Home
>
News
>
Publication
>
Harga Minyak Tertekan ke 63 Dolar, Sentimen Oversupply Kembali Dominan
Harga Minyak Tertekan ke 63 Dolar, Sentimen Oversupply Kembali Dominan
Tuesday, 30 September 2025

Indikator Harga

 

Pembukaan

% Perubahan

EURUSD

1.1726

0.05%

GBPUSD

1.3426

0.08%

AUDUSD

0.6576

0.18%

NZDUSD

0.5776

0.17%

USDJPY

148.53

-0.02%

USDCHF

0.7972

-0.18%

USDCAD

1.3912

-0.04%

COFU

63.04

-0.65%

GOLDUD

3832.57

0.48%

USD/IDR

16675

0.00%

Fokus Crude Oil:

  1. Kekhawatiran pasar terhadap potensi kenaikan produksi OPEC+
  2. Kesepakatan Irak dan Kurdistan untuk menambah pasokan sekitar 180 ribu hingga 190 ribu barel

Selasa, 30 September 2025 - Harga minyak mentah mengalami pelemahan setelah sempat menyentuh level tertinggi tujuh minggu di sekitar 66 dolar per barel pada akhir pekan lalu. Sentimen negatif muncul seiring ekspektasi bahwa kelompok produsen OPEC dan sekutunya akan kembali meningkatkan produksi pada pertemuan yang dijadwalkan pada awal Oktober. Rencana kenaikan produksi ini diperkirakan menambah pasokan global di tengah perlambatan permintaan akibat tensi perdagangan Amerika Serikat, sehingga menciptakan kekhawatiran oversupply yang membebani harga minyak.

Selain faktor OPEC+, tambahan tekanan datang dari kesepakatan antara pemerintah federal Irak dan pemerintah regional Kurdistan untuk menyalurkan sekitar seratus delapan puluh ribu hingga seratus sembilan puluh ribu barel per hari ke pasar global melalui pelabuhan Ceyhan di Turki. Penambahan pasokan ini terjadi pada saat pasar minyak masih berjuang menyeimbangkan permintaan yang lemah, sehingga memicu tekanan jual lebih lanjut. Kondisi ini menegaskan bahwa meski ada dukungan sementara dari pelemahan dolar Amerika Serikat, faktor fundamental suplai tetap mendominasi arah pergerakan minyak.

Dari sisi perusahaan energi, Imperial Oil yang merupakan unit dari Exxon Mobil di Kanada, mengumumkan langkah restrukturisasi besar dengan memangkas sekitar sembilan ratus posisi dan mencatat biaya restrukturisasi sebesar tiga ratus tiga puluh juta dolar Kanada. Langkah efisiensi ini mencerminkan upaya produsen untuk bertahan di tengah ketidakpastian harga minyak global. Brent crude sendiri telah turun hampir sepuluh persen sepanjang tahun ini, dengan prospek pasar yang semakin menantang akibat potensi oversupply. Situasi tersebut memperkuat pandangan bahwa harga minyak mentah masih rentan melemah dalam jangka pendek meski sempat mendapat dorongan dari faktor teknis dan pelemahan dolar Amerika Serikat.

Secara teknikal, Support terdekat berada di area 62.80 hingga 62.50, yang menjadi zona awal penahan apabila tekanan jual berlanjut. Jika menembus ke bawah, support berikutnya dapat dilihat di 61.90 hingga 61.50, dengan titik psikologis penting di sekitar 61.00. Resistance terdekat saat ini berada di kisaran 63.70 hingga 64.20. Apabila harga mampu menembus level tersebut, maka target kenaikan berikutnya mengarah ke area 65.00 hingga 65.40. Untuk jangka menengah, resistance yang lebih kuat berada di sekitar 66.00 hingga 66.20 yang sebelumnya menjadi level tertinggi tujuh minggu.

DATA EKONOMI HARIAN

Jam

Pair

Data

Actual

Ekspektasi

Sebelumnya

5:00pm

USD

FOMC Member Jefferson Speaks

-

-

-

8:00pm

USD

FOMC Member Collins Speaks

-

-

-

8:00pm

USD

HPI m/m

-

-0.2%

-0.2%

8:00pm

USD

S&P/CS Composite-20 HPI y/y

-

1.7%

2.1%

8:45pm

USD

Chicago PMI

-

43.4

41.5

9:00pm

USD

JOLTS Job Openings

-

7.19M

7.18M

9:00pm

USD

CB Consumer Confidence

-

96

97.4

10:30pm

GBP

MPC Member Breeden Speaks

-

-

-

Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange

Crude Oil Daily Newsletter

Licensed and supervised by
Member of
Certified by
© Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX)
Join Our Monthly Newsletter
Follow Us
Contact Us
Jl. M.H. Thamrin No.3 7th Floor, RT.11/RW.2, Gambir, Central Jakarta City, Jakarta 10110
+62 21 4050 7788