Home
>
News
>
Publication
>
USDJPY Melemah Terbatas, Pelemahan Dolar AS Tertahan Fundamental Ekonomi yang Tetap Kuat
USDJPY Melemah Terbatas, Pelemahan Dolar AS Tertahan Fundamental Ekonomi yang Tetap Kuat
Thursday, 25 June 2026

 

Pembukaan

% Perubahan

EURUSD

1.1361

-0.01%

GBPUSD

1.3163

0.08%

AUDUSD

0.6894

0.01%

NZDUSD

0.5650

-0.09%

USDJPY

161.77

-0.06%

USDCHF

0.8122

-0.04%

USDCAD

1.4230

0.02%

GOLDUD

4006.95

-0.57%

USD/IDR

17,950

0.00%

Fokus:

  1. Data inflasi PCE AS sesuai ekspektasi.
  1. Pasar menanti data inflasi Tokyo.


USDJPY
Kamis 25 Juni 2026 - Pasangan mata uang ini bergerak melemah ke kisaran 161,67 setelah Dolar AS kehilangan sebagian momentumnya menyusul rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat yang secara umum sejalan dengan perkiraan pasar. Meski demikian, pelemahan pasangan ini masih relatif terbatas karena Yen Jepang tetap berada di dekat level terlemah dalam hampir empat dekade terhadap dolar.

Data terbaru menunjukkan inflasi PCE inti AS meningkat menjadi 3,4% secara tahunan pada Mei dari 3,3% pada April, sementara secara bulanan bertahan di 0,3%. Di sisi lain, inflasi PCE utama naik menjadi 4,1% dibandingkan 3,8% pada bulan sebelumnya. Pelaku pasar lebih menaruh perhatian pada stabilnya inflasi inti dibandingkan lonjakan inflasi utama, sehingga ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada pertemuan September sedikit menurun.

Indeks Dolar AS (DXY) sempat terkoreksi setelah publikasi data inflasi tersebut, meskipun penurunannya masih terbatas. Fundamental ekonomi Amerika Serikat yang tetap solid, tercermin dari pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal pertama yang lebih baik dari perkiraan serta klaim tunjangan pengangguran yang lebih rendah, masih mendukung pandangan bahwa Federal Reserve berpotensi mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.

Sementara itu, Yen memperoleh sedikit dukungan dari ekspektasi bahwa Bank of Japan (BoJ) akan melanjutkan proses normalisasi kebijakan moneternya. Namun, perbedaan tingkat suku bunga yang masih lebar antara Jepang dan Amerika Serikat terus membatasi penguatan Yen. Di sisi lain, posisi USDJPY yang tetap bertahan di atas level 160 juga membuat pasar terus mewaspadai potensi intervensi otoritas Jepang. Fokus investor selanjutnya tertuju pada rilis data inflasi Tokyo (CPI), yang diharapkan memberikan petunjuk mengenai waktu kenaikan suku bunga BoJ berikutnya. Support USDJPY berada di area 161.20, sementara resistance di area 162.30.

EURUSD - Pasangan mata uang ini diperdagangkan melemah di kisaran 1,1360 pada awal sesi Asia setelah Dolar AS kembali memperoleh dukungan dari meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve masih berpeluang menaikkan suku bunga acuan pada tahun ini. Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada rilis data inflasi Personal Consumption Expenditure (PCE) Amerika Serikat bulan Mei yang diperkirakan menunjukkan kenaikan, sehingga berpotensi memperkuat prospek kebijakan moneter yang tetap ketat dan menopang penguatan dolar.

Ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed meningkat tajam setelah Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan fokus bank sentral tetap pada pengendalian inflasi di tengah kondisi ekonomi yang masih solid. Di sisi lain, meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran turut menekan harga minyak, sehingga mengurangi tekanan inflasi di kawasan Eropa dan memperbesar peluang European Central Bank (ECB) mengambil sikap yang lebih dovish ke depan. Kombinasi faktor tersebut membebani euro dan mendorong pasangan EURUSD bergerak dalam tren melemah.Support EURUSD berada di area 1.1325, sementara resistance di area 1.1395.

GBPUSD - Pasangan mata uang ini menguat ke kisaran 1,3173 seiring melemahnya Dolar AS akibat aksi ambil untung (profit taking) oleh pelaku pasar, meskipun sejumlah data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan ketahanan yang kuat. Penguatan Pound Sterling terjadi di tengah penurunan Indeks Dolar AS (DXY), sementara investor mulai mengurangi ekspektasi terhadap langkah pengetatan kebijakan moneter Federal Reserve pada tahun depan.

Di sisi lain, fundamental ekonomi AS masih memberikan dukungan bagi dolar. Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal pertama tumbuh lebih tinggi dari perkiraan, klaim tunjangan pengangguran turun di bawah ekspektasi, dan inflasi inti Personal Consumption Expenditures (Core PCE) meningkat sesuai proyeksi menjadi 3,4% secara tahunan. Meski data tersebut mengindikasikan tekanan inflasi masih bertahan, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan berkurangnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga lanjutan membuat penguatan dolar tertahan, sehingga membuka ruang bagi GBPUSD untuk bergerak lebih tinggi. Support GBPUSD berada di area 1.3145, sementara resistance di area 1.3215.

