Home
>
News
>
Publication
>
NZDUSD Melemah di Tengah Menguatnya Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed
NZDUSD Melemah di Tengah Menguatnya Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed
Friday, 26 June 2026

 

Pembukaan

% Perubahan

EURUSD

1.1371

-0.06%

GBPUSD

1.3200

-0.03%

AUDUSD

0.6911

-0.17%

NZDUSD

0.5648

-0.07%

USDJPY

161.79

0.02%

USDCHF

0.8099

0.05%

USDCAD

1.4202

-0.05%

GOLDUD

4030.09

-0.20%

USD/IDR

17,937

0.00%

Fokus:

  1. Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed menguat setelah data inflasi PCE dan PDB AS yang solid.
  2. Sikap dovish RBNZ membatasi penguatan Dolar Selandia Baru (NZD).



NZDUSD
Jumat, 26 Juni 2026
- Pasangan mata uang ini bergerak melemah ke kisaran 0,5635 dan mencatatkan penurunan selama delapan sesi perdagangan berturut-turut. Pelemahan Dolar Selandia Baru dipicu oleh meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Di sisi lain, ekspektasi bahwa Federal Reserve masih berpeluang kembali menaikkan suku bunga turut memperkuat posisi Dolar AS sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap NZD.

Sentimen tersebut semakin didukung oleh data inflasi Amerika Serikat yang menunjukkan tekanan harga masih cukup tinggi. Indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) bulan Mei tercatat naik 4,1% secara tahunan, meningkat dari 3,3% pada periode sebelumnya dan jauh di atas target inflasi The Fed sebesar 2%. Sementara itu, Core PCE, yang menjadi indikator inflasi pilihan bank sentral AS, naik menjadi 3,4% dari 3,3%, sesuai dengan proyeksi pasar sekaligus menjadi level tertinggi sejak Oktober 2023.

Data ekonomi lainnya juga memperkuat prospek kebijakan moneter yang lebih ketat di Amerika Serikat. Produk Domestik Bruto (PDB) AS pada kuartal pertama tumbuh 2,1% secara tahunan, melampaui estimasi pasar maupun capaian sebelumnya sebesar 1,6%. Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar memperkirakan The Fed masih berpotensi menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali pada tahun ini, dengan probabilitas sekitar 63,4% untuk kenaikan pada pertemuan September berdasarkan CME FedWatch Tool.

Di sisi Selandia Baru, Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) masih mempertahankan Official Cash Rate (OCR) di level 2,25% pada pertemuan Mei. Meredanya tekanan di sektor energi dinilai memberi ruang bagi bank sentral untuk mengevaluasi perkembangan data ekonomi sebelum mengambil langkah lanjutan. Sejalan dengan itu, ASB Bank merevisi proyeksinya dengan tidak lagi memperkirakan kenaikan suku bunga pada Juli. RBNZ kini diperkirakan baru akan memulai siklus kenaikan suku bunga pada September secara bertahap sebesar 25 basis poin, dengan OCR diproyeksikan mencapai puncak di 3,25% pada awal 2027. Support NZDUSD berada di area 0,5615, sementara resistance di area 0,5660.

EURUSD - Pasangan mata uang ini bergerak melemah ke kisaran 1,1364 pada perdagangan sesi Asia dan masih bertahan di dekat level terendah dalam lebih dari satu tahun. Penguatan Dolar AS menjadi faktor utama yang menekan euro, seiring meningkatnya keyakinan pasar bahwa Federal Reserve masih memiliki ruang untuk kembali menaikkan suku bunga. Pelaku pasar juga mencermati rilis Indeks Sentimen Konsumen Michigan yang diperkirakan dapat memberikan petunjuk tambahan mengenai prospek ekonomi Amerika Serikat.

