung penguatan Dolar AS.

Dari sisi kebijakan moneter, Federal Reserve diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, seiring inflasi yang masih berada di atas target dan risiko pelemahan pasar tenaga kerja. Pendekatan berbasis data kemungkinan tetap diutamakan untuk menyeimbangkan mandat inflasi dan ketenagakerjaan. Sementara itu, European Central Bank juga menghadapi dilema, karena meskipun inflasi relatif terkendali, ketergantungan Zona Euro terhadap impor energi membuat ekonomi lebih rentan terhadap lonjakan harga minyak. Ekspektasi pasar bahkan mulai bergeser dengan meningkatnya peluang kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. EURUSD diperkirakan memiliki area support di kisaran 1,1500, sementara resistance berada di area 1,1560.

GBPUSD - Pasangan mata uang ini bergerak di level 1,3332, hari ini akan dirilis data penjualan ritel Inggris bulan Februari (konsensus -0,8% MoM) dan keyakinan konsumen GfK untuk bulan Maret, yang tercatat di -21, sedikit membaik dari konsensus -24 tetapi masih sangat negatif. Data ritel yang lemah akan menegaskan ketegangan antara inflasi yang meningkat dan permintaan yang melemah yang telah diwaspadai oleh Komite Kebijakan Moneter (Monetary Policy Committee/MPC) dalam risalah pertemuan bulan Maret.

Di sisi Dolar AS, Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga federal funds di 3,50% hingga 3,75% pada pertemuan bulan Maret, dengan dot plot terbaru menunjukkan satu pemotongan tahun ini. Klaim tunjangan pengangguran awal hari Kamis tercatat tepat sesuai ekspektasi di 210 ribu, tidak banyak mengubah sentimen pasar. Sentimen konsumen University of Michigan (UoM) hari Jumat (konsensus 54, sebelumnya 55,5) dan ekspektasi inflasi satu tahun (konsensus 3,4%) akan menjadi rilis utama AS; kenaikan yang mengejutkan pada ekspektasi inflasi akan memperkuat sikap hati-hati The Fed dan mendukung penguatan Dolar menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bulan April. GBPUSD diperkirakan memiliki area support di kisaran 1,3310, sementara resistance berada di area 1,3360

NZDUSD -  Pasangan mata uang ini melemah hingga ke area 0,5757 dan masih berada dalam tekanan, seiring kuatnya Dolar AS yang didukung oleh tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat serta sikap pasar yang cenderung berhati-hati. Kondisi ini membuat pergerakan pasangan mata uang tersebut tetap terbatas di tengah dominasi Greenback.

Dolar AS terus memperoleh dukungan dari meningkatnya permintaan sebagai aset safe-haven, terutama setelah Iran menunjukkan keengganan untuk menjalin komunikasi dengan Amerika Serikat, sehingga mendorong investor untuk lebih defensif dan memilih USD sebagai aset utama.

Di sisi lain, Dolar Selandia Baru mengalami kesulitan sebagai mata uang yang sensitif terhadap risiko, di tengah memburuknya sentimen global, meningkatnya ketegangan geopolitik, serta kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi. Kombinasi sikap defensif pasar dan tingginya harga energi semakin memberikan tekanan pada mata uang ini. NZDUSD diperkirakan memiliki area support di kisaran 0,5720, sementara resistance berada di area 0,5790

USDJPY -  Pasangan mata uang ini bergerak di level 159,56 pada sesi terbaru, menguat dibandingkan pembukaan hari sebelumnya di level 159,46. Pergerakan ini menandai kenaikan selama tiga hari berturut-turut, mencerminkan momentum bullish yang masih terjaga pada pasangan mata uang tersebut.

Dari sisi fundamental, faktor geopolitik masih menjadi pendorong utama pasar, khususnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang berdampak pada pasokan energi global. Penutupan efektif Selat Hormuz telah memicu lonjakan harga minyak, dengan Brent rata-rata mencapai sekitar $97 per barel pada bulan Maret. Kondisi ini memberikan tekanan signifikan bagi Jepang yang sangat bergantung pada impor energi dari Timur Tengah. Bahkan, muncul laporan bahwa pemerintah Jepang tengah mempertimbangkan langkah intervensi yang tidak konvensional di pasar minyak untuk menahan pelemahan Yen. Di sisi lain, Bank of Japan masih mempertahankan suku bunga di 0,75%, meskipun ekspektasi kenaikan suku bunga mulai meningkat seiring naiknya imbal hasil obligasi jangka pendek.