AUDUSD - Pasangan mata uang AUD/USD diperdagangkan menguat di kisaran 0,6895, meskipun pergerakannya masih terbatas di sekitar level psikologis 0,6900. Pelemahan Dolar AS setelah rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) memberikan ruang bagi dolar Australia untuk menguat, namun kenaikan tersebut belum mampu berkembang lebih jauh karena investor masih mencermati perkembangan inflasi AS serta dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Di sisi domestik, data ketenagakerjaan Australia memberikan dukungan bagi mata uang Aussie setelah jumlah pekerja bertambah 40,3 ribu pada Mei, melampaui ekspektasi pasar sebesar 25 ribu. Tingkat pengangguran juga bertahan di 4,4%, mencerminkan kondisi pasar tenaga kerja yang tetap solid. Meski demikian, meningkatnya ketidakpastian di sekitar Selat Hormuz membuat minat terhadap aset berisiko masih terbatas, sehingga potensi penguatan AUDUSD cenderung tertahan. Support AUDUSD berada di area 0.6865, sementara resistance di area 0.6925.

NZDUSD - Pasangan mata uang ini diperdagangkan di kisaran 0,5645 dan masih berada dalam tekanan setelah mencatat penurunan selama tujuh sesi perdagangan berturut-turut. Penguatan Dolar AS yang berlanjut membuat dolar Selandia Baru kesulitan bangkit, dengan indeks dolar (DXY) bertahan di level tertinggi sejak Mei 2025. Sentimen tersebut didorong oleh meningkatnya keyakinan pasar bahwa Federal Reserve masih berpotensi melanjutkan pengetatan kebijakan moneter guna mengendalikan inflasi yang tetap tinggi.

Di sisi lain, penurunan harga minyak akibat membaiknya kondisi pasokan global berpotensi mengurangi tekanan inflasi di Amerika Serikat, sehingga dapat membatasi ruang penguatan dolar dalam jangka pendek. Investor juga cenderung menunggu rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS sebagai petunjuk arah kebijakan The Fed selanjutnya. Sementara itu, sikap Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) yang masih bernada hawkish dengan proyeksi kenaikan Official Cash Rate (OCR) hingga sekitar 2,85% pada akhir tahun diperkirakan mampu menopang dolar Selandia Baru dan membatasi pelemahan NZDUSD lebih lanjut. Support NZDUSD berada di area 0.5625, sementara resistance di area 0.5670.

USDCHF - Pasangan mata uang ini bergerak melemah ke kisaran 0,8119. Pelaku pasar mulai mengurangi posisi beli dolar AS sambil menunggu rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat, yang menjadi acuan utama Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan suku bunga. Data tersebut diperkirakan akan memberikan petunjuk baru mengenai prospek kebijakan moneter AS dalam beberapa bulan mendatang.

Di sisi lain, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve masih tetap tinggi setelah pernyataan bernada hawkish dari Ketua The Fed, Kevin Warsh. Namun, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait konflik antara Israel dan Lebanon, turut meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti Franc Swiss. Kondisi tersebut membatasi penguatan dolar AS dan mendorong pasangan USD/CHF bergerak lebih rendah dalam jangka pendek. Support USDCHF berada di area 0.8095, sementara resistance di area 0.8145.

USDCAD - Pasangan mata uang USDCAD diperdagangkan menguat di kisaran 1,4205, meskipun pergerakannya masih diwarnai volatilitas setelah sempat mencapai level tertinggi dalam sekitar 14 bulan. Dolar Kanada memperoleh dukungan dari pemulihan harga minyak mentah, sementara Dolar AS kehilangan sebagian penguatannya setelah pasar mencerna rilis data inflasi Amerika Serikat yang sesuai dengan ekspektasi.

Kenaikan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) memberikan sentimen positif bagi mata uang Kanada karena minyak merupakan salah satu komoditas ekspor utama negara tersebut. Di sisi lain, data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) menunjukkan inflasi utama dan inflasi inti AS meningkat sesuai proyeksi pasar. Selain itu, pendapatan pribadi dan belanja konsumen yang sama-sama naik 0,7% secara bulanan mencerminkan bahwa aktivitas ekonomi Amerika Serikat masih berada dalam kondisi yang cukup kuat.

Data ekonomi AS lainnya menunjukkan hasil yang beragam. Klaim tunjangan pengangguran awal turun di bawah perkiraan, mengindikasikan pasar tenaga kerja masih solid, sedangkan pesanan barang tahan lama mengalami kontraksi sesuai estimasi. Meskipun Indeks Dolar AS (DXY) sempat terkoreksi setelah rilis data inflasi, prospek kebijakan moneter Federal Reserve yang masih cenderung ketat tetap menjadi penopang utama dolar AS. Namun, sejumlah analis menilai kenaikan USDCAD dalam beberapa waktu terakhir sudah cukup berlebihan sehingga diperlukan sentimen negatif yang lebih kuat dari Kanada agar pasangan ini mampu melanjutkan reli ke level yang lebih tinggi. Support USDCAD berada di area1.4175, sementara resistance di area 1.4245.



DATA EKONOMI HARIAN

Jam

Pair

Data

Actual

Ekspektasi

Sebelumnya

3:00am

JP

BoJ Gov Ueda Speech

 

 

 

8:30am

AU

Employment Rate May

4.4%

4.4%

4.5%

2:00pm

EUR

ECB General Council

 

 

 

7:30pm

US

Core PCE Price Index MoM

 

0.2%

0.2%

7:30pm

US

GDP Growth Rate QoQ Final Q1

 

1.6%

0.5%

Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange

Forex Daily Newsletter


Licensed and supervised by
Member of
Certified by
© Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX)
Join Our Monthly Newsletter
Follow Us
Contact Us
Jl. M.H. Thamrin No.3 7th Floor, RT.11/RW.2, Gambir, Central Jakarta City, Jakarta 10110
+62 21 4050 7788