Dari sisi fundamental, inflasi AS kembali menunjukkan peningkatan dengan Indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) naik menjadi 4,1% secara tahunan pada Mei dari 3,3% pada bulan sebelumnya, sementara Core PCE meningkat menjadi 3,4%, level tertinggi sejak Oktober 2023. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa The Fed berpotensi menaikkan suku bunga pada pertemuan September. Di sisi lain, euro turut terbebani oleh sikap hati-hati Bank Sentral Eropa (ECB). Meskipun ECB telah menaikkan suku bunga deposito menjadi 2,25%, Presiden ECB Christine Lagarde menegaskan bahwa bank sentral belum melihat perlunya merespons secara agresif dampak konflik Timur Tengah karena tekanan inflasi jangka panjang dinilai masih terkendali. Support EURUSD berada di area 1,1330, sementara resistance di area 1,1400.

GBPUSD - Pasangan mata uang ini bergerak melemah di kisaran 1,3196, meskipun sempat mempertahankan penguatan dalam dua sesi sebelumnya. Pergerakan pasangan ini masih dibayangi dominasi Dolar AS, sementara pelaku pasar tetap berhati-hati setelah pound sempat menyentuh level terendah sejak November 2025 pada awal pekan. Fokus investor kini tertuju pada rilis revisi Indeks Sentimen Konsumen University of Michigan yang dapat memberikan petunjuk baru mengenai arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Di sisi fundamental, inflasi AS yang masih tinggi menjaga ekspektasi kebijakan The Fed tetap menjadi perhatian pasar. Meski kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran sempat menekan harga minyak dan melemahkan Dolar AS, laporan mengenai serangan terhadap kapal kargo di Selat Hormuz kembali mendorong kenaikan harga minyak sehingga meningkatkan permintaan aset safe haven, termasuk Dolar AS. Dari Inggris, ketidakpastian politik setelah pengunduran diri Perdana Menteri Keir Starmer juga menambah tekanan terhadap pound sterling dan membatasi peluang penguatan GBPUSD dalam jangka pendek. Support GBPUSD berada di area 1,3140, sementara resistance di area 1,3235.

AUDUSD - Pasangan mata uang ini bergerak melemah ke kisaran 0,6899 pada perdagangan sesi Asia. Penguatan Dolar AS masih menjadi faktor utama yang menekan Dolar Australia setelah pasar semakin yakin bahwa Federal Reserve berpotensi mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Investor kini menantikan rilis Indeks Sentimen Konsumen University of Michigan sebagai petunjuk tambahan mengenai kondisi ekonomi dan arah suku bunga di Amerika Serikat.

Tekanan terhadap AUD semakin diperkuat oleh data inflasi AS yang masih tinggi. Indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) tercatat meningkat menjadi 4,1% secara tahunan pada Mei dari 3,3% pada bulan sebelumnya, sementara Core PCE naik menjadi 3,4%, level tertinggi sejak Oktober 2023. Meski demikian, pelemahan Dolar Australia tertahan oleh data ketenagakerjaan domestik yang cukup solid. Tingkat pengangguran Australia turun menjadi 4,4% pada Mei dari 4,5% di bulan sebelumnya, sesuai ekspektasi pasar, sehingga memberikan dukungan terhadap prospek ekonomi Australia. Support AUDUSD berada di area 0,6870, sementara resistance di area 0,6935.

USDJPY - Pasangan mata uang ini diperdagangkan di kisaran 161,83 dan masih bertahan dekat level tertinggi dalam beberapa dekade setelah bergerak dalam pola konsolidasi. Meskipun data inflasi Tokyo menunjukkan percepatan pada Juni, penguatan Yen Jepang masih terbatas karena selisih suku bunga yang lebar antara Jepang dan Amerika Serikat terus mendorong aktivitas carry trade. Kondisi ini membuat USDJPY tetap berada dalam tren yang cenderung menguat untuk pekan kedua berturut-turut.

