Home
>
News
>
Publication
>
Penguatan Terbatas Poundsterling di Tengah Sinyal Pelemahan Ekonomi Inggris dan Melemahnya Dolar AS
Penguatan Terbatas Poundsterling di Tengah Sinyal Pelemahan Ekonomi Inggris dan Melemahnya Dolar AS
Wednesday, 15 October 2025

INDIKATOR HARGA

 

Pembukaan

% Perubahan

EURUSD

1.1606

0.15%

GBPUSD

1.3315

0.26%

AUDUSD

0.6485

0.43%

NZDUSD

0.5714

0.23%

USDJPY

151.83

-0.48%

USDCHF

0.8009

-0.19%

USDCAD

1.4041

-0.07%

GOLDUD

4140.75

1.11%

USD/IDR

16572

0.00%

Fokus GBPUSD:

  1. Data tenaga kerja Inggris melemah
  2. Ekspektasi pelonggaran kebijakan BoE meningkat

Rabu, 15 Otkober 2025 – Poundsterling dibuka di 1.3315, naik 0.26%. Nilai tukar Poundsterling (GBP) terhadap dolar AS menguat terbatas pada perdagangan Selasa setelah dua hari beruntun mencatat pelemahan, menyusul rilis data ketenagakerjaan Inggris yang menunjukkan tanda-tanda perlambatan ekonomi. Berdasarkan data dari Office for National Statistics (ONS), tingkat pengangguran Inggris pada periode tiga bulan hingga Agustus meningkat menjadi 4,8% dari 4,7% sebelumnya, sementara pertumbuhan upah reguler (tidak termasuk bonus) melambat ke 4,7%, turun dari 4,8% pada periode sebelumnya. Perlambatan tersebut memperlihatkan mulai lunaknya tekanan di pasar tenaga kerja, yang selama ini menjadi alasan utama Bank of England (BoE) mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi. Dengan data tenaga kerja yang melemah, pasar mulai memperkirakan BoE dapat kembali memangkas suku bunga acuannya pada Desember 2025 atau awal 2026, meskipun sebagian besar pelaku pasar masih melihat peluang tersebut di bawah 50% karena risiko inflasi yang belum sepenuhnya terkendali.

Dari sisi domestik, ekonomi Inggris menghadapi tantangan struktural yang belum sepenuhnya pulih pasca-Brexit. Biaya pangan yang masih tinggi, gangguan rantai pasok, serta kenaikan biaya sewa dan energi telah menekan daya beli rumah tangga dan memperlambat aktivitas konsumsi. Sektor jasa, yang menyumbang lebih dari dua pertiga dari total output ekonomi Inggris, juga mulai kehilangan momentum ekspansinya. Beberapa indikator seperti Purchasing Managers’ Index (PMI) jasa dan ritel menunjukkan penurunan dalam dua bulan terakhir, menandakan bahwa resiliensi ekonomi Inggris semakin rapuh. Kondisi ini membuat BoE menghadapi dilema: di satu sisi, suku bunga tinggi berisiko memperdalam perlambatan ekonomi dan kenaikan pengangguran, sementara di sisi lain, penurunan suku bunga terlalu cepat dapat memicu kembali tekanan inflasi, yang masih bertahan di atas target 2% bank sentral.

Dari sisi eksternal, dolar AS (USD) melemah akibat meningkatnya ketidakpastian fiskal di Washington menyusul perpanjangan shutdown pemerintahan AS yang membatasi aktivitas ekonomi dan menghambat publikasi sejumlah data penting, termasuk laporan tenaga kerja bulanan. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menurunkan suku bunga sebanyak dua kali lagi tahun ini, sejalan dengan pernyataan beberapa pejabat bank sentral AS yang menilai bahwa pasar tenaga kerja mulai melemah dan inflasi melandai lebih cepat dari perkiraan. Di sisi lain, ketegangan perdagangan antara AS dan Tiongkok turut menekan sentimen pasar terhadap dolar, dengan investor cenderung mengurangi posisi pada aset berisiko dan beralih ke mata uang dengan fundamental relatif stabil seperti Poundsterling.

Harga pada pasangan mata uang GBPUSD menguat. Support terdekat berada di 1.3285, dan resistance di 1.3340. Support lanjutan berada di zona 1.3250 dan dilanjutkan ke zona 1.3220. Resistance lanjutan berada di zona 1.3370 dan dilanjutkan resistance selanjutnya di zona 1.3395.

