| Pembukaan | % Perubahan |
EURUSD | 1.1549 | 0.41% |
GBPUSD | 1.3253 | 0.30% |
AUDUSD | 0.6467 | 0.25% |
NZDUSD | 0.5902 | 0.32% |
USDJPY | 147.90 | -0.57% |
USDCHF | 0.8068 | -0.61% |
USDCAD | 1.3795 | -0.20% |
GOLDUD | 3,345.00 | 0.59% |
COFU | 66.85 | 0.42% |
USD/IDR | 16,454 | 0.22% |
Senin, 04 Agustus 2025 - Mengawali pembukaan pekan pagi ini harga minyak terpantau bergerak terkoreksi menguat didukung oleh penegasan India untuk tetap mengimpor minyak Rusia, dan eskalasi serangan antara Rusia dengan Ukraina. Meski demikian, pergerakan harga dibatasi oleh potensi peningkatan pasokan dari OPEC+.
India akan terus membeli minyak dari Rusia meskipun Presiden AS Donald Trump mengancam akan memberikan sanksi tambahan, ungkap dua sumber pemerintah India pada hari Sabtu. Trump pada bulan lalu mengancam akan mengenakan tarif 100% atas impor AS dari negara-negara yang membeli minyak Rusia. India merupakan konsumen dan importir minyak terbesar ketiga dunia yang mengandalkan sekitar 35-40 persen pasokan minyaknya dari Rusia.
Dukungan lainnya datang dari serangan sebuah pesawat drone Ukraina yang telah menyebabkan dua tangki minyak terbakar di sebuah depot minyak di Sochi, Rusia selatan, tetapi api kemudian dapat dipadamkan, kata pihak berwenang setempat pada hari Minggu. Di hari yang sama, gubernur wilayah Voronezh di Rusia selatan juga mengatakan empat orang terluka dalam serangan drone yang dilancarkan Ukraina dan menyebabkan beberapa kebakaran, sementara Rusia melancarkan serangan rudal balasan ke Kyiv, menurut administrasi militer Ukraina.
Sementara itu, delapan anggota utama OPEC+ pada hari Minggu sepakat untuk meningkatkan produksi minyak sebesar 548.000 bph untuk bulan September, sama dengan target produksi yang disepakati untuk bulan Agustus. Langkah tersebut juga menandai peningkatan terbaru kelompok aliansi produsen itu dalam serangkaian percepatan peningkatan produksi yang dimulai sejak bulan April. Delapan anggota yang dikenal dengan "Voluntary Eight (V8)" itu terdiri dari Arab Saudi, Rusia, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman.
Turut membebani harga, perusahaan-perusahaan minyak independen China berencana meningkatkan operasional di Irak dengan tujuan meningkatkan produksi mereka di sana menjadi 500.000 bph pada sekitar tahun 2030, ungkap para eksekutif di empat perusahaan tersebut. Irak sebagai produsen minyak terbesar kedua OPEC menargetkan untuk meningkatkan produksi lebih dari setengahnya menjadi lebih dari 6 juta bph pada tahun 2029.
Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level $70 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level $65 per barel.
Jam | Data | Aktual | Ekspektasi | Sebelumnya |
21:00 | USA - Factory Orders MoM |
| -5.2% | 8.2% |