| Pembukaan | % Perubahan |
EURUSD | 1.1625 | -0.14% |
GBPUSD | 1.3438 | -0.13% |
AUDUSD | 0.6521 | -0.17% |
NZDUSD | 0.5946 | -0.32% |
USDJPY | 147.99 | 0.30% |
USDCHF | 0.8108 | 0.22% |
USDCAD | 1.3773 | 0.05% |
GOLDUD | 3,344.00 | -0.05% |
COFU | 64.00 | 0.28% |
USD/IDR | 16,248 | 0.00% |
Selasa, 12 Agustus 2025 - Harga minyak pagi ini terpantau bergerak bullish didukung oleh keputusan AS dan China untuk kembali memperpanjang gencatan tarif dagang yang sekaligus meredam kekhawatiran akan eskalasi perang tarif antara dua ekonomi raksasa dunia itu. Serangan Israel yang makin intens ke Gaza juga turut menjadi katalis positif bagi harga minyak.
Presiden AS Donald Trump pada hari Senin mengumumkan telah menandatangani perintah eksekutif yang menangguhkan pengenaan tarif yang lebih tinggi hingga pukul 12:01 EST (0501 GMT) pada 10 November. Kementerian Perdagangan China merilis jeda paralel terkait tarif tambahan pada Selasa pagi, sekaligus menunda selama 90 hari penambahan perusahaan AS yang telah ditargetkan pada bulan April ke dalam daftar pembatasan perdagangan dan investasi. Berita tersebut meredakan kekhawatiran sebelumnya akan potensi eskalasi perang tarif lebih lanjut, terutama dengan adanya ancaman bea masuk hingga tiga digit untuk barang satu sama lain.
Dukungan lainnya datang dari eskalasi serangan di Gaza pasca Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa serangan baru yang diperluas terhadap Hamas akan mempercepat berakhirnya perang. Militer Israel melancarkan serangan tank dan pesawat pada hari Senin yang menargetkan kota Sabra, Zeitoun, dan Shejaia, tiga pinggiran timur Kota Gaza, tepat beberapa jam pasca pernyataan dari Netanyahu tersebut.
Sementara itu, India berharap perundingan dagang dengan AS akan terus berlanjut meskipun AS telah menaikkan tarif ekspor India ke AS menjadi 50% karena pembelian minyak Rusia, kata dua anggota parlemen India pada hari Senin. Meski India mengisyaratkan sikap untuk tidak ingin mendorong konflik tarif dengan AS semakin meningkat, namun potensi sanksi lebih berat terhadap pembeli minyak Rusia masih membayangi, terutama jika kesepakatan damai Ukraina tidak segera tercapai.
Turut membebani harga, ekspor minyak mentah Saudi ke China diperkirakan akan turun pada bulan September karena eksportir minyak terbesar dunia itu menaikkan harga, kata beberapa sumber perdagangan pada hari Senin. Perusahaan minyak negara Saudi Aramco akan mengirimkan sekitar 43 juta barel atau setara 1,43 juta bph ke China pada bulan September, turun dari bulan Agustus yang mencapai 1,65 juta bph, ungkap perhitungan alokasi untuk kilang-kilang di China.
Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level $66 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level $61 per barel.
Jam | Data | Aktual | Ekspektasi | Sebelumnya |
17:00 | USA - NFIB Business Optimism Index |
| 98.6 | 98.6 |
19:30 | USA - Inflation Rate MoM |
| 0.2% | 0.3% |
19:30 | USA - CPI |
| 323.17 | 322.56 |