| Pembukaan | % Perubahan |
EURUSD | 1.04110 | 0.11% |
GBPUSD | 1.23480 | 0.06% |
AUDUSD | 0.62790 | 0.11% |
NZDUSD | 0.56710 | -0.18% |
USDJPY | 156.300 | -0.17% |
USDCHF | 0.90750 | -0.12% |
USDCAD | 1.43810 | -0.03% |
GOLDUD | 2,753.570 | 0.42% |
COFU | 74.30 | 0.16% |
USD/IDR | 16,271 | -0.38% |
Jumat, 24 Januari 2025 - Pada penutupan pekan pagi ini harga minyak terpantau mengalami koreksi naik didukung oleh potensi pengetatan pasokan Rusia. Namun, tekanan turun masih cukup kuat di bawah tekanan dari sejumlah sentimen, mulai dari desakan Trump agar OPEC menurunkan harga hingga ancaman perang dagang baru antara AS dengan China.
Biaya pengiriman minyak dari pelabuhan Timur Jauh Kozmino telah melonjak lima kali lipat yang dipicu oleh kekurangan kapal tanker pasca sanksi baru AS, ungkap tiga sumber pedagang pada hari Kamis. Tarif angkutan untuk pengiriman minyak ke China telah melonjak menjadi $6,5 juta-7,5 juta dari $1,5 juta rata-rata pada akhir tahun lalu. Untuk pengiriman ke India juga melonjak menjadi sekitar $9-10 juta dari akhir tahun 2024 yang berada di bawah $3 juta, ungkap sumber tersebut. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran akan memperketat pasokan minyak Rusia ke pasar global.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, pada hari Kamis mengatakan bahwa ia akan menuntut Arab Saudi dan OPEC untuk menurunkan biaya minyak mentah, serta meminta Saudi untuk meningkatkan paket investasi AS menjadi $1 triliun dari $600 miliar.
Turut membebani pergerakan harga, John Moolenaar, ketua Partai Republik dari komite khusus DPR untuk China, pada hari Kamis mengusulkan RUU bipartisan yang mencakup pencabutan status perdagangan istimewa China dengan AS, memberlakukan tarif tinggi secara bertahap, dan mengakhiri pengecualian "de minimis" untuk impor China yang bernilai rendah. Berita tersebut menambah kekhawatiran akan potensi perang dagang baru antara dua ekonomi raksasa dunia itu.
Di sisi pasokan, dalam laporan mingguan yang dirilis Kamis malam oleh badan statistik EIA menunjukkan stok minyak mentah turun sebesar 1,02 juta barel untuk pekan yang berakhir 10 Januari, lebih rendah dari ekspektasi yang memperkirakan stok akan turun sebesar 2,1 juta barel. Untuk stok bensin dilaporkan naik sebesar 2,3 juta barel. Laporan EIA tersebut mengindikasikan permintaan di pasar energi AS tidak sekuat yang diperkirakan.
Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level $77 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level $72 per barel.
Jam | Data | Aktual | Ekspektasi | Sebelumnya |
21:45 | USA - S&P Global Manufacturing PMI Flash |
| 49.6 | 49.4 |
21:45 | USA - S&P Global Services PMI Flash |
| 56.5 | 56.8 |
22:00 | USA - Existing Home Sales |
| 4.19M | 4.15M |
22:00 | USA - Michigan Consumer Sentiment Final |
| 73.2 | 74.0 |