Sementara itu, Dolar AS tetap kuat dengan dukungan kebijakan moneter ketat dari Federal Reserve. Suku bunga acuan dipertahankan di kisaran 3,50%–3,75%, dengan proyeksi yang hanya mengindikasikan satu kali penurunan suku bunga dalam tahun ini. Ketua The Fed, Jerome Powell, juga menegaskan bahwa inflasi masih belum menunjukkan penurunan yang diharapkan, bahkan proyeksi inflasi inti untuk 2026 direvisi lebih tinggi. Pasar kini menantikan data sentimen konsumen serta ekspektasi inflasi dari University of Michigan, yang berpotensi memperkuat sikap hati-hati The Fed dan memperlebar selisih suku bunga, sehingga terus menekan Yen. USDJPY diperkirakan memiliki area support di kisaran 158,80, sementara resistance berada di area 160,00.

USDCHF - Pasangan mata uang ini bergerak di level 0,7949, melanjutkan tren kenaikan dari sesi sebelumnya seiring berlanjutnya penguatan Dolar AS secara luas. Kenaikan ini didukung oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mendorong permintaan terhadap aset safe-haven berbasis USD. Di sisi lain, Franc Swiss cenderung tertahan karena pelaku pasar masih mewaspadai potensi intervensi dari Swiss National Bank guna mencegah penguatan mata uang yang berlebihan.

Secara teknikal, pasangan ini telah berhasil menembus garis SMA 100 hari di level 0,7890, yang semakin menguatkan bias bullish. Saat ini, harga tengah menguji area SMA 200 hari di sekitar 0,7946, yang menjadi zona resistance penting dalam menentukan arah selanjutnya. Jika mampu menembus level ini secara konsisten, maka potensi kenaikan dapat berlanjut menuju level psikologis 0,8000, dengan target berikutnya di area 0,8050. USDCHF diperkirakan memiliki area support di kisaran 0,7900, sementara resistance berada di area 0,7980.

USDCAD - Pasangan mata uang ini bergerak di level diperdagangkan di sekitar 1,3860, melanjutkan tren penguatan di tengah dominasi Dolar AS. Pergerakan ini didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Iran menolak proposal 15 poin yang diajukan oleh Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik. Iran menegaskan bahwa setiap kesepakatan hanya akan dilakukan berdasarkan syarat mereka sendiri, termasuk jaminan keamanan dan pengakuan atas kendali strategis di Selat Hormuz. Penolakan tersebut memicu kekhawatiran akan konflik berkepanjangan, diperkuat oleh peringatan militer Iran terkait potensi invasi darat serta laporan penambahan pasukan AS di kawasan. Sementara itu, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa proses negosiasi masih berlangsung, meskipun pernyataan ini dibantah oleh pihak Iran, sehingga semakin menambah ketidakpastian di pasar.

Di sisi lain, harga minyak tetap bergerak volatil dan bertahan jauh di atas level sebelum konflik, yang meningkatkan tekanan inflasi global serta mempersulit arah kebijakan moneter dari Federal Reserve dan Bank of Canada. Meskipun Amerika Serikat dan Kanada merupakan eksportir minyak yang berpotensi diuntungkan dari harga energi yang tinggi, kenaikan yang berkelanjutan justru dapat menekan permintaan karena meningkatnya biaya energi. Hal ini berisiko mengurangi daya beli konsumen serta memperlambat pertumbuhan ekonomi, sehingga tetap menjadi faktor yang perlu diwaspadai dalam pergerakan USDCAD ke depan. USDCAD diperkirakan memiliki area support di kisaran 1,3780, sementara resistance berada di area 1,3900.

DATA EKONOMI HARIAN

Jam

Pair

Data

Actual

Ekspektasi

Sebelumnya

12:10am

CAD

Gov Council Member Rogers Speaks

3:00am

USD

President Trump Speaks

3:00am

USD

FOMC Member Cook Speaks

5:30am

USD

FOMC Member Miran Speaks

6:00am

USD

FOMC Member Jefferson Speaks

6:10am

USD

FOMC Member Barr Speaks

2:00pm

GBP

Retail Sales m/m

-0.006

0.018

9:00pm

USD

Revised UoM Consumer Sentiment

53.9

55.5

9:00pm

USD

Revised UoM Inflation Expectations

0.034

10:00pm

USD

FOMC Member Barkin Speaks

10:30pm

USD

FOMC Member Daly Speaks

10:30pm

USD

FOMC Member Paulson Speaks

Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange

Forex Daily Newsletter

Licensed and supervised by
Member of
Certified by
© Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX)
Join Our Monthly Newsletter
Follow Us
Contact Us
Midpoint Place, 22nd Floor, K.H. Fachrudin Street No. 26, Tanah Abang, Jakarta Pusat
Jl. M.H. Thamrin No.3 7th Floor, RT.11/RW.2, Gambir, Central Jakarta City, Jakarta 10110
+62 21 4050 7788