Home
>
News
>
Publication
>
Dolar Australia Menguat Ditopang Inflasi yang Kuat dan Ketidakpastian Politik di Amerika Serikat
Dolar Australia Menguat Ditopang Inflasi yang Kuat dan Ketidakpastian Politik di Amerika Serikat
Monday, 06 October 2025

INDIKATOR HARGA

 

Pembukaan

% Perubahan

EURUSD

1.1720

-0.12%

GBPUSD

1.3430

-0.06%

AUDUSD

0.6581

0.32%

NZDUSD

0.5809

0.45%

USDJPY

149.43

0.29%

USDCHF

0.7963

-0.09%

USDCAD

1.3954

-0.02%

GOLDUD

3891.33

1.33%

USD/IDR

16.606

0.00%

Fokus AUDUSD:

  1. Pelemahan Dolar AS akibat Krisis Politik
  2. Inflasi Australia Lebih Tinggi dari Perkiraan

Senin, 06 Oktober 2025 – Dolar Australia dibuka di 0.6581 dan menguat 0.32%. Dolar Australia mencatat penguatan terhadap Dolar Amerika Serikat setelah data inflasi domestik menunjukkan tekanan harga yang lebih tinggi dari perkiraan. Indeks TD-MI Inflation Gauge naik empat persepuluh persen pada September setelah sebelumnya turun, sementara secara tahunan meningkat menjadi tiga persen dari dua koma delapan persen. Data ini menegaskan bahwa inflasi di Australia masih bertahan di atas target dua hingga tiga persen, terutama di sektor jasa yang masih mengalami kenaikan biaya. Reserve Bank of Australia dalam pertemuan terakhirnya memilih menahan suku bunga acuan di tiga koma enam persen, namun menegaskan bahwa inflasi yang persisten dapat menunda langkah pelonggaran kebijakan moneter. Kondisi tersebut memperkuat sentimen terhadap Dolar Australia, karena pasar memperkirakan RBA akan mempertahankan sikap hati-hati dalam waktu dekat.

Dari sisi eksternal, pelemahan Dolar Amerika Serikat menjadi pendorong tambahan bagi penguatan mata uang Australia. Pemerintah Amerika masih menghadapi shutdown akibat kebuntuan politik di Kongres yang membuat sejumlah laporan ekonomi penting tertunda, termasuk data ketenagakerjaan resmi. Situasi ini memperburuk kepercayaan investor terhadap prospek fiskal dan memperkuat pandangan bahwa ekonomi Amerika mulai kehilangan momentum. Data sektor jasa dari Institute for Supply Management juga menunjukkan penurunan signifikan menjadi lima puluh poin dari lima puluh dua poin pada bulan sebelumnya, mencerminkan melambatnya permintaan domestik. Bersamaan dengan itu, laporan ADP Employment menunjukkan penurunan tiga puluh dua ribu pekerjaan, menambah keyakinan bahwa Federal Reserve akan segera menurunkan suku bunga dalam dua pertemuan mendatang. Ekspektasi pelonggaran kebijakan ini menekan imbal hasil obligasi Amerika dan memperlemah Dolar AS secara menyeluruh.

Namun demikian, ruang penguatan Dolar Australia masih terbatas akibat menurunnya surplus perdagangan yang merosot ke satu koma delapan dua miliar dolar Australia pada Agustus, jauh di bawah perkiraan enam koma lima miliar. Penurunan ekspor, khususnya emas dan komoditas utama lainnya, menjadi faktor penekan utama. Di sisi lain, data PMI menunjukkan perlambatan aktivitas di sektor jasa, menandakan ekspansi ekonomi mulai melambat. RBA dalam laporan stabilitas keuangannya juga menyoroti risiko dari lemahnya pasar properti di Tiongkok dan tingginya ketegangan di pasar global. Meski demikian, kombinasi inflasi domestik yang masih tinggi dan pelemahan Dolar AS akibat ketidakpastian politik memberi ruang bagi Dolar Australia untuk tetap bertahan di jalur penguatan dalam jangka pendek.

