Home
>
News
>
Publication
>
AUDUSD Tertahan, Potensi Dukungan RBA Jaga Peluang Penguatan
AUDUSD Tertahan, Potensi Dukungan RBA Jaga Peluang Penguatan
Tuesday, 14 April 2026

 

Pembukaan

% Perubahan

EURUSD

1.1757

0.05%

GBPUSD

1.3504

0.01%

AUDUSD

0.7092

-0.13%

NZDUSD

0.5861

-0.02%

USDJPY

159.42

0.46%

USDCHF

0.7839

-0.08%

USDCAD

1.3792

-0.04%

GOLDUD

4746.92

0.50%

USD/IDR

17,086

0.23%

Fokus:

  1. Kebijakan RBA & Inflasi Sikap hawkish RBA di tengah tekanan inflasi energi menopang AUD.
  2. Sentimen Global & USD – Optimisme diplomasi AS-Iran menekan USD namun risiko energi masih tinggi.

AUDUSD
Selasa, 14 April 2026
- Pasangan mata uang ini berada di kisaran 0,7083 setelah mengalami koreksi tipis dari penguatan sebelumnya, dengan harga sempat diperdagangkan di sekitar 0,7090 pada hari Selasa. Pelemahan ini masih tergolong terbatas dan membuka peluang bagi pasangan untuk kembali menguat. Dolar Australia berpotensi mendapat dukungan dari sikap hawkish Reserve Bank of Australia (RBA) di tengah tekanan inflasi yang masih tinggi, terutama dipicu oleh kenaikan harga energi.

Wakil Gubernur RBA, Andrew Hauser, menyampaikan bahwa Australia tengah menghadapi kondisi makroekonomi yang menantang, dengan inflasi tinggi dan kapasitas produksi yang terbatas. Ia memperingatkan adanya risiko skenario stagflasi apabila tekanan dari sisi energi terus berlanjut. Menurutnya, situasi terburuk adalah ketika inflasi meningkat bersamaan dengan perlambatan ekonomi, yang akan membuat kebijakan moneter menjadi semakin kompleks.

Di sisi lain, dolar AS masih berada dalam tekanan seiring pernyataan Wakil Presiden AS JD Vance yang cenderung mendukung sentimen risiko, dengan menekankan bahwa jalur diplomasi antara AS dan Iran masih terbuka. Meski belum menghasilkan kesepakatan konkret, pernyataan ini memberikan sedikit optimisme pasar dan menahan penguatan USD. Namun, belum adanya hasil nyata tetap menjaga premi risiko terkait energi, terutama harga minyak.

Secara teknikal, AUD/USD memiliki support terdekat di area 0,7050 dan 0,7000, yang menjadi level kunci bagi pergerakan jangka pendek. Sementara itu, resistance berada di kisaran 0,7100 hingga 0,7150.

EURUSD - Pasangan mata uang ini berada di level 1,1763 dan melanjutkan penguatan signifikan setelah sebelumnya naik lebih dari 100 pips. Pada hari Selasa, pasangan ini kembali mencatat kenaikan untuk hari kedelapan berturut-turut dan sempat menyentuh level tertinggi sejak awal Maret di kisaran 1,1765–1,1770. Penguatan ini didorong oleh pergeseran sentimen pasar ke aset berisiko, meskipun perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran belum mencapai kesepakatan. Pernyataan Wakil Presiden AS JD Vance yang cenderung optimistis terkait kemajuan negosiasi turut menekan dolar AS dan menjadi katalis positif bagi EURUSD.

Di sisi lain, ketidakpastian arah kebijakan suku bunga The Fed membuat dolar AS tetap berada di level rendah, mendukung tren kenaikan EURUSD. Namun, risiko geopolitik masih membayangi setelah AS memulai blokade di Selat Hormuz dan Iran merespons dengan ancaman terhadap kawasan Teluk, sehingga berpotensi membatasi pelemahan USD lebih lanjut. Kekhawatiran akan runtuhnya gencatan senjata juga dapat menahan penguatan euro. EURUSD memiliki support di area 1,1700, sementara resistance berada di kisaran 1,1780.

