Pembukaan | % Perubahan | |
EURUSD | 1.1629 | 0.02% |
GBPUSD | 1.3467 | 0.02% |
AUDUSD | 0.7180 | -0.03% |
NZDUSD | 0.5930 | 0.03% |
USDJPY | 159.88 | -0.02% |
USDCHF | 0.7875 | 0.01% |
USDCAD | 1.3838 | -0.01% |
GOLDUD | 4483.38 | -0.23% |
USD/IDR | 17,858 | 0.00% |
Fokus:
GBPUS
Rabu, 03 Juni 2026 - Pasangan mata uang ini bergerak relatif stabil di sekitar level 1,3471. Pergerakan poundsterling cenderung tertahan oleh kekuatan dolar AS yang masih didukung meningkatnya permintaan aset safe haven. Sentimen pasar global masih dibayangi ketidakpastian geopolitik setelah upaya diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran mengalami hambatan, sementara konflik di kawasan Timur Tengah kembali memanas.
Ketegangan meningkat setelah Iran meluncurkan serangan rudal balistik ke arah Kuwait dan Bahrain. Militer Amerika Serikat melalui Komando Pusat (CENTCOM) menyatakan telah berhasil menggagalkan sejumlah serangan rudal dan drone yang ditujukan ke negara-negara di kawasan tersebut, sekaligus melakukan operasi militer defensif di Pulau Qeshm, Iran. Perkembangan ini memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas kawasan dan memperbesar risiko gangguan terhadap jalur distribusi energi global.
Ancaman penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan turut meningkatkan kekhawatiran terhadap lonjakan harga energi dan tekanan inflasi global. Kondisi tersebut memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama dari yang sebelumnya diperkirakan. Ekspektasi tersebut mendapat dukungan dari data ekonomi Amerika Serikat yang masih solid, termasuk ISM Manufacturing PMI yang naik menjadi 54 pada Mei, tertinggi sejak pertengahan 2022, serta data JOLTS yang menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan meningkat ke level tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir.
Di sisi lain, poundsterling memperoleh dukungan dari sikap Bank of England (BoE) yang tetap fokus pada pengendalian inflasi. Anggota Monetary Policy Committee (MPC), Megan Greene, menegaskan bahwa terdapat alasan yang semakin kuat untuk mempertimbangkan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut apabila tekanan harga tidak mereda. Pernyataan tersebut sejalan dengan pandangan Gubernur BoE Andrew Bailey yang menekankan pentingnya menjaga kepercayaan publik terhadap komitmen bank sentral dalam mengembalikan inflasi ke target 2%. Pelaku pasar kini menantikan rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat pada Jumat yang diperkirakan menjadi penentu arah pergerakan pasar selanjutnya. Support GBPUSD diperkirakan bergerak di area 1,3430, sementara resistance di area 1,3510.
EURUSD - Pasangan mata uang ini menguat tipis ke level 1,1631 pada perdagangan hari Rabu setelah berhasil mempertahankan posisi di atas area 1,16. Pergerakan euro cenderung stabil di tengah sentimen pasar yang masih beragam, di mana optimisme terhadap sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI) mendorong minat terhadap aset berisiko, sementara ketegangan geopolitik di Timur Tengah tetap menjaga permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven. Kenaikan harga energi akibat ketidakpastian hubungan antara Amerika Serikat dan Iran juga turut memberikan dukungan bagi dolar AS, sehingga membatasi ruang penguatan euro.
Di sisi fundamental, data ekonomi Amerika Serikat yang masih solid menjadi faktor penahan kenaikan EURUSD. Data JOLTS menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan pada April meningkat signifikan menjadi 7,618 juta, jauh di atas ekspektasi pasar, sementara sejumlah pejabat Federal Reserve menilai kondisi pasar tenaga kerja masih kuat meskipun risiko inflasi tetap perlu diwaspadai. Dari kawasan Eropa, inflasi tahunan Uni Eropa tercatat naik 3,2% pada Mei, didorong oleh tingginya harga energi dan jasa. Beberapa pejabat Bank Sentral Eropa (ECB) juga mempertahankan pandangan bahwa kebijakan moneter yang ketat masih diperlukan untuk menjaga stabilitas inflasi. Pelaku pasar kini menantikan rilis Beige Book dan ISM Services PMI AS, serta sejumlah data ekonomi Eropa yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan EURUSD selanjutnya. Support EURUSD diperkirakan bergerak di area 1,1600, sementara resistance di area 1,1670.