Harga pada pasangan mata uang AUDUSD menguat. Support terdekat berada di 0.6550, sedangkan resistance di 0.6605. Support lanjutan di zona 0.6515 dan dilanjutkan ke zona 0.6470. Resistance lanjutan di zona 0.6650 dan dilanjutkan resistance selanjutnya di zona 0.6685.

EURUSD – Euro dibuka di 1.1720 dan melemah -0.12%. Pasangan EURUSD mengalami pelemahan setelah sempat bergerak stabil di kisaran 1,1750–1,1700, seiring meredanya dukungan dari data ekonomi kawasan Euro yang masih menunjukkan pertumbuhan lemah dan tren disinflasi yang berlanjut. Data PMI gabungan HCOB Eurozone untuk September mencatat kenaikan tipis ke 51,2, level tertinggi sejak Mei 2024, tetapi ekspansi tersebut masih terbatas dan tidak memberikan dorongan berarti bagi kepercayaan pasar. Kondisi ini memperkuat pandangan bahwa European Central Bank (ECB) akan menahan diri untuk tidak menaikkan suku bunga lebih lanjut. Presiden ECB Christine Lagarde menegaskan bahwa kawasan Euro “berada di tempat yang baik”, yang oleh pasar diartikan sebagai sinyal kebijakan moneter akan tetap netral atau cenderung longgar. Di sisi lain, tekanan deflasi di negara besar seperti Jerman dan Prancis menekan nilai tukar Euro karena mempersempit ruang kebijakan moneter yang propertumbuhan. Sementara itu, pelemahan Dolar AS sedikit tertahan akibat berlanjutnya ketidakpastian fiskal dari government shutdown di Washington, yang telah memasuki hari ketiga. Shutdown ini menunda publikasi data penting seperti Nonfarm Payrolls (NFP), namun data PMI AS dari ISM yang melemah ke level 50 memperlihatkan gejala perlambatan aktivitas sektor jasa dan tenaga kerja. Meskipun demikian, pidato beberapa pejabat The Fed menampilkan pandangan yang beragam Lorie Logan tetap hawkish dan khawatir terhadap inflasi jasa non-perumahan, sementara Austan Goolsbee menilai kebijakan perlu tetap hati-hati karena kedua sisi mandat Fed mulai memburuk. Pasar kini memproyeksikan 95% peluang pemangkasan suku bunga pada Oktober dan 84% lagi pada Desember, namun ketidakpastian politik AS dan lemahnya data PMI membuat permintaan terhadap aset aman masih mendukung Dolar. Dengan demikian, EURUSD rentan turun ke bawah 1,17 dalam waktu dekat jika tekanan disinflasi Eropa terus berlanjut dan investor kembali ke aset safe haven berbasis USD. Support terdekat berada di 1.1690, sementara resistance terdekat di 1.1750.

