| Pembukaan | % Perubahan |
EURUSD | 1.1663 | 0.03% |
GBPUSD | 1.3429 | 0.05% |
AUDUSD | 0.6483 | 0.48% |
NZDUSD | 0.5724 | 0.33% |
USDJPY | 150.61 | -0.19% |
USDCHF | 0.7930 | -0.25% |
USDCAD | 1.4013 | -0.04% |
GOLDUD | 4,267.07 | 0.05% |
COFU | 57.32 | -0.66% |
USD/IDR | 16,575 | 0.06% |
Senin, 20 Oktober 2025 - Mengawali pembukaan pekan pagi ini, harga minyak terpantau bergerak lesu terbebani oleh sentimen pasca rilisnya data suram pertumbuhan ekonomi terbaru di China. Selain itu, ancaman tarif masif Trump terhadap India, dan dilanjutkannya kembali gencatan senjata di Gaza turut menjadi katalis yang menekan pergerakan harga lebih lanjut.
Ekonomi China tumbuh 4,8% pada kuartal ketiga dibandingkan tahun sebelumnya, dan melambat dari laju 5,2% pada kuartal kedua, ungkap data resmi yang dirilis Biro Statistik Nasional pada hari Senin. Data tersebut mengindikasikan tekanan di ekonomi terbesar kedua di dunia ini membuatnya terus kehilangan momentum setelah pertumbuhan yang kuat di awal tahun. Lebih lanjut, eskalasi sinyal perang dagang dengan AS juga berpotensi ikut membebani permintaan energi di negara importir minyak terbesar pertama dunia itu.
Turut membebani harga, Presiden AS Donald Trump pada hari Minggu kembali menegaskan akan terus mempertahankan tarif masif terhadap India, menyusul komentar dari Kementerian Luar Negeri India yang mengatakan tidak mengetahui adanya kesepakatan antara Trump dengan Perdana Menteri India Narendra Modi bahwa India akan berhenti membeli minyak Rusia. Kilang-kilang minyak India telah memesan untuk pemuatan November, termasuk beberapa yang dijadwalkan tiba pada bulan Desember, sehingga setiap pemotongan mungkin mulai terlihat pada angka impor Desember atau Januari, kata sumber-sumber di India.
Dari Timur Tengah, militer Israel pada hari Minggu mengatakan bahwa gencatan senjata dan bantuan ke Gaza telah kembali dilanjutkan, meskipun sempat terjadi serangan yang menewaskan dua tentara Israel dan memicu serangan udara yang menurut Palestina menewaskan 26 orang. Trump menegaskan bahwa kesepakatan damai masih berlaku, dan ia meyakini bahwa Hamas mungkin tidak terlibat dalam pelanggaran gencatan senjata tersebut.
Sementara itu, fasilitas pabrik pengolahan gas terbesar di dunia, Orenburg, memutuskan untuk menangguhkan pasokan gasnya dari Kazakhstan setelah serangan pesawat drone Ukraina, ungkap sumber dari Kementerian Energi Kazakhstan pada hari Minggu. Fasilitas yang dioperasikan oleh Gazprom tersebut belum memberikan detail mengenai tingkat kerusakan atau jadwal pemulihan operasi secara penuh, tambah sumber.
Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level $59 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level $54 per barel.
Jam | Data | Aktual | Ekspektasi | Sebelumnya |
21:00 | USA - CB Leading Index MoM |
| 0.1% | -0.5% |