Home
>
News
>
Publication
>
Performa Mata Uang Yen Tertekan oleh Prospek Kebijakan Longgar Takaichi dan Data Ekonomi Jepang
Performa Mata Uang Yen Tertekan oleh Prospek Kebijakan Longgar Takaichi dan Data Ekonomi Jepang
Friday, 10 October 2025

INDIKATOR HARGA

 

Pembukaan

% Perubahan

EURUSD

1.1564

-0.07%

GBPUSD

1.3308

-0.12%

AUDUSD

0.6570

-0.27%

NZDUSD

0.5757

-0.28%

USDJPY

152.83

0.29%

USDCHF

0.8049

0.22%

USDCAD

1.4012

0.09%

GOLDUD

3994.52

-0.89%

USD/IDR

16530

0.00%

Fokus USDJPY:

  1. Kebijakan Longgar BoJ Masih Bertahan
  2. Tekanan Politik dan Lemahnya Data Upah Jepang

Jumat, 10 Oktober 2025 – Nilai tukar Dolar AS terhadap Yen Jepang (USDJPY) terus memperpanjang penguatannya dan kini bergerak di sekitar level 153,00, mendekati posisi tertinggi sejak Februari 2025. Sentimen pasar masih didominasi oleh ketidakpastian politik di Jepang setelah Sanae Takaichi memenangkan pemilihan pimpinan partai berkuasa Liberal Democratic Party (LDP) pada akhir pekan lalu dan diperkirakan segera menjadi Perdana Menteri Jepang berikutnya. Kemenangan Takaichi memicu spekulasi kuat bahwa Jepang akan kembali pada arah kebijakan fiskal ekspansif ala Abenomics, dengan fokus pada stimulus fiskal dan dukungan moneter untuk menjaga pertumbuhan ekonomi. Ekspektasi ini membuat pelaku pasar menilai bahwa Bank of Japan (BoJ) kemungkinan besar akan menunda langkah kenaikan suku bunga yang sebelumnya diantisipasi pada akhir tahun, sehingga memberi tekanan tambahan terhadap Yen. Meskipun Takaichi menegaskan bahwa dirinya tidak bermaksud mendorong pelemahan Yen secara berlebihan, pandangan ekonominya yang pro-stimulus telah cukup untuk menekan imbal hasil obligasi Jepang dan memperkuat minat beli Dolar AS.

Dari sisi fundamental domestik, data ekonomi Jepang terbaru juga belum memberikan dukungan bagi penguatan Yen. Upah nominal pada Agustus hanya naik 1,5% year-on-year, jauh di bawah ekspektasi 4,1%, sementara upah riil kembali turun 1,4%, memperpanjang tren pelemahan daya beli rumah tangga selama delapan bulan berturut-turut. Inflasi memang masih bertahan di atas target 2% BoJ selama lebih dari tiga tahun, namun tekanan harga tersebut sebagian besar disebabkan oleh biaya impor yang lebih tinggi akibat depresiasi Yen, bukan oleh peningkatan permintaan domestik. Situasi ini semakin menguatkan pandangan bahwa BoJ tidak akan terburu-buru menormalisasi kebijakan moneternya, terutama di tengah tekanan politik untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi. Pernyataan Etsuro Honda, penasihat ekonomi Takaichi, yang menyebut bahwa Yen yang lemah “masih positif bagi pertumbuhan” semakin mempertegas sikap hati-hati bank sentral dan menurunkan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga di pertemuan Oktober, dengan skenario baru bergeser ke Desember 2025 atau bahkan lebih lambat.

Sementara itu, dari sisi eksternal, Dolar AS (USD) tetap mendapatkan dukungan kuat dari faktor global. Indeks Dolar (DXY) masih bertahan di kisaran 99,50, tertinggi dalam dua bulan terakhir, mencerminkan masih kuatnya permintaan terhadap aset safe haven di tengah shutdown pemerintahan AS yang telah memasuki hari kesembilan. Walaupun kondisi ini berpotensi menekan aktivitas ekonomi Amerika Serikat dan menunda rilis sebagian data penting, pasar tetap menilai Dolar AS sebagai aset paling likuid dan aman di tengah ketidakpastian politik di Eropa dan Jepang. Investor kini menantikan rilis Indeks Sentimen Konsumen University of Michigan serta komentar dari pejabat Federal Reserve seperti Jerome Powell dan Michelle Bowman untuk mencari petunjuk lebih lanjut terkait arah kebijakan moneter AS. Jika nada dovish menguat, USDJPY berpotensi mengalami koreksi teknikal jangka pendek, namun secara keseluruhan perbedaan arah kebijakan antara Fed yang sudah dalam fase pelonggaran terbatas dan BoJ yang masih menahan kenaikan suku bunga akan tetap menjadi pendorong utama penguatan USDJPY. Dengan kondisi saat ini, pasangan ini berpotensi tetap berada dalam rentang 152,50–153,50 dalam jangka pendek, dengan bias penguatan yang masih terjaga selama BoJ belum menunjukkan sinyal tegas untuk memperketat kebijakan moneternya.