GBPUSD – Poundsterling dibuka di 1.3430, turun tipis -0.06%. Poundsterling juga menunjukkan pelemahan terhadap Dolar AS setelah gagal mempertahankan momentum penguatan di atas 1,3450. Data PMI Jasa Inggris turun ke 50,8 dari 51,9 pada Agustus, level terendah dalam lima bulan terakhir, menandakan melemahnya permintaan domestik dan aktivitas bisnis di sektor jasa sektor yang selama ini menjadi penopang utama perekonomian Inggris. Pelemahan ini menimbulkan spekulasi bahwa Bank of England (BoE) mungkin tidak mampu mempertahankan suku bunga tinggi terlalu lama tanpa menimbulkan risiko perlambatan ekonomi lebih dalam. Pernyataan Wakil Gubernur BoE Sarah Breeden yang memperingatkan bahaya suku bunga tinggi dalam jangka panjang memperkuat pandangan dovish tersebut. Namun, komentar Clare Lombardelli yang tetap menilai tekanan inflasi masih berlanjut menunjukkan perbedaan pandangan internal, yang menimbulkan ketidakpastian arah kebijakan BoE ke depan. Dari sisi Amerika Serikat, pelemahan Dolar akibat shutdown pemerintah memang sempat mendukung Pound, namun sentimen ini tidak bertahan lama. Data ISM dan ADP menunjukkan pelemahan pasar tenaga kerja AS, tetapi pandangan hati-hati Fed terhadap inflasi jasa menahan penurunan yield obligasi AS. Dengan ekspektasi pasar terhadap dua kali pemangkasan suku bunga Fed sebelum akhir tahun, Dolar AS tetap relatif kuat dibandingkan Pound yang dibebani oleh pelemahan fundamental domestik. Selain itu, inflasi Inggris yang masih berkisar 3,8%–4,0% memberi tekanan pada BoE untuk menahan pemangkasan, meski ekonomi melambat. Kombinasi kebijakan yang saling berlawanan ini membuat GBPUSD sulit menembus di atas 1,3450, dan dalam kondisi tekanan eksternal yang meningkat, potensi koreksi ke area 1,3350–1,3300 masih terbuka dalam jangka pendek. Support terdekat berada di 1.3400, dan resistance di 1.3460.

NZDUSD – Kiwi dibuka di 0.5809 dan naik 0.45%. Dolar Selandia Baru (Kiwi) menguat terhadap Dolar AS pada awal sesi Eropa Jumat, didorong oleh meningkatnya selera risiko di pasar global dan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan tetap melonggarkan kebijakan moneter dalam waktu dekat. Walau pergerakan harga masih terjebak dalam kisaran sempit di sekitar 0,5830, bias jangka pendek menunjukkan arah positif karena Dolar AS kehilangan sebagian daya tariknya sebagai aset safe haven di tengah kekhawatiran politik dalam negeri dan data ketenagakerjaan yang terus melambat. Data pemutusan hubungan kerja versi Challenger menunjukkan penurunan signifikan pada September, sementara rencana perekrutan baru anjlok ke level terendah sejak 2009, memperlihatkan bahwa pasar tenaga kerja AS mulai mendingin dengan cepat. Kondisi tersebut semakin menekan pandangan hawkish di The Fed dan memperkuat ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga lanjutan pada Oktober dan Desember. Situasi ini menciptakan ruang bagi Kiwi untuk menguat, karena imbal hasil obligasi AS yang lebih rendah mengurangi daya tarik Dolar AS bagi investor global. Namun dari sisi domestik, fundamental Selandia Baru masih belum menunjukkan sinyal pemulihan yang solid. Pasar menilai bahwa Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) berpotensi melonggarkan kebijakan lebih lanjut di kuartal terakhir tahun ini untuk menopang pertumbuhan yang terus melemah, khususnya di sektor ekspor dan perumahan. Ekspektasi pemangkasan suku bunga tersebut menjadi penahan utama bagi penguatan lebih lanjut NZDUSD, karena perbedaan arah kebijakan antara RBNZ dan The Fed dapat memperlebar kesenjangan yield dalam jangka menengah. Meski begitu, sentimen pasar global yang cenderung “risk-on” dan prospek Dolar AS yang tertekan oleh ketidakpastian fiskal tetap menjadi penopang jangka pendek bagi Kiwi. Selama harga masih bertahan di atas area psikologis 0,5800, peluang penguatan menuju 0,5870 tetap terbuka, terutama jika shutdown pemerintahan AS berkepanjangan dan memperlemah kepercayaan investor terhadap ekonomi AS. Support terdekat berada di 0.5780, dan resistance di 0.5840.