Indeks Harga Konsumen (CPI) Tokyo naik menjadi 1,7% secara tahunan dari 1,4%, sementara inflasi inti meningkat menjadi 1,6% dari 1,3%, memperkuat ekspektasi bahwa Bank of Japan masih berpeluang kembali menaikkan suku bunga. Namun, meningkatnya ketegangan geopolitik setelah laporan serangan terhadap kapal dagang di Selat Hormuz kembali mendorong permintaan terhadap Dolar AS sebagai aset safe haven. Di sisi lain, spekulasi mengenai kemungkinan intervensi pemerintah Jepang untuk menopang nilai tukar Yen membatasi kenaikan USDJPY, meskipun secara fundamental pasangan ini masih memiliki peluang melanjutkan tren naik. Support USDJPY berada di area 161,20, sementara resistance di area 162,30.

USDCHF - Pasangan mata uang ini bergerak menguat ke kisaran 0,8103 pada perdagangan sesi Asia, didorong oleh penguatan Dolar AS setelah data inflasi Amerika Serikat kembali menunjukkan tekanan harga yang masih tinggi. Kondisi tersebut memperkuat keyakinan pasar bahwa Federal Reserve masih berpeluang mempertahankan kebijakan moneter yang ketat, sehingga meningkatkan daya tarik mata uang AS. Pelaku pasar juga mencermati rilis Indeks Sentimen Konsumen University of Michigan yang diharapkan dapat memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai prospek ekonomi AS.

Dukungan terhadap Dolar AS semakin menguat setelah Indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) naik menjadi 4,1% secara tahunan pada Mei dari 3,3% pada bulan sebelumnya, sementara Core PCE meningkat menjadi 3,4%, level tertinggi sejak Oktober 2023. Data tersebut mendorong ekspektasi bahwa The Fed masih berpotensi menaikkan suku bunga pada pertemuan September. Di sisi lain, Franc Swiss relatif tertahan setelah pejabat Swiss National Bank (SNB) sebelumnya menyatakan bank sentral tetap siap melakukan intervensi di pasar valuta asing apabila diperlukan, sehingga turut memberikan ruang bagi penguatan pasangan USDCHF. Support USDCHF berada di area 0,8075, sementara resistance di area 0,8135.

USDCAD - Pasangan mata uang ini bergerak melemah ke kisaran 1,4195, melanjutkan penurunan untuk hari kedua berturut-turut. Pelemahan ini dipengaruhi oleh penguatan Dolar Kanada yang memperoleh dukungan dari kenaikan harga minyak mentah. Sebagai salah satu eksportir minyak terbesar di dunia, penguatan harga energi umumnya memberikan sentimen positif bagi mata uang Kanada. Kenaikan minyak dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah setelah adanya laporan serangan terhadap kapal kargo di sekitar Selat Hormuz yang kembali memunculkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Meski demikian, ruang pelemahan USDCAD masih relatif terbatas karena Dolar AS tetap ditopang oleh ekspektasi bahwa Federal Reserve masih berpeluang menaikkan suku bunga pada tahun ini. Harapan tersebut diperkuat oleh data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) yang naik menjadi 4,1% secara tahunan pada Mei dari 3,3% sebelumnya, sementara Core PCE meningkat menjadi 3,4%, level tertinggi sejak Oktober 2023. Data tersebut memperkuat pandangan bahwa tekanan inflasi di AS masih tinggi sehingga mendukung prospek kebijakan moneter yang tetap ketat. Support USDCAD berada di area 1,4165, sementara resistance di area 1,4235.



DATA EKONOMI HARIAN

Jam

Pair

Data

Actual

Ekspektasi

Sebelumnya

2:40am

US

Fed Williams Speech

 

 

 

6:30am

JP

Tokyo Core CPI YoY

1.6%

1.6%

1.3%

3:00pm

EUR

ECB Consumer Inflation Expectation

 

3.9%

4%

Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange

Forex Daily Newsletter

Licensed and supervised by
Member of
Certified by
© Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX)
Join Our Monthly Newsletter
Follow Us
Contact Us
Jl. M.H. Thamrin No.3 7th Floor, RT.11/RW.2, Gambir, Central Jakarta City, Jakarta 10110
+62 21 4050 7788