GBPUSD - GBPUSD saat ini berada di level 1,3506 setelah sempat dibuka melemah di awal pekan dan turun ke kisaran 1,3380. Namun, pasangan ini berhasil rebound kuat sepanjang sesi Senin dan ditutup di sekitar 1,3510 atau naik sekitar 0,35%. Kenaikan ini membawa GBPUSD kembali ke level tertinggi sejak akhir Februari dan berhasil menembus kembali area psikologis 1,3500. Secara keseluruhan, pasangan ini telah menguat lebih dari 350 pips sejak awal April, memulihkan sekitar setengah dari penurunan sebelumnya dari puncak tahunan di area 1,3870.

Pada awalnya, sentimen risk-off sempat menekan Pound Sterling setelah pengumuman Presiden AS Donald Trump terkait pemblokiran Selat Hormuz pasca gagalnya negosiasi damai. Namun, sentimen pasar berbalik lebih positif seiring munculnya harapan bahwa solusi diplomatik masih memungkinkan. Perubahan risk appetite ini melemahkan dolar AS secara luas dan memberikan ruang bagi GBPUSD untuk menguat kembali.

Ke depan, fokus pasar tertuju pada rilis data inflasi AS, khususnya Producer Price Index (PPI), yang berpotensi mencerminkan dampak awal konflik terhadap harga. Ekspektasi kenaikan inflasi dapat memperkuat peluang kebijakan hawkish dari The Fed. Di sisi Inggris, kenaikan harga energi akibat gangguan pasokan meningkatkan risiko inflasi dan tekanan ekonomi, bahkan membuka potensi stagflasi yang dapat membatasi penguatan Pound. Support GBPUSD berada di area 1,3450, sementara resistance berada di kisaran 1,3550.

NZDUSD - Dolar Selandia Baru (NZD) diperdagangkan di sekitar 0,5860 pada hari Selasa. Pergerakan ini didorong oleh harapan pasar bahwa pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran dapat kembali dilanjutkan, meskipun negosiasi sebelumnya di Pakistan belum menghasilkan kesepakatan. Presiden AS Donald Trump menyebutkan bahwa Iran telah membuka komunikasi untuk mencapai kesepakatan, sementara Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan kesiapan negaranya untuk melanjutkan negosiasi sesuai kerangka hukum internasional, sehingga meningkatkan optimisme pasar.

Di sisi lain, Reserve Bank of New Zealand mempertahankan suku bunga acuannya, namun memberikan sinyal kesiapan untuk memperketat kebijakan jika inflasi inti meningkat akibat kenaikan harga energi. Gubernur Anna Breman menegaskan bahwa bank sentral akan merespons tegas jika tekanan inflasi jangka menengah meningkat. Saat ini, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sekitar 38% pada Mei dan sepenuhnya mengantisipasi kenaikan pada Juli. NZDUSD memiliki support di area 0,5820, sementara resistance berada di kisaran 0,5880.

USDJPY - Pasangan mata uang ini bergerak di kisaran 159,15 dan melanjutkan pelemahan terbatas dari level tertinggi sebelumnya di area 159,85, dengan harga sempat turun mendekati 159,00 pada hari Selasa. Meskipun demikian, tekanan turun masih relatif terbatas di tengah kombinasi sentimen fundamental yang beragam. Optimisme pasar terhadap kelanjutan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran, meskipun belum menghasilkan kesepakatan konkret, turut menekan dolar AS. Wakil Presiden AS JD Vance bahkan menyebut adanya kemajuan dalam negosiasi, yang mengurangi permintaan terhadap USD sebagai aset safe-haven.

Di sisi lain, ketidakpastian arah kebijakan The Fed serta lonjakan inflasi AS yang signifikan membuat pasar terpecah antara ekspektasi kenaikan maupun penurunan suku bunga. Hal ini turut membebani dolar AS. Sementara itu, Yen Jepang masih menghadapi tekanan akibat kekhawatiran ekonomi dari lonjakan harga energi, terutama karena ketergantungan Jepang pada impor minyak dari Timur Tengah di tengah ketegangan Selat Hormuz. Namun, potensi intervensi otoritas Jepang membatasi pelemahan Yen lebih lanjut. Support terdekat berada di 158,80, sementara resistance berada di kisaran 159,80.