USDJPY – Yen Jepang dibuka di 149.43, menguat 0.29%. Dolar AS menguat terhadap Yen Jepang di awal pekan, didorong oleh hasil pemilihan kepemimpinan Partai Demokrat Liberal (LDP) yang menempatkan Sanae Takaichi sebagai calon kuat Perdana Menteri Jepang berikutnya. Takaichi dikenal berpandangan fiskal longgar dan mendukung kebijakan stimulus besar-besaran, yang memicu ekspektasi bahwa Bank of Japan (BoJ) akan menunda kenaikan suku bunga lebih lama dari perkiraan. Sentimen ini mendorong pelemahan tajam Yen dan membawa pasangan USD/JPY mendekati level psikologis 150,00, level tertinggi dalam hampir dua bulan. Penguatan ini juga didukung oleh kenaikan indeks saham Nikkei ke rekor baru, menandakan meningkatnya optimisme terhadap kebijakan ekspansif yang akan diambil pemerintahan baru. Namun di sisi lain, sebagian pelaku pasar tetap berhati-hati karena masih ada kemungkinan Fed memangkas suku bunga dua kali lagi tahun ini, serta risiko dampak ekonomi negatif dari government shutdown yang berpotensi membatasi apresiasi lebih lanjut Dolar AS. Dari sisi domestik Jepang, fundamental ekonomi menunjukkan perubahan struktural yang menarik. Upah nominal terus meningkat selama lebih dari satu tahun, inflasi sektor jasa mulai meluas, dan indikator output industri menunjukkan pemulihan yang stabil—semuanya menandakan bahwa ekonomi Jepang mulai mampu tumbuh tanpa dukungan moneter ekstrem. Hal ini menimbulkan tekanan internal bagi BoJ untuk mulai menormalkan kebijakan lebih cepat, terlebih dengan perbedaan pandangan di dalam dewan kebijakan yang kian jelas. Gubernur BoJ Kazuo Ueda telah menegaskan bahwa kenaikan suku bunga dapat dilakukan jika prospek ekonomi dan inflasi sesuai dengan proyeksi, sementara pasar kini memperkirakan peluang sekitar 45% untuk kenaikan 25 basis poin pada Desember. Namun kemenangan Takaichi yang pro-stimulus dapat memperlambat langkah itu, menciptakan dinamika menarik di mana tekanan politik dan ekonomi saling bertabrakan. Jika dalam beberapa pekan ke depan data pengeluaran rumah tangga Jepang menguat, tekanan terhadap Yen bisa mereda, tetapi jika Fed tetap mempertahankan nada dovish, USDJPY berpotensi tetap di atas 149,00 dengan volatilitas tinggi menjelang pertengahan Oktober. Support terdekat berada di 149.00, dan resistance di 149.80.

USDCHF – Pasangan USDCHF dibuka di 0.7963 dan melemah -0.09%. Pasangan USDCHF melemah kembali di bawah area 0,8000 setelah gagal menembus level psikologis tersebut, seiring meningkatnya minat risiko global yang menekan permintaan terhadap aset safe haven seperti Dolar AS. Data ketenagakerjaan AS yang lemah termasuk penurunan pada ADP Employment Change sebesar 32 ribu menimbulkan kekhawatiran akan pendinginan ekonomi yang dapat memaksa Fed untuk lebih agresif dalam melonggarkan kebijakan moneter. Pernyataan Dallas Fed President Lorie Logan yang memperingatkan agar tidak terlalu cepat memangkas suku bunga sedikit menahan tekanan pada USD, namun pasar tetap memperkirakan dua kali pemangkasan sebelum akhir tahun. Dengan inflasi jasa non-perumahan yang masih tinggi namun aktivitas tenaga kerja melemah, The Fed menghadapi dilema antara mendukung pasar tenaga kerja atau menjaga stabilitas harga, sehingga volatilitas USD tetap tinggi. Dari sisi Swiss, data CPI terbaru memperlihatkan inflasi tahunan hanya 0,2%, di bawah ekspektasi 0,3%, sementara inflasi bulanan kembali mencatat kontraksi -0,2%. Tren ini memperkuat tekanan deflasi yang sudah berlangsung sejak pertengahan tahun dan membuka peluang bagi Swiss National Bank (SNB) untuk melonggarkan kebijakan lebih lanjut. Meski SNB belum menunjukkan tanda-tanda akan menurunkan suku bunga ke wilayah negatif, pasar menilai ruang pelonggaran masih terbuka jika tren deflasi berlanjut hingga kuartal IV. Dengan kombinasi tekanan deflasi di Swiss dan potensi pemangkasan agresif oleh Fed, arah USDCHF cenderung melemah secara bertahap di bawah 0,7950, meski tekanan jual lebih lanjut kemungkinan akan tertahan oleh faktor teknikal menjelang rilis data inflasi AS pekan depan. Support terdekat berada di 0.7935, dan resistance di 0.7990.

