| Pembukaan | % Perubahan |
EURUSD | 1.1683 | 0.13% |
GBPUSD | 1.3488 | 0.23% |
AUDUSD | 0.6534 | 0.21% |
NZDUSD | 0.5885 | 0.36% |
USDJPY | 147.04 | -0.07% |
USDCHF | 0.8011 | -0.09% |
USDCAD | 1.3744 | -0.12% |
GOLDUD | 3,445.40 | 0.46% |
COFU | 63.95 | -0.39% |
USD/IDR | 16,456 | 0.00% |
Senin, 01 September 2025 - Di tengah berlangsungnya libur pasar AS, harga minyak pagi ini terpantau bergerak bearish tertekan oleh sentimen dari rilisnya data ekonomi terbaru China yang lesu, dan produksi AS yang mencapai rekor tertinggi. Meski demikian, sinyal eskalasi lebih lanjut antara Rusia dengan Ukraina, dan gangguan ekspor di Sudan membatasi penurunan harga lebih lanjut.
Aktivitas manufaktur China menyusut selama lima bulan berturut-turut di bulan Agustus dipicu oleh ketidakpastian arah kesepakatan perdagangan dengan AS dan permintaan domestik yang masih lesu. PMI manufaktur di negara importir minyak terbesar pertama dunia itu mencapai angka 49,4 pada bulan Agustus, naik dibanding 49,3 pada bulan Juli, namun tetap di bawah angka 50 yang memisahkan pertumbuhan dari kontraksi, ungkap survei yang dirilis pada hari Minggu oleh Biro Statistik Nasional (NBS).
Turut membebani harga, produksi minyak mentah AS mencapai rekor tertinggi pada bulan Juni, naik 133.000 bph menjadi 13,58 juta bph, ungkap EIA dalam Laporan Pasokan Minyak Bulanan yang dirilis pada akhir pekan lalu. Kenaikan output AS tersebut berpotensi memicu pasokan berlebih di tengah kebijakan peningkatan produksi yang dilakukan oleh aliansi OPEC+.
Sementara itu, harapan tercapainya kesepakatan damai yang mengakhiri perang Ukraina memudar setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy pada hari Minggu berjanji akan membalas dengan memerintahkan serangan lebih lanjut di wilayah Rusia pasca serangan drone Rusia terhadap fasilitas kelistrikan di Ukraina utara dan selatan. Rusia dan Ukraina telah mengintensifkan serangan udara dalam beberapa pekan terakhir, menargetkan infrastruktur energi dan mengganggu ekspor minyak Rusia.
Dukungan lainnya datang dari keputusan Kementerian Energi dan Perminyakan Sudan yang memerintahkan penutupan darurat fasilitas minyak di wilayah Heglig, dekat perbatasan dengan Sudan Selatan, menyusul serangan pesawat drone pada Sabtu dini hari. Fasilitas Heglig merupakan pusat transit utama minyak yang dipompa dari Sudan Selatan untuk kemudian diekspor melalui Pelabuhan Sudan di Laut Merah. Penghentian ini juga berpotensi memengaruhi ekspor minyak dari Sudan Selatan yang saat ini mencapai sekitar 110.000 barel minyak per hari.
Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level $66 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level $61 per barel.
Jam | Data | Aktual | Ekspektasi | Sebelumnya |
24hr | USA - Labor Day holiday |
|
|
|