EURUSD – Euro dibuka di 1.1606 dan menguat 0.15%. Euro bergerak menguat terhadap Dolar AS didorong oleh pelemahan Greenback setelah Ketua The Fed Jerome Powell menyampaikan pandangan yang lebih berhati-hati terhadap prospek ekonomi AS. Powell menegaskan bahwa tekanan di pasar tenaga kerja mulai menurun dan inflasi masih memerlukan perhatian, sehingga kebijakan moneter yang lebih longgar mungkin dibutuhkan. Pernyataan ini memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada akhir Oktober, yang menekan imbal hasil obligasi AS dan mengurangi daya tarik Dolar. Dari sisi Eropa, stabilitas politik di kawasan terutama di Prancis memberikan dorongan tambahan bagi Euro, karena pasar menilai pemerintah baru akan menempuh langkah fiskal yang lebih konservatif untuk menjaga kepercayaan investor. Selain itu, pandangan optimistis dari sejumlah pejabat ECB yang menilai inflasi mulai menunjukkan tanda stabilisasi memberikan sinyal bahwa kebijakan suku bunga dapat dipertahankan lebih lama untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi. Di sisi lain, ketegangan perdagangan antara AS dan Tiongkok yang kembali meningkat turut memicu kekhawatiran perlambatan ekonomi global, membuat Dolar kehilangan sebagian daya tariknya sebagai aset lindung nilai. Kombinasi kebijakan The Fed yang lebih lunak dan persepsi stabilitas kebijakan fiskal di Eropa menjadi pendorong utama bagi penguatan Euro secara fundamental. Support terdekat berada di 1.1580, sementara resistance di 1.1630.

AUDUSD – Dolar Australia dibuka di 0.6485 dan menguat 0.43%. Dolar Australia menguat terhadap Dolar AS setelah rilis pernyataan dari pejabat Reserve Bank of Australia (RBA) yang menunjukkan keyakinan terhadap ketahanan ekonomi domestik. Asisten Gubernur RBA Sarah Hunter menyebut bahwa inflasi kemungkinan tetap tinggi untuk sementara waktu karena kuatnya belanja rumah tangga dan pasar tenaga kerja yang solid. Sikap ini menandakan bahwa RBA tidak tergesa-gesa memangkas suku bunga, sehingga memberi dukungan fundamental terhadap AUD. Sementara itu, data perdagangan Tiongkok yang menunjukkan peningkatan ekspor dan impor menambah sentimen positif, mengingat Tiongkok merupakan mitra dagang utama Australia. Faktor global turut memperkuat posisi AUD. Dolar AS melemah setelah The Fed menegaskan kesiapan untuk menyesuaikan kebijakan secara lebih akomodatif di tengah meningkatnya risiko ekonomi akibat ketidakpastian politik di Washington dan potensi shutdown pemerintahan AS. Ketegangan dagang antara AS dan Tiongkok juga menekan sentimen terhadap Dolar, sementara Australia diuntungkan oleh prospek stabilitas kebijakan moneter dan permintaan komoditas yang tetap kuat. Dari sisi fundamental, AUD didukung oleh kombinasi prospek ekonomi domestik yang solid dan melemahnya outlook kebijakan moneter AS. Support terdekat berada di 0.6460, sedangkan resistance di 0.6505.

NZDUSD – Kiwi dibuka di 0.5714 dan naik 0.23%. Dolar Selandia Baru turut menguat karena pelemahan Dolar AS yang dipicu oleh ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed. Investor menilai pandangan Powell yang lebih hati-hati sebagai sinyal bahwa The Fed siap menurunkan suku bunga untuk mengantisipasi perlambatan pertumbuhan. Kondisi ini menekan imbal hasil obligasi AS dan melemahkan Greenback secara luas. Sementara itu, Gubernur RBNZ Paul Conway menyampaikan bahwa kondisi ekonomi Selandia Baru tetap stabil meskipun tekanan inflasi mulai menurun. RBNZ menilai kebijakan suku bunga saat ini sudah cukup ketat untuk menyeimbangkan pertumbuhan dan inflasi, menandakan tidak ada urgensi untuk pelonggaran tambahan dalam waktu dekat. Selain itu, hubungan perdagangan dengan Tiongkok masih menjadi faktor penting bagi perekonomian Selandia Baru. Walau inflasi di Tiongkok masih lemah, langkah pemerintah Beijing dalam menjaga stabilitas permintaan domestik memberikan prospek positif bagi ekspor negara tersebut. Bersamaan dengan turunnya ekspektasi pasar terhadap kekuatan Dolar AS, kondisi fundamental ini memperkuat posisi NZD. Dengan kebijakan moneter yang relatif stabil dan prospek global yang cenderung mendukung aset berisiko, NZDUSD mendapat dukungan dari sisi fundamental dalam jangka pendek. Support terdekat berada di 0.5690, dan resistance di 0.5735.

