Home
>
News
>
Publication
>
Melambatnya Perekonomian Global Turut Redupkan Laju Minyak
Melambatnya Perekonomian Global Turut Redupkan Laju Minyak
Friday, 10 January 2025

Indikator Harga

 

Pembukaan

% Perubahan

EURUSD

1.03150

-0.21%

GBPUSD

1.23580

-2.57%

AUDUSD

0.62130

-0.32%

NZDUSD

0.56070

-0.25%

USDJPY

157.980

0.16%

USDCHF

0.91120

0.12%

USDCAD

1.43880

0.09%

GOLDUD

2,664.300

0.11%

COFU

74.29

-0.24%

USD/IDR

16,254

-0.36%

Fokus Crude Oil:

  • Pertumbuhan ekonomi dunia diproyeksikan akan tetap pada 2,8% pada tahun 2025, ungkap laporan terbaru PBB.
  • Permintaan minyak global berpotensi meningkat sebesar 1,6 juta bph pada kuartal pertama tahun 2025, kata JPMorgan.

***********************************************************

Jumat, 10 Januari 2025 - Pada penutupan pekan pagi ini harga minyak terpantau bergerak terkoreksi melemah dibebani oleh proyeksi melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia dan potensi peningkatan pasokan AS. Meski demikian, harapan lonjakan permintaan dalam jangka pendek dan penurunan produksi Rusia membatasi penurunan lebih lanjut.

Pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan akan tetap berada pada 2,8% pada tahun 2025, tidak berubah dari tahun 2024, tertahan oleh pemulihan dua ekonomi utama, AS dan China, menurut Laporan Situasi dan Prospek Ekonomi Dunia yang dirilis oleh PBB pada hari Kamis. Untuk pertumbuhan ekonomi di AS diproyeksikan akan turun menjadi 1,9% pada tahun 2025 dari 2,8% pada tahun lalu. Sedangkan di China diproyeksikan akan turun tipis menjadi 4,8% pada tahun ini, dari 4,9% pada tahun 2024.

Turut membebani pergerakan harga, perusahaan produsen minyak utama dunia, Shell, telah memulai produksi di fasilitas minyak lepas pantai, Whale, yang berlokasi di Teluk Meksiko, ungkap pernyataan dari Shell pada hari Kamis. Proyek Whale yang dioperasikan bersama oleh Shell dan Chevron itu diharapkan akan mencapai produksi puncak sekitar 100.000 barel setara minyak per hari. Berita tersebut memicu ekspektasi akan tambahan pasokan minyak AS di masa mendatang, terutama di bawah kepemimpinan Presiden Trump yang menyatakan dukungannya untuk mengembangkan sektor energi AS.

Sementara itu, permintaan minyak global diperkirakan berpotensi meningkat secara signifikan secara yoy sebesar 1,6 juta bph pada kuartal pertama tahun 2025, didorong oleh meningkatnya kekhawatiran atas gangguan pasokan akibat pengetatan sanksi terhadap Rusia, efek cuaca dingin ekstrem di banyak wilayah AS dan Eropa, serta membaiknya sentimen terkait langkah-langkah stimulus China, kata JPMorgan dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat.

Sentimen positif lainnya, Rusia mengurangi jumlah sumur minyak baru hingga 12,3% sepanjang 11 bulan pertama tahun 2024, yang diakibatkan oleh meningkatnya biaya, pelemahan harga minyak, dan komitmen akan kesepakatan kuota OPEC+, ungkap media surat kabar Kommersant pada hari Kamis. Diperkirakan output Rusia akan mencapai 518 juta-521 juta metrik ton (10,36 juta-10,42 juta bph) kondensat minyak dan gas pada tahun 2024, atau turun dari 529,6 juta ton pada tahun 2023, tambah Kommersant.

Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level $76 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level $72 per barel.

DATA EKONOMI HARIAN

Jam

Data

Aktual

Ekspektasi

Sebelumnya

20:30

USA - Unemployment Rate

 

4.2%

4.2%

20:30

USA - Non Farm Payrolls

 

160K

227K

20:30

USA - Manufacturing Payrolls

 

5K

22K

22:00

USA - Michigan Consumer Sentiment Prel

 

73.8

74.0

Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange

Crude Oil Daily Newsletter

Licensed and supervised by
Member of
Certified by
© Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX)
Join Our Monthly Newsletter
Follow Us
Contact Us
Jl. M.H. Thamrin No.3 7th Floor, RT.11/RW.2, Gambir, Central Jakarta City, Jakarta 10110
+62 21 4050 7788