Home
>
News
>
Publication
>
Proyeksi Pesimis EIA dan OPEC Buat Minyak Ikut Tertekan
Proyeksi Pesimis EIA dan OPEC Buat Minyak Ikut Tertekan
Thursday, 13 November 2025

Indikator Harga

 

Pembukaan

% Perubahan

EURUSD

1.1585

0.08%

GBPUSD

1.3123

0.83%

AUDUSD

0.6540

0.35%

NZDUSD

0.5647

0.35%

USDJPY

154.79

0.14%

USDCHF

0.7977

-0.14%

USDCAD

1.4005

-0.05%

GOLDUD

4,202.63

0.16%

COFU

58.47

-0.27%

USD/IDR

16,717

-0.13%

Fokus Crude Oil:

  • Produksi minyak AS diperkirakan akan mencapai rekor yang lebih tinggi tahun ini, kata EIA.
  • OPEC mengatakan pasar minyak global akan mengalami surplus kecil pada tahun depan.

************************************************************

Kamis, 13 November 2025 - Harga minyak pagi ini terpantau bergerak bearish dibebani oleh sentimen dari proyeksi pesimis pasar minyak terbaru dari EIA dan OPEC. Meski demikian, dibukanya kembali pemerintahan AS pasca Trump mengesahkan UU pendanaan berpotensi mendorong harga kembali bullish.

Dalam laporan Prospek Energi Jangka Pendek yang dirilis pada hari Rabu, EIA memperkirakan produksi minyak AS rata-rata mencapai 13,59 juta bph tahun ini dan kemudian turun tipis menjadi sekitar 13,58 juta bph tahun depan. EIA merevisi proyeksi sebelumnya yang memperkirakan produksi minyak AS akan mengalami penurunan yang sedikit lebih tajam dari sekitar 13,53 juta bph pada 2025 menjadi 13,51 juta bph pada 2026. Secara global, EIA melihat produksi minyak dan bahan bakar akan mencapai rata-rata 106 juta bph pada tahun ini, dan di sisi konsumsi diperkirakan akan mencapai rata-rata 104,1 juta bph.

Turut membebani harga, dalam laporan terbaru yang dirilis untuk penutupan pekan yang berakhir 12 November, grup industri API melaporkan stok minyak mentah AS mengalami peningkatan sebesar 1,3 juta barel. Laporan API itu mengindikasikan permintaan yang lesu di pasar minyak AS. Meski demikian, pelaku masih menantikan rilisnya laporan stok resmi versi pemerintah.

Sementara itu, dalam laporan bulanan yang dirilis pada hari Rabu, OPEC mengatakan permintaan minyak mentah diperkirakan mencapai 43,0 juta bph pada tahun 2026, sehingga jika OPEC dan sekutunya tetap mempertahankan produksi di tingkat bulan Oktober saat ini yaitu sebesar 43,02 juta bph, maka akan ada surplus kecil sebesar 20.000 bph. Proyeksi tersebut sekaligus merevisi pandangan OPEC sebelumnya yang memperkirakan defisit pasokan pada tahun 2026. Untuk itu, aliansi produsen mempertimbangkan kemungkinan untuk menghentikan sementara kenaikan produksi pada kuartal pertama tahun 2026 untuk mengantisipasi kelebihan pasokan yang meluas.

Dukungan terhadap harga minyak datang dari keputusan DPR AS yang pada hari Rabu menyetujui RUU pendanaan untuk lembaga-lembaga pemerintah diperpanjang hingga 30 Januari. RUU itu kemudian disahkan oleh Presiden Donald Trump pada Kamis pagi. Pengesahan UU pendanaan tersebut menandai dibukanya kembali pemerintahan AS, yang sekaligus meningkatkan kepercayaan konsumen dan aktivitas ekonomi di negara konsumen minyak terbesar pertama dunia itu.

Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level $61 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level $56 per barel.

DATA EKONOMI HARIAN

Jam

Data

Aktual

Ekspektasi

Sebelumnya

20:30

USA - Inflation Rate MoM

 

0.2%

0.3%

20:30

USA - Initial Jobless Claims

 

223K

218K

20:30

USA - Continuing Jobless Claims

 

1930K

1926K

Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange

Crude Oil Daily Newsletter

Licensed and supervised by
Member of
Certified by
© Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX)
Join Our Monthly Newsletter
Follow Us
Contact Us
Jl. M.H. Thamrin No.3 7th Floor, RT.11/RW.2, Gambir, Central Jakarta City, Jakarta 10110
+62 21 4050 7788