Harga pada pasangan mata uang USDJPY melemah. Support terdekat berada di 152.50, dan resistance di 153.10. Support lanjutan berada di zona 152.15 dan dilanjutkan ke zona 151.80. Resistance lanjutan berada di zona 153.40 dan dilanjutkan resistance selanjutnya di zona 153.75.

EURUSD – Euro dibuka di 1.1564 dan melemah -0.07%. Euro kembali melemah terhadap Dolar AS dan bertahan di dekat level terendah satu bulan di kisaran 1.1560, tertekan oleh kombinasi faktor politik dan ekonomi yang menambah pesimisme terhadap prospek kawasan Euro. Ketidakpastian politik di Prancis setelah pengunduran diri Perdana Menteri Sébastien Lecornu memunculkan kekhawatiran tentang arah kebijakan fiskal negara tersebut dan kemampuan pemerintah untuk mengesahkan anggaran 2026. Sementara itu, data ekonomi Jerman kembali menunjukkan pelemahan, dengan ekspor dan impor turun melebihi ekspektasi serta produksi industri anjlok 4,3%, memperkuat sinyal perlambatan ekonomi terbesar di Eropa. Risalah pertemuan ECB juga menunjukkan pandangan hati-hati, di mana sebagian pejabat menilai tekanan inflasi masih ada namun tidak ada urgensi untuk mengubah kebijakan suku bunga saat ini. Dari sisi AS, Dolar tetap dominan di tengah sentimen risk-off global dan ketidakpastian akibat government shutdown yang telah memasuki hari kesembilan tanpa kemajuan berarti. Meskipun The Fed mengindikasikan kemungkinan dua kali pemangkasan suku bunga lagi tahun ini, Greenback justru menguat karena investor lebih fokus pada ketahanan ekonomi AS dan arus masuk aset aman. Komentar pejabat Fed seperti John Williams dan Michael Barr yang menekankan kehati-hatian terhadap inflasi juga menambah dukungan terhadap Dolar. Dengan lemahnya data makro Eropa dan stabilnya prospek ekonomi AS, pasangan EURUSD berpotensi tetap berada di bawah tekanan dengan kisaran 1.1550–1.1500 menjadi area penting jangka pendek. Support terdekat berada di 1.1530, sementara resistance di 1.1590.

GBPUSD – Poundsterling dibuka di 1.3308, turun -0.12%. Poundsterling terus tertekan terhadap Dolar AS dan sempat menyentuh level 1.3308, level terendah sejak awal Agustus. Penguatan Dolar yang didorong oleh kekhawatiran pasar terhadap shutdown pemerintahan AS menambah tekanan pada Sterling di tengah ketidakpastian ekonomi domestik Inggris. Bank of England (BoE) masih menghadapi dilema antara inflasi yang masih tinggi dan pertumbuhan yang melambat. Pernyataan hawkish dari Catherine Mann bahwa suku bunga perlu “tetap ketat lebih lama” tidak cukup mengangkat Pound karena pasar menilai kebijakan moneter Inggris akan tetap tertahan hingga 2026. Sementara itu, fokus investor juga tertuju pada penyusunan anggaran musim gugur (Autumn Budget) yang diperkirakan akan menekankan disiplin fiskal dan potensi kenaikan pajak, yang dapat menekan konsumsi dan investasi domestik. Secara global, momentum penguatan Dolar AS terus berlanjut karena investor meningkatkan posisi defensif terhadap risiko perlambatan ekonomi dunia. Sentimen negatif juga diperkuat oleh laporan Bloomberg bahwa sejumlah dana besar di Eropa dan Asia memperbesar posisi opsi jual terhadap mata uang utama seperti Euro dan Yen hingga akhir tahun, mencerminkan ekspektasi penguatan Dolar yang berlanjut. Dengan absennya katalis positif dari Inggris dan lemahnya prospek pertumbuhan, GBPUSD diperkirakan tetap dalam tren menurun dengan potensi menuju area 1.3250 jika Dolar terus mempertahankan momentumnya. Support terdekat berada di 1.3280, dan resistance di 1.3340.

