| Pembukaan | % Perubahan |
EURUSD | 1.1511 | 0.10% |
GBPUSD | 1.3330 | 0.02% |
AUDUSD | 0.7027 | 0.27% |
NZDUSD | 0.5782 | 0.21% |
USDJPY | 160.25 | 0.06% |
USDCHF | 0.7959 | 0.24% |
USDCAD | 1.3939 | 0.08% |
GOLDUD | 4,321.32 | -0.06% |
COFU | 93.00 | 0.47% |
USD/IDR | 18,035 | 0.00% |
Senin, 08 Juni 2026 - Mengawali pembukaan pekan pagi ini, harga minyak bergerak terkoreksi bullish menyusul aksi saling serang Israel - Iran yang memicu kekhawatiran akan membuat situasi di wilayah regional kembali memuncak, dan sekaligus meredupkan harapan tercapainya kesepakatan damai AS - Iran dalam waktu dekat.
Israel mengumumkan telah melancarkan serangan udara pada Senin pagi yang menargetkan Iran tengah dan barat sebagai tanggapan atas serangan rudal Teheran pangkalan udara Ramat David, dekat Nazareth, pada hari Minggu. Media pemerintah Iran melaporkan ledakan di Isfahan, Karaj, Tabriz, dan Teheran, disusul dengan penutupan wilayah udara di sekitar Bandara Internasional Imam Khomeini Teheran, pasca serangan Israel tersebut.
Dukungan lainnya datang dari Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, yang pada hari Minggu menegaskan penolakan atas pernyataan AS yang berencana menggunakan aset Iran untuk memberikan kompensasi kepada sekutu regional atas kerusakan terkait perang. Situasi tersebut berpotensi menghambat tercapainya kesepakatan damai yang sedang diupayakan oleh AS dan Iran.
Sementara itu, dalam pertemuan OPEC+ hari Minggu, tujuh negara anggota termasuk Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman, sepakat akan meningkatkan target produksi minyak sebesar 188.000 bph pada bulan Juli, setara dengan peningkatan bulan Juni, dan sekaligus menandai peningkatan produksi keempat dalam beberapa bulan terakhir.
Turut membebani harga, Saudi Aramco memangkas Harga Jual Resmi (OSP) bulan Juli untuk minyak mentah andalannya, Arab Light, yang ditujukan untuk Asia sebesar $6 per barel, menandai penurunan untuk bulan kedua berturut-turut. Pemangkasan tersebut didorong oleh permintaan yang melambat, pasca kilang-kilang di China mengurangi produksi dan menggunakan persediaan karena kerugian penyulingan yang terus meningkat, sehingga menyebabkan penurunan tajam permintaan di negara importir minyak pertama dunia itu.
Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level $96 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level $91 per barel.
Jam | Data | Aktual | Ekspektasi | Sebelumnya |
22:00 | USA - Consumer Inflation Expectations |
| 3.8% | 3.6% |