| Pembukaan | % Perubahan |
EURUSD | 1.03940 | 0.07% |
GBPUSD | 1.24970 | 0.10% |
AUDUSD | 0.62790 | 0.14% |
NZDUSD | 0.56780 | 0.23% |
USDJPY | 152.580 | -0.44% |
USDCHF | 0.90160 | -0.10% |
USDCAD | 1.43270 | -0.15% |
GOLDUD | 2,863.760 | 0.25% |
COFU | 71.18 | 0.15% |
USD/IDR | 16,279 | 0.15% |
Kamis, 06 Februari 2025 - Harga minyak pagi ini terpantau mengalami terkoreksi menguat tipis didukung oleh sentimen dari desakan solidaritas dari Iran terhadap semua anggota OPEC+ dan hasil survei terbaru produksi minyak aliansi produsen itu. Meski demikian, laporan EIA dan kekhawatiran akan ancaman inflasi yang dipicu oleh tarif Trump membatasi kenaikan harga lebih lanjut.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada hari Rabu mendesak anggota OPEC untuk bersatu melawan kemungkinan sanksi AS terhadap produsen minyak utama, setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan ia akan berusaha untuk menekan ekspor minyak Teheran ke nol. Saat ini Iran mengekspor sekitar 1,5 juta bph atau setara sekitar 1,4% dari total pasokan global. Komentar Pezeshkian tersebut dilontarkan setelah pertemuan dengan Sekretaris Jenderal OPEC Haitham Al Ghais. Di hari yang sama, Menteri perminyakan Iran Mohsen Paknejad mengatakan kepada Al Ghais bahwa penerapan sanksi sepihak terhadap produsen minyak mentah akan mengganggu stabilitas pasar energi global.
Dukungan juga datang dari hasil survei terbaru Reuters yang dirilis hari Rabu yang menunjukkan produksi minyak OPEC bulan Januari mencapai 26,53 juta bph, atau turun sebesar 50.000 bph dari total revisi bulan Desember, dengan penurunan terbesar tercatat dari Nigeria dan Iran. Penurunan tersebut sejalan dengan komitmen kelompok aliansi yang masih mempertahankan pemangkasan produksi hingga akhir Maret.
Sementara itu, dalam laporan yang dirilis Rabu malam, badan statistik EIA melaporkan stok minyak mentah melonjak naik sebesar 8,66 juta barel untuk pekan yang berakhir 31 Januari, melebihi ekspektasi yang memperkirakan stok akan naik sebesar 2,6 juta barel. Untuk stok bensin dilaporkan naik sebesar 2,23 juta barel, melebihi prediksi awal yang memperkirakan kenaikan sebesar 1,2 juta barel. Laporan EIA tersebut mengindikasikan permintaan yang lesu di pasar energi AS.
Turut membebani pergerakan harga, sebanyak 51% dari 4.233 pedagang melihat bahwa perang tarif yang dilancarkan oleh Trump berpotensi menyebabkan volatilitas pasar, yang berdampak pada mata uang, ungkap survei tahunan klien perdagangan institusional oleh JPMorgan Chase pada hari Rabu.
Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level $74 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level $69 per barel.
Jam | Data | Aktual | Ekspektasi | Sebelumnya |
20:30 | USA - Initial Jobless Claims |
| 213K | 207K |
20:30 | USA - Continuing Jobless Claims |
| 1870K | 1858K |