| Pembukaan | % Perubahan |
EURUSD | 1.04960 | 0.15% |
GBPUSD | 1.26210 | 0.40% |
AUDUSD | 0.63560 | 0.31% |
NZDUSD | 0.57350 | 0.35% |
USDJPY | 149.160 | -0.21% |
USDCHF | 0.89840 | -0.26% |
USDCAD | 1.42140 | -0.13% |
GOLDUD | 2,939.780 | -0.62% |
COFU | 69.80 | 0.64% |
USD/IDR | 16,299 | -0.02% |
Senin, 24 Februari 2025 - Mengawali pembukaan pekan pagi ini, harga minyak terpantau bergerak terkoreksi menguat didukung oleh sentimen dari rencana penerapan sanksi terbesar dari Inggris terhadap Rusia, kembali memanasnya perang Ukraina, dan meredupnya kelanjutan kesepakatan damai Gaza.
Inggris akan mengumumkan paket sanksi terbaru terhadap Rusia pada hari Senin, menandai tiga tahun sejak invasi ke Ukraina, kata Menteri Luar Negeri Inggris David Lammy pada hari Minggu. Lammy menyebutkan bahwa sanksi ini merupakan yang terbesar yang pernah dikeluarkan oleh Inggris sejak dimulainya perang Ukraina.
Turut mendukung harga, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy pada hari Minggu mengatakan bahwa Rusia telah meluncurkan lebih dari 200 pesawat drone dalam serangan semalam, yang menjadi serangan terbesar yang dilancarkan Rusia dalam perang Ukraina. Berita tersebut meredupkan harapan akan tercapainya kesepakatan gencatan senjata di wilayah Eropa timur tersebut, yang dalam beberapa waktu terakhir sempat menguat dengan adanya dorongan dari AS.
Dari Timur Tengah, kelanjutan kesepakatan damai Gaza semakin diragukan pasca kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada hari Minggu mengatakan bahwa Israel akan menunda untuk membebaskan 620 tahanan Palestina hingga ada kepastian dari Hamas terkait pembebasan sandera berikutnya. Keputusan penundaan tersebut mendapat dukungan penuh dari AS. Sebagai tanggapan, pejabat Hamas Basem Naim pada hari Minggu menegaskan bahwa langkah lebih lanjut dalam perjanjian gencatan senjata akan bergantung pada pembebasan sandera sesuai yang telah disepakati.
Sementara itu, Menteri Perminyakan Irak pada hari Senin mengatakan bahwa ekspor minyak dari wilayah semi-otonom Kurdistan akan dilanjutkan kembali minggu depan. Dimulainya kembali ekspor minyak dari wilayah tersebut berpotensi menutupi penurunan output dari Iran yang rencananya akan dikenakan sanksi oleh AS hingga ekspornya hingga nol sebagai bagian dari kampanye tekanan maksimum Trump terhadap Iran.
Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level $73 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level $68 per barel.
Jam | Data | Aktual | Ekspektasi | Sebelumnya |
20:30 | USA - Chicago Fed National Activity Index |
| 0.21 | 0.15 |
22:30 | USA - Dallas Fed Manufacturing Index |
| 18 | 14.1 |