AUDUSD – Dolar Australia dibuka di 0.6570 dan melemah -0.27%. Dolar Australia melemah ke level 0.6550 terhadap Dolar AS setelah gagal mempertahankan penguatan di awal sesi Asia. Meskipun risalah FOMC menunjukkan adanya rencana pelonggaran tambahan di akhir tahun, Dolar AS justru menguat karena meningkatnya sentimen risk aversion di pasar global dan aliran modal menuju aset aman. Dalam konteks domestik, ekspektasi inflasi konsumen Australia yang naik tipis ke 4,8% menunjukkan tekanan harga masih bertahan, namun hal ini belum cukup kuat untuk mendorong Reserve Bank of Australia (RBA) mengambil sikap lebih hawkish. Pasar tetap memperkirakan RBA akan menahan suku bunga di 3,6% sambil menunggu sinyal dari Gubernur Michele Bullock dalam pidatonya malam ini. Dari perspektif eksternal, pelemahan AUD juga diperburuk oleh penurunan harga komoditas ekspor utama seperti bijih besi dan emas, serta kekhawatiran terhadap prospek permintaan global. Beberapa laporan Bloomberg menunjukkan bahwa investor institusional Asia terus meningkatkan posisi terhadap penguatan Dolar hingga akhir tahun, yang menekan mata uang berbasis risiko seperti Aussie. Dalam kondisi saat ini, AUDUSD berpotensi melanjutkan pelemahannya menuju area 0.6520 apabila Dolar AS tetap menguat dan RBA tidak memberikan sinyal hawkish tambahan. Support terdekat berada di 0.6540, sedangkan resistance di 0.6595.

NZDUSD – Kiwi dibuka di 0.5757 dan melemah -0.28%. Dolar New Zealand juga mengalami tekanan signifikan setelah keputusan mengejutkan Bank Sentral Selandia Baru (RBNZ) memangkas suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 2,5%. Keputusan agresif tersebut menunjukkan kekhawatiran mendalam terhadap perlambatan ekonomi domestik dan membuka peluang penurunan lanjutan pada akhir tahun. Investor kini memperkirakan tambahan pemangkasan 25 basis poin pada pertemuan November, yang secara fundamental memperlemah prospek jangka menengah bagi Kiwi. Meskipun sempat mendapat dukungan sementara dari melemahnya Dolar akibat shutdown AS, sentimen terhadap NZD tetap negatif karena kebijakan moneter RBNZ kini jauh lebih longgar dibandingkan The Fed. Sementara itu, penundaan rilis data ekonomi AS akibat shutdown membuat pasar lebih fokus pada pidato Jerome Powell malam ini yang berpotensi memberikan pandangan baru terkait arah pelonggaran Fed. Namun secara keseluruhan, kesenjangan suku bunga antara AS dan Selandia Baru yang semakin lebar serta lemahnya permintaan ekspor utama NZD membuat pasangan NZDUSD sulit bangkit secara fundamental. Selama Dolar AS tetap menjadi aset aman pilihan investor, NZDUSD berisiko lanjut melemah ke area 0.5700 dalam waktu dekat. Support terdekat berada di 0.5730, dan resistance di 0.5785.

USDCHF – Pasangan USDCHF dibuka di 0.8049 dan naik 0.22%. Pasangan USDCHF mencatat kenaikan baru ke sekitar 0.8040, menandai level tertinggi bulanan di tengah penguatan luas Dolar AS. Greenback tetap mendapat dukungan dari meningkatnya arus safe haven di pasar global akibat ketidakpastian politik di Eropa dan Asia serta berlanjutnya shutdown pemerintahan AS. Meskipun risalah rapat FOMC September menunjukkan kecenderungan untuk melonggarkan kebijakan moneter lebih lanjut tahun ini, pasar justru tetap menilai Dolar AS lebih menarik karena ketahanan ekonomi AS relatif lebih kuat dibandingkan kawasan lain. Indeks Dolar AS (DXY) stabil di sekitar 99.00 menjelang pidato Ketua The Fed Jerome Powell, yang diantisipasi akan memberikan petunjuk baru terkait kecepatan pemangkasan suku bunga ke depan. Ekspektasi pasar saat ini mengindikasikan peluang lebih dari 75% untuk dua kali pemotongan tambahan pada Oktober dan Desember, tetapi Dolar tetap menguat karena investor menilai kebijakan pelonggaran akan dilakukan secara hati-hati tanpa mengorbankan stabilitas nilai tukar. Dari sisi Swiss, prospek Franc tetap terbatas karena pasar mulai meragukan kemungkinan Swiss National Bank (SNB) mempertahankan kebijakan ketat lebih lama. Pernyataan terbaru dari Ketua SNB Martin Schlegel menunjukkan kekhawatiran bahwa suku bunga negatif dapat merugikan sektor pensiun dan lembaga keuangan, sekaligus menegaskan inflasi konsumen masih bisa meningkat dalam beberapa kuartal mendatang. Dengan inflasi yang berpotensi naik dan pertumbuhan yang melambat, SNB berada dalam posisi sulit untuk menyeimbangkan stabilitas harga dan stabilitas keuangan. Kombinasi sikap The Fed yang relatif lebih kuat dan ketidakpastian arah kebijakan SNB membuat USDCHF berpotensi melanjutkan penguatan menuju area 0.8080–0.8100 dalam waktu dekat, terutama jika pidato Powell mempertahankan nada optimistis terhadap perekonomian AS. Support terdekat berada di 0.8020, dan resistance di 0.8065.

