Home
>
News
>
Publication
>
Eropa Embargo Minyak Rusia, Harga Energi Siap Melambung
Eropa Embargo Minyak Rusia, Harga Energi Siap Melambung
Monday, 15 August 2022

Memasuki akhir kuartal II ini, konflik Ukraina yang mulai bergaung sejak awal tahun 2022 masih terus berlanjut bahkan eskalasi tensi semakin memanas tiap harinya. Sebelumnya pada The Source Issue #22 telah dibahas secara singkat mengenai efek dari memanasnya situasi di Eropa Timur tersebut pada harga minyak sepanjang kuartal I tahun ini. Pada edisi The Source kali ini kita akan melihat dari sisi efek konflik terhadap Rusia, dimana salah satu yang menjadi fokus utama adalah sanksi terbaru dari Uni Eropa (UE) terkait embargo impor minyak Rusia.

Demi Ukraina, Eropa Setujui Embargo Minyak Rusia

Seiring dengan terus berlanjutnya serangan Rusia terhadap Ukraina, Presiden Volodymyr Zelenskyy telah memohon bantuan dari komunitas internasional dalam upaya  menghentikan invasi lebih lanjut Rusia. Alhasil, beberapa Negara seperti AS, UE, Kanada, Inggris, Jepang, Taiwan, Selandia Baru dan Australia telah meluncurkan serangkaian sanksi yang menargetkan berbagai sektor penting Rusia, termasuk dari sektor minyak dan gas yang menyumbang sekitar 60% terhadap pemasukan ekonomi Rusia. 

Dari sekian negara tersebut, UE menjadi negara yang baru menyetujui embargo impor minyak Rusia. UE sendiri bergantung pada Rusia untuk 27% pasokan minyak mentahnya, dimana sekitar 90% minyak dipasok melalui jalur laut dan sisanya dipasok melalui jalur darat yaitu jaringan pipa Druzhba.

Awalnya, usulan embargo itu mendapat penentangan keras dari negara Hungaria, Slovakia dan Republik Ceko, karena ketiga negara anggota UE inilah yang menerima 10% pasokan minyak Rusia melalui jalur pipa Druzhba tersebut. 

Namun, setelah perundingan yang cukup alot selama hampir satu bulan, akhirnya UE menyetujui (30/5) pemberlakuan embargo minyak Rusia secara parsial, yaitu melarang impor minyak dari jalur laut mulai 5 Desember 2022 dan produk turunannya mulai Februari 2023.

Pengecualian diberikan pada Hungaria, Slovakia dan Republik Ceko, yang diperbolehkan untuk tetap mengimpor hingga akhir 2024, akan tetapi ketiga negara itu dilarang untuk menjual kembali minyak maupun produk turunannya ke negara-negara anggota UE lainnya atau di tempat lain.

Ekspor Minyak Rusia Menuju Asia Meningkat, Termasuk Indonesia?

Sejak dimulainya konflik Ukraina, Rusia telah mengalihkan sebagian besar ekspor minyaknya ke negara-negara Asia karena sebagian besar negara terutama dari negara Barat dan sekutunya memilih untuk menghindari pembelian minyak Rusia. Hal ini terlihat dari penurunan jumlah ekspor minyak Rusia ke UE pada kuartal akhir 2021 yang mencapai sekitar 95% turun menjadi 59% pada bulan April dan Mei, ungkap data yang dirilis oleh perusahaan analis pasar energi dan perkapalan, Vortexa.

Sementara itu, mengutip dari Trafigura Group, minyak Rusia pada akhir Februari ditawarkan dengan harga $6,30 per barel di bawah harga minyak mentah jenis Brent, yang sekaligus merupakan diskon terbesar dalam 11 tahun. Momentum ini dimanfaatkan oleh pembeli di Asia yang mengincar minyak murah dari Rusia tersebut dengan meningkatkan volume pembelian.

Pengiriman minyak Rusia melalui jalur laut hingga 22 April tercatat mencapai rata-rata 3,2 juta bph, naik dari rata-rata 2,88 juta bph pada sepanjang tahun 2021, dengan tujuan pengiriman sebagian besar ke China dan India. Jumlah ini diperkirakan akan meningkat sebesar 45 juta hingga 60 juta barel saat pemberlakuan embargo UE mendatang. 

Pada 26 Mei, sekitar 57 juta barel minyak diekspor melalui jalur laut dan 7,3 juta barel minyak melaui jalur pipa ESPO (Eastern Siberia Pacific Ocean), naik dibandingkan dengan 19 juta via laut dan 5,7 juta via ESPO pada akhir Februari, menurut data Kpler.

Indonesia sebagai negara ekonomi terbesar keenam di Asia tentu juga tertarik untuk mempertimbangkan pembelian minyak Rusia di tengah harga diskon besar-besaran, dimana isyarat ini sudah pernah disampaikan sebelumnya oleh Pertamina, perusahaan minyak dan gas negara Indonesia (28/3).

Namun, Indonesia telah mengambil sikap netral dalam konflik Ukraina dengan menolak untuk bergabung bersama AS dan sekutunya menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Rusia. Apabila Indonesia mengikuti langkah India dan China untuk membeli minyak Rusia, maka secara tidak langsung akan menempatkan Indonesia di pihak Rusia, yang artinya harus siap menerima konsekuensi ekonomi dari AS dan sekutunya.

Selain itu, Indonesia selama ini mengimpor hampir semua minyaknya dari Timur Tengah, dimana sekitar 38% impornya dipasok dari Arab Saudi, dengan beralih ke minyak mentah Rusia yang memiliki mutu lebih tinggi, maka artinya harus ada peningkatan infrastruktur kilang untuk dapat memprosesnya.

Imbas Konflik Ukraina Pada Harga Minyak

Sepanjang kuartal I tahun ini, harga minyak mencatatkan lonjakan kenaikan sebesar lebih dari 40 persen. Katalis pendorong utamanya tidak lain adalah konflik Ukraina, dimana sejak dimulainya invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari lalu, terlihat harga minyak melambung sebesar 32% atau mencapai USD 119,65 per barel, level harga tertinggi sejak 2008.

Memasuki kuartal II, harga minyak terpantau bergerak stabil dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran pasar pasca otoritas kota Shanghai memutuskan (22/4) untuk memperketat penguncian hingga akhir Mei. Kota Shanghai merupakan pusat kota keuangan yang berkontribusi sebesar 4% terhadap permintaan minyak China secara keseluruhan. Sentimen negatif yang mempengaruhi sisi permintaan ini meredam ancaman ketatnya pasokan di tengah konflik Ukraina yang tidak kunjung usai.

Meski demikian, sepanjang kuartal II ini pergerakan harga minyak terpantau masih berada dalam tren bullish dengan katalis penggerak utama yang mempengaruhi masih seputar konflik Ukraina, penurunan produksi Rusia pasca embargo diberlakukan, kebijakan produksi OPEC+ dan juga perkembangan situasi Covid di China.

Oleh: Girta Yoga


Dapatkan info selengkapnya seputar komoditas energi dalam The Source 23: ICDX 2nd Quarter Update

The Source 23: ICDX 2nd Quarter Update
Member of
© Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX)
Join Our Monthly Newsletter
Follow Us
Contact Us
Midpoint Place, 22nd Floor, K.H. Fachrudin Street No. 26, Tanah Abang, Jakarta Pusat
+62 21 4050 7788