USDCAD – Dolar Kanada dibuka di 1.3954, terkoreksi -0.02%. USDCAD terus menunjukkan penguatan dan mendekati level 1,40 seiring pelemahan tajam pada Dolar Kanada yang ditekan oleh lemahnya prospek ekonomi domestik dan turunnya harga minyak dunia. Data PMI manufaktur Kanada yang jatuh ke 47,7 memperpanjang tren kontraksi hingga delapan bulan berturut-turut. Selain itu, harga minyak mentah WTI yang sempat turun di bawah $61 per barel menambah tekanan terhadap CAD, mengingat Kanada adalah pengekspor minyak utama ke AS. Pasar kini memperkirakan Bank of Canada (BoC) akan kembali memangkas suku bunga 25 bps pada pertemuan akhir Oktober setelah langkah serupa di September menurunkan suku bunga acuan ke 2,5%. BoC menghadapi dilema antara inflasi yang mulai stabil dan ekonomi yang mendekati resesi teknikal, yang membuat kebijakan moneter Kanada cenderung lebih dovish dibandingkan Fed. Sementara dari sisi AS, tekanan terhadap Dolar masih bersifat sementara karena shutdown dan keterlambatan rilis data ekonomi. Laporan ADP yang menunjukkan penurunan 32.000 tenaga kerja sektor swasta memperkuat ekspektasi bahwa Fed akan menurunkan suku bunga dua kali lagi tahun ini, namun lemahnya CAD justru membuat USDCAD tetap solid. Ketika pasar tenaga kerja Kanada menunjukkan kontraksi lebih dalam dibanding AS, diferensial pertumbuhan ekonomi dan imbal hasil obligasi memperlebar daya tarik Dolar AS. Selain itu, kekhawatiran pasar terhadap oversupply minyak menjelang pertemuan OPEC+ akhir pekan ini menahan potensi penguatan CAD. Dengan kombinasi faktor tersebut, USDCAD berpotensi menembus ke atas 1,40 dan menuju area 1,4050-1,4100 apabila BoC menegaskan sikap dovish pada pernyataan kebijakan mendatang. Support terdekat berada di 1.3920, dan resistance di 1.3980.

DATA EKONOMI HARIAN

Jam

Pair

Data

Actual

Ekspektasi

Sebelumnya

All Day

AUD

Bank Holiday

-

-

-

7:00am

AUD

MI Inflation Gauge m/m

0.4%

-

-0.3%

7:00am

NZD

ANZ Commodity Prices m/m

-1.1%

-

0.7%

All Day

CNY

Bank Holiday

-

-

-

2:00pm

CHF

Unemployment Rate

-

2.9%

2.9%

3:30pm

EUR

Sentix Investor Confidence

-

-7.5

-9.2

3:30pm

GBP

Construction PMI

-

46.1

45.5

Tentative

GBP

Housing Equity Withdrawal q/q

-

-4.5B

-3.3B

4:00pm

EUR

Retail Sales m/m

-

0.1%

-0.5%

Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange

Forex Daily Newsletter

Licensed and supervised by
Member of
Certified by
© Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX)
Join Our Monthly Newsletter
Follow Us
Contact Us
Jl. M.H. Thamrin No.3 7th Floor, RT.11/RW.2, Gambir, Central Jakarta City, Jakarta 10110
+62 21 4050 7788