USDJPY – Yen Jepang dibuka di 151.83, melemah -0.48% terhadap Dolar AS. Dolar AS melemah terhadap Yen Jepang karena meningkatnya kekhawatiran terkait ketegangan perdagangan antara AS dan Tiongkok. Pengenaan biaya tambahan di pelabuhan kedua negara menimbulkan kekhawatiran baru terhadap perlambatan arus perdagangan global, yang membuat investor beralih ke aset safe haven seperti Yen. Sentimen pasar semakin tertekan setelah Presiden AS Donald Trump menegaskan kembali rencananya untuk memberlakukan tarif 100% terhadap impor Tiongkok mulai 1 November, tergantung pada langkah balasan Beijing. Di sisi kebijakan moneter, pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell menambah tekanan terhadap Dolar, di mana ia mengakui bahwa perekonomian AS menghadapi risiko penurunan di pasar tenaga kerja, sementara inflasi tetap tinggi akibat dampak tarif dan ketidakpastian fiskal. Hal ini memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga lebih lanjut pada pertemuan mendatang, yang menurunkan daya tarik Dolar secara fundamental. Sementara itu, dari Jepang, ketidakpastian politik setelah keluarnya Partai Komeito dari koalisi pemerintahan semakin memperkuat sentimen kehati-hatian di pasar domestik. Namun, kondisi tersebut justru menambah permintaan terhadap Yen sebagai aset aman di tengah meningkatnya risiko global. Pernyataan dari penasihat ekonomi dekat Perdana Menteri Sanae Takaichi, Etsuro Honda, yang menyarankan agar Bank of Japan (BoJ) berhati-hati terhadap kenaikan suku bunga juga mempertegas bahwa kebijakan moneter Jepang akan tetap longgar. Kombinasi prospek pelonggaran The Fed dan meningkatnya permintaan aset safe haven menjadikan pelemahan USDJPY bersifat fundamental dan berpotensi berlanjut jika tensi geopolitik tidak mereda. Support terdekat berada di 151.50, dan resistance di 152.10.

USDCHF – Pasangan USDCHF dibuka di 0.8009 dan turun -0.19%. Dolar AS melemah terhadap Dolar Kanada seiring meningkatnya kekhawatiran pasar atas eskalasi perang dagang antara AS dan Tiongkok yang berpotensi menekan pertumbuhan global. Investor mengurangi eksposur terhadap Dolar setelah Presiden Trump kembali mengancam penerapan tarif impor 100% terhadap produk Tiongkok. Ketegangan ini diperburuk dengan langkah kedua negara yang saling mengenakan biaya tambahan untuk kapal dagang, yang mencerminkan meningkatnya tensi perdagangan bilateral. Di sisi lain, berlanjutnya penutupan sebagian pemerintahan AS (government shutdown) semakin menimbulkan kekhawatiran terhadap perlambatan aktivitas ekonomi domestik. Pernyataan Powell yang menekankan meningkatnya risiko di pasar tenaga kerja memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga lagi pada akhir Oktober, menekan imbal hasil obligasi AS dan melemahkan Dolar secara luas. Dari sisi Kanada, fundamental ekonomi menunjukkan ketahanan moderat. Data ketenagakerjaan terakhir mencatatkan kenaikan jumlah pekerjaan, sementara inflasi yang masih berada di kisaran target 2% Bank of Canada (BoC) membuat otoritas moneter tetap berhati-hati. Harga minyak yang stabil juga memberi dukungan tambahan bagi CAD, mengingat komoditas ini merupakan ekspor utama Kanada. Namun, BoC kemungkinan akan mempertahankan pendekatan “data dependent”, dengan pasar memperkirakan peluang sekitar 50% untuk pemangkasan suku bunga tambahan pada akhir bulan ini. Dengan kombinasi ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed, tekanan fiskal AS, serta kondisi ekonomi Kanada yang relatif lebih stabil, USDCAD cenderung melemah secara fundamental dalam waktu dekat. Support terdekat berada di 0.7985, dan resistance di 0.8035.