USDCHF - Pasangan mata uang ini bergerak di kisaran 0,7833 setelah sebelumnya mengalami tekanan terbatas. Secara umum, pasangan ini cenderung melemah, namun tidak diikuti tekanan jual lanjutan yang signifikan. Hal ini disebabkan oleh kombinasi sentimen global, dimana ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran serta ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama—dipicu oleh kenaikan harga minyak—membantu menopang dolar AS. Di sisi lain, Franc Swiss juga tidak mendapatkan dorongan kuat karena sikap Swiss National Bank yang siap mengintervensi jika mata uangnya terlalu menguat, sehingga membuat investor lebih berhati-hati.

Dari sisi geopolitik, eskalasi meningkat setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan blokade laut terhadap pelabuhan Iran usai kegagalan negosiasi damai, yang memicu kekhawatiran konflik berkepanjangan. IRGC pun memperingatkan bahwa kapal militer yang mendekati Selat Hormuz berisiko mendapat respons tegas. Kondisi ini menjaga permintaan terhadap dolar tetap stabil. USDCHF memiliki support di area 0,7800, sementara resistance berada di kisaran 0,7880.

USDCAD - Pasangan mata uang ini berada di kisaran 1,3787 dan bergerak relatif terbatas untuk hari kedua berturut-turut, dengan harga diperdagangkan di sekitar 1,3790 pada hari selasa. Pelemahan pasangan ini terjadi seiring tekanan terhadap dolar AS, yang dipicu meredanya sentimen risk-off setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat dan Iran berpotensi melanjutkan negosiasi untuk mencapai gencatan senjata jangka panjang. Pernyataan Presiden AS Donald Trump dan Wakil Presiden JD Vance yang menyoroti adanya kemajuan diplomasi turut menekan permintaan terhadap USD.

Selain itu, ekspektasi kebijakan hawkish The Fed mulai mereda seiring menurunnya risiko inflasi akibat potensi stabilisasi pasokan energi, yang juga menekan harga minyak. Hal ini menjadi faktor tambahan pelemahan USD. Namun, penurunan lebih lanjut pada USDCAD cenderung terbatas karena dolar Kanada juga tertekan oleh melemahnya harga minyak, mengingat Kanada merupakan eksportir utama minyak ke AS. Support USDCAD berada di area 1,3750, sementara resistance berada di kisaran 1,3820.



DATA EKONOMI HARIAN

Jam

Pair

Data

Actual

Ekspektasi

Sebelumnya

5:15am

AUD

RBA Deputy Gov Hauser Speaks

 

 

 

5:20am

USD

FOMC Member Miran Speaks

 

 

 

7:30pm

USD

Core PPI m/m

 

0.4%

0.5%

7:30pm

USD

PPI m/m

 

1.1%

0.7%

8:30pm

GBP

CB Leading Index m/m

 

 

0%

8:45pm

USD

FOMC Member Goolsbee Speaks

 

 

 

9:00pm

GBP

MPC Member Greene Speaks

 

 

 

9:15pm

USD

FOMC Member Goolsbee Speaks

 

 

 

Day 2

All

IMF Meetings

 

 

 

11:05pm

GBP

BOE Gov Bailey Speaks

 

 

 

11:10pm

USD

FOMC Member Goolsbee Speaks

 

 

 

11:45pm

USD

FOMC Member Barr Speaks

 

 

 

Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange

Forex Daily Newsletter

Licensed and supervised by
Member of
Certified by
© Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX)
Join Our Monthly Newsletter
Follow Us
Contact Us
Jl. M.H. Thamrin No.3 7th Floor, RT.11/RW.2, Gambir, Central Jakarta City, Jakarta 10110
+62 21 4050 7788