| Pembukaan | % Perubahan |
EURUSD | 1.1542 | 0.04% |
GBPUSD | 1.3506 | 0.04% |
AUDUSD | 0.7058 | 0.03% |
NZDUSD | 0.5881 | 0.10% |
USDJPY | 159.24 | -0.08% |
USDCHF | 0.8101 | -0.06% |
USDCAD | 1.3939 | -0.06% |
GOLDUD | 4,389.77 | 0.84% |
COFU | 82.35 | 0.06% |
USD/IDR | 17,790 | 0.00% |
Selasa, 11 Agustus 2026 - Harga minyak pagi ini terpantau bergerak menguat didukung oleh sinyal kebuntuan dalam negosiasi untuk mengakhiri perang AS - Iran. Selain itu, potensi gangguan pasokan di Libya, dan ancaman keamanan yang masih terus berlanjut di Laut Merah turut menjadi katalis positif bagi harga.
Presiden AS Donald Trump pada hari Senin menyatakan akan menuntut kompensasi dari Iran atas jatuhnya korban jiwa dan luka-luka dalam perang melawan Teheran, sebagai tanggapan atas tuntutan sebelumnya dari Iran terhadap AS untuk membayar ganti rugi atas kerusakan akibat konflik lima bulan itu sebagai syarat pembukaan kembali Selat Hormuz. Pernyataan Trump tersebut menjadi sinyal terbaru bahwa negosiasi untuk mengakhiri perang Iran dan membuka kembali Selat Hormuz kembali menemui jalan buntu.
Turut mendukung harga, National Oil Corporation (NOC) pada Selasa dini hari melaporkan insiden terbaru serangan drone yang mengenai fasilitas minyak di kota Zawiya, Libya bagian barat, yang sekaligus menandai serangan ketiga sejak hari Minggu. Jika serangan terus berlanjut, NOC memperingatkan kemungkinan untuk menyatakan status force majeure dan menghentikan total operasi di kilang Zawiya, yang berisi sekitar 4,5 juta liter bensin.
Dukungan lainnya datang dari militer Yaman yang melaporkan tujuh orang—termasuk personel militer dan warga sipil—tewas dan 30 lainnya terluka dalam serangan terbaru Houthi yang menyasar kota pelabuhan Mocha di Laut Merah, infrastruktur sipil, serta angkatan bersenjata, ungkap Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree pada hari Senin. Berita tersebut mengisyaratkan gangguan keamanan yang masih berlanjut di jalur Laut Merah.
Sementara itu, produksi minyak OPEC kembali meningkat pada bulan Juli, melonjak naik sebesar 1,17 juta bph menjadi 19,85 juta bph, ungkap survei terbaru Reuters. Irak tercatat mengalami peningkatan terbesar, diikuti oleh Kuwait, menurut survei tersebut, yang mengindikasikan anggota-anggota produsen di kawasan Teluk telah memulihkan pasokan yang sempat terhenti akibat konflik Iran dan penutupan efektif Selat Hormuz.
Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level $85 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level $80 per barel.
Jam | Data | Aktual | Ekspektasi | Sebelumnya |
17:00 | USA - NFIB Business Optimism Index |
| 97.8 | 97.4 |
21:00 | USA - Existing Home Sales |
| 4.04M | 4.09M |