USDCAD – Dolar Kanada dibuka di 1.4041, melemah -0.07%. Dolar AS melemah terhadap Franc Swiss di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan lemahnya kepercayaan terhadap prospek ekonomi AS. Data harga produsen dan impor Swiss yang turun 0,2% pada September memperlihatkan tekanan deflasi yang berkepanjangan, namun justru memperkuat permintaan terhadap Franc sebagai aset safe haven. Situasi ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan AS–Tiongkok dan kekhawatiran terhadap dampak ekonomi dari penutupan pemerintahan AS yang telah berlangsung selama tiga minggu. Di sisi AS, pasar kini memperkirakan hampir 100% kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh The Fed pada pertemuan mendatang, setelah Powell menekankan bahwa risiko di pasar tenaga kerja kini lebih besar daripada tekanan inflasi. Faktor-faktor ini secara fundamental menekan Dolar terhadap mata uang defensif seperti CHF. Dari sisi Swiss, ekspektasi terhadap pelonggaran kebijakan Swiss National Bank (SNB) tetap terbuka, dengan proyeksi pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin ke -0.25% pada Desember jika apresiasi Franc terus menekan inflasi domestik. Namun, faktor eksternal  seperti meningkatnya risiko global dan lemahnya prospek ekonomi AS masih memberikan dukungan kuat bagi Franc. Dengan meningkatnya arus dana menuju aset aman serta ekspektasi pelonggaran The Fed yang semakin besar, USDCHF secara fundamental masih berpotensi melanjutkan pelemahannya, terutama jika tensi geopolitik dan ketidakpastian fiskal di AS terus berlanjut. Support terdekat berada di 1.4020, dan resistance di 1.4060.

DATA EKONOMI HARIAN

Jam

Pair

Data

Actual

Ekspektasi

Sebelumnya

12:00am

GBP

BOE Gov Bailey Speaks

-

-

-

2:25am

USD

FOMC Member Waller Speaks

-

-

-

2:30am

USD

FOMC Member Collins Speaks

-

-

-

6:30am

AUD

MI Leading Index m/m

0.0%

-

-0.1%

6:30am

AUD

RBA Assist Gov Hunter Speaks

-

-

-

8:30am

CNY

CPI y/y

-0.3%

-0.2%

-0.4%

8:30am

CNY

PPI y/y

-2.3%

-2.3%

-2.9%

11:30am

JPY

Revised Industrial Production m/m

-

-1.2%

-1.2%

1:45pm

EUR

French Final CPI m/m

-

-1.0%

-1.0%

3:00pm

GBP

MPC Member Ramsden Speaks

-

-

-

4:00pm

EUR

Industrial Production m/m

-

-1.6%

0.3%

Tentative

CNY

New Loans

-

1490B

590B

Tentative

CNY

M2 Money Supply y/y

-

8.5%

8.8%

Tentative

EUR

German 30-y Bond Auction

-

-

3.25|1.8

7:30pm

CAD

Manufacturing Sales m/m

-

-1.5%

2.5%

7:30pm

CAD

Wholesale Sales m/m

-

-1.3%

1.2%

7:30pm

USD

Empire State Manufacturing Index

-

-1.8

-8.7

8:30pm

USD

FOMC Member Miran Speaks

-

-

-

Day 3

All

IMF Meetings

-

-

-

10:00pm

GBP

MPC Member Breeden Speaks

-

-

-

10:45pm

GBP

MPC Member Breeden Speaks

-

-

-

11:30pm

USD

FOMC Member Miran Speaks

-

-

-

Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange

Forex Daily Newsletter

Licensed and supervised by
Member of
Certified by
© Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX)
Join Our Monthly Newsletter
Follow Us
Contact Us
Jl. M.H. Thamrin No.3 7th Floor, RT.11/RW.2, Gambir, Central Jakarta City, Jakarta 10110
+62 21 4050 7788