USDCAD – Dolar Kanada dibuka di 1.4012, menguat tipis 0.09%. Dolar Kanada terus melemah terhadap Dolar AS, dengan pasangan USDCAD menembus level psikologis 1.4000 untuk pertama kalinya sejak April, diperdagangkan di sekitar 1.4020 pada sesi Amerika. Tekanan terhadap Loonie semakin dalam seiring meningkatnya permintaan terhadap Dolar AS sebagai aset aman di tengah shutdown pemerintahan AS yang telah memasuki hari kesembilan dan belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian. Ketidakpastian fiskal di AS justru mendorong arus modal ke Greenback karena investor mencari likuiditas tinggi di tengah meningkatnya risiko politik global, terutama setelah pergolakan politik di Prancis dan Jepang. Selain itu, harga minyak mentah WTI—komoditas ekspor utama Kanada—turun ke sekitar USD 61,50 per barel, memperburuk tekanan terhadap CAD karena hubungan erat antara nilai tukar Loonie dan ekspor energi. Dari sisi fundamental domestik, prospek ekonomi Kanada terus melemah. Pasar menilai Bank of Canada (BoC) kemungkinan besar akan memangkas suku bunga lagi sebesar 25 basis poin pada pertemuan 29 Oktober, setelah penurunan bulan lalu ke 2,5% untuk menahan pelemahan pertumbuhan dan tekanan inflasi yang mereda. Ekspektasi pemangkasan lanjutan ini semakin menekan Dolar Kanada, mengingat perbedaan kebijakan moneter dengan The Fed yang dinilai lebih berhati-hati. Selain itu, data ketenagakerjaan Kanada yang akan dirilis Jumat diprediksi menunjukkan kenaikan tingkat pengangguran ke 7,2% dan pertumbuhan pekerjaan yang lemah. Jika data tersebut kembali negatif, ekspektasi pelonggaran BoC akan menguat dan berpotensi mendorong USDCAD ke area 1.4050–1.4100. Dengan kombinasi faktor global dan domestik yang sama-sama bearish bagi CAD, arah jangka pendek masih cenderung menguntungkan Dolar AS. Support terdekat berada di 1.3980, dan resistance di 1.4035.

DATA EKONOMI HARIAN

Jam

Pair

Data

Actual

Ekspektasi

Sebelumnya

12:01am

USD

30-y Bond Auction

4.73|2.4

-

4.65|2.4

2:45am

USD

FOMC Member Bowman Speaks

-

-

-

4:30am

NZD

BusinessNZ Manufacturing Index

49.9

-

49.9

5:00am

AUD

RBA Gov Bullock Speaks

-

-

-

6:50am

JPY

Bank Lending y/y

3.8%

3.7%

3.5%

6:50am

JPY

PPI y/y

2.7%

2.5%

2.7%

8:40am

USD

FOMC Member Daly Speaks

-

-

-

2:00pm

CHF

SECO Consumer Climate

-

-38

-40

3:00pm

EUR

Italian Industrial Production m/m

-

-0.3%

0.4%

All Day

EUR

ECOFIN Meetings

-

-

-

Tentative

CNY

New Loans

-

1460B

590B

Tentative

CNY

M2 Money Supply y/y

-

8.5%

8.8%

7:30pm

CAD

Employment Change

-

2.8K

-65.5K

7:30pm

CAD

Unemployment Rate

-

7.20%

7.10%

8:45pm

USD

FOMC Member Goolsbee Speaks

-

-

-

9:00pm

USD

Prelim UoM Consumer Sentiment

-

54.1

55.1

9:00pm

USD

Prelim UoM Inflation Expectations

-

-

4.7%

Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange

Forex Daily Newsletter

Licensed and supervised by
Member of
Certified by
© Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX)
Join Our Monthly Newsletter
Follow Us
Contact Us
Jl. M.H. Thamrin No.3 7th Floor, RT.11/RW.2, Gambir, Central Jakarta City, Jakarta 10110
+62 21 4050 7788