AUDUSD - Pasangan mata uang ini bergerak melemah ke sekitar level 0,7178 pada perdagangan hari Rabu setelah data pertumbuhan ekonomi Australia dirilis di bawah ekspektasi pasar. Data dari Australian Bureau of Statistics (ABS) menunjukkan ekonomi Australia hanya tumbuh 0,3% secara kuartalan pada kuartal pertama 2026, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 0,8% pada kuartal sebelumnya dan di bawah perkiraan pasar sebesar 0,5%. Sementara itu, pertumbuhan tahunan tercatat sebesar 2,5%, sedikit melambat dari 2,6% pada kuartal sebelumnya dan juga berada di bawah proyeksi pasar. Data yang lebih lemah tersebut meningkatkan spekulasi bahwa Reserve Bank of Australia (RBA) dapat mengadopsi kebijakan yang lebih dovish, sehingga memberikan tekanan terhadap dolar Australia.
Di sisi eksternal, sentimen terhadap AUD masih mendapat dukungan dari membaiknya aktivitas sektor jasa China, yang tercermin dari kenaikan indeks PMI Jasa menjadi 54,4 pada Mei dari 52,6 pada periode sebelumnya. Namun, penguatan tersebut tertahan oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang mendorong permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS. Ketegangan meningkat setelah militer Amerika Serikat melaporkan keberhasilan menggagalkan serangkaian serangan rudal dan drone Iran terhadap beberapa negara di kawasan Teluk serta melakukan serangan balasan ke wilayah Iran. Pelaku pasar juga menantikan rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat pada Jumat yang dapat memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan Federal Reserve. Support AUDUSD diperkirakan bergerak di area 0,7150, sementara resistance di area 0,7210.
NZDUSD - Pasangan mata uang ini menguat ke area 0,5932 pada perdagangan sesi Asia hari Rabu setelah mendapat dukungan dari data ekonomi China yang lebih baik dari perkiraan. Indeks PMI Jasa China naik menjadi 54,4 pada Mei dari 52,6 pada bulan sebelumnya, melampaui ekspektasi pasar sebesar 52,3 dan mencatat laju ekspansi tercepat dalam tiga bulan terakhir. Data tersebut memberikan sentimen positif bagi dolar Selandia Baru mengingat kuatnya hubungan perdagangan antara Selandia Baru dan China. Selain itu, penguatan NZD juga didukung oleh sikap Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) yang semakin hawkish, dengan sinyal kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Juli mendatang serta proyeksi Official Cash Rate (OCR) yang dapat mencapai sekitar 2,85% pada akhir tahun.
Meski demikian, potensi penguatan NZDUSD masih dibatasi oleh tingginya ketidakpastian geopolitik global. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran terus menjadi perhatian pasar setelah Washington mempertahankan sanksi dan blokade terhadap Iran hingga proses negosiasi mencapai kepastian. Kondisi tersebut menjaga permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven dan berpotensi membatasi kenaikan lebih lanjut pada dolar Selandia Baru. Pelaku pasar kini menantikan rilis data ADP Employment Change dan ISM Services PMI Amerika Serikat sebagai petunjuk tambahan mengenai kondisi ekonomi AS dan arah kebijakan Federal Reserve. Support NZDUSD diperkirakan bergerak di area 0,5910, sementara resistance di area 0,5960.
USDJPY - Pasangan mata uang inibergerak di area 159.85, dengan pergerakan mendekati area psikologis 160,00. Meskipun sempat menghadapi hambatan untuk melanjutkan kenaikan di atas level tersebut, sentimen pasar secara keseluruhan masih mendukung penguatan dolar AS terhadap yen Jepang. Dukungan terhadap yen datang dari pernyataan Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, yang menegaskan kesiapan pemerintah untuk melakukan intervensi di pasar valuta asing apabila diperlukan. Namun, pernyataan tersebut belum mampu memberikan dampak signifikan karena pelaku pasar masih mengkhawatirkan dampak konflik Timur Tengah terhadap perekonomian Jepang dan kelancaran pasokan energi melalui Selat Hormuz.
Di sisi lain, dolar AS tetap mendapat dukungan dari meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan ekspektasi kebijakan moneter yang cenderung ketat. Data terbaru menunjukkan aktivitas sektor jasa Jepang melambat tajam pada Mei, dengan indeks PMI Jasa turun ke level 50,0 dari 51,0 pada bulan sebelumnya, menandakan pertumbuhan ekonomi yang mulai kehilangan momentum. Sementara itu, konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran masih menjadi perhatian pasar setelah terjadinya serangkaian serangan dan aksi militer di kawasan Timur Tengah. Kondisi tersebut mendorong permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven, ditambah ekspektasi bahwa Federal Reserve masih berpeluang mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Pelaku pasar kini menantikan rilis data ADP Employment Change dan ISM Services PMI AS sebagai petunjuk tambahan mengenai arah kebijakan The Fed. Support USDJPY diperkirakan bergerak di area 159,20, sementara resistance di area 160,50.
USDCHF - Pasangan mata uang ini menguat tipis ke level 0,7876 pada perdagangan hari ini seiring tetap kuatnya dolar AS di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global. Penguatan dolar didukung oleh tingginya permintaan aset safe haven akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang masih menjadi perhatian pelaku pasar. Meski demikian, kenaikan USDCHF cenderung terbatas setelah muncul pernyataan dari Ketua Swiss National Bank (SNB), Martin Schlegel, yang menegaskan kesiapan bank sentral untuk melakukan intervensi apabila diperlukan guna mengatasi tekanan apresiasi berlebihan pada franc Swiss.
Schlegel menyatakan bahwa tingkat overvaluasi riil franc Swiss saat ini lebih rendah dibandingkan overvaluasi nominalnya. Namun demikian, SNB telah meningkatkan kewaspadaan dan kesiapan untuk melakukan intervensi di pasar valuta asing apabila ketegangan geopolitik mendorong penguatan CHF secara berlebihan. Pernyataan tersebut memberikan dukungan terhadap mata uang Swiss, meskipun penguatan dolar AS yang didorong oleh sentimen risk-off masih mendominasi pergerakan pasar. Support USDCHF diperkirakan bergerak di area 0,7840, sementara resistance di area 0,7900.
USDCAD - Pasangan mata uang ini bergerak menguat tipis ke area 1,3837 pada perdagangan hari Rabu setelah sempat mengalami pelemahan terbatas pada sesi sebelumnya. Dolar Kanada belum mampu memanfaatkan kenaikan harga minyak mentah yang biasanya menjadi faktor pendukung utama mata uang tersebut. Meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan sikap hati-hati investor di pasar global membuat permintaan terhadap aset berisiko, termasuk dolar Kanada, cenderung terbatas. Di sisi lain, harga minyak WTI terus menguat dan diperdagangkan di sekitar USD92,60 per barel setelah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, termasuk serangan rudal Iran ke wilayah Kuwait dan Bahrain yang memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.
Sementara itu, dolar AS tetap mendapat dukungan dari ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Ancaman gangguan pasokan energi akibat potensi penutupan Selat Hormuz berisiko meningkatkan tekanan inflasi global, sehingga memperkuat pandangan bahwa kebijakan moneter AS akan tetap ketat. Sentimen tersebut diperkuat oleh data ekonomi Amerika Serikat yang masih solid, termasuk ISM Manufacturing PMI yang naik ke level 54,0 pada Mei serta data JOLTS yang menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan mencapai 7,61 juta, tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir. Fokus pasar selanjutnya tertuju pada laporan Nonfarm Payrolls (NFP) AS yang akan dirilis Jumat untuk memperoleh petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan The Fed. Support USDCAD diperkirakan bergerak di area 1,3820, sementara resistance di area 1,3890.
Jam | Pair | Data | Actual | Ekspektasi | Sebelumnya |
10:00 | US | Monetary Base YoY | |||
5:30 | JP | BOJ Gov Ueda Speaks | |||
16:00 | EU | PPI (YoY) (Apr) | 4.80% | 2.10% | |
16:00 | EU | PPI (MoM) (Apr) | 0.60% | 3.40% | |
16:50 | EU | ECB's Elderson Speaks | |||
19:15 | US | ADP Nonfarm Employment Change (May) | 116K | 109K | |
20:00 | US | Fed Vice Chair for Supervision Barr Speaks |