Home
>
News
>
Publication
>
Sektor Properti China Belum Pulih, Harga Minyak Ikut Terbebani
Sektor Properti China Belum Pulih, Harga Minyak Ikut Terbebani
Monday, 26 February 2024

Indikator Harga

 

Pembukaan

% Perubahan

EURUSD

1.08240

-0.08%

GBPUSD

1.26620

-0.02%

AUDUSD

0.65640

-0.17%

NZDUSD

0.61970

-0.45%

USDJPY

150.410

0.11%

USDCHF

0.88050

0.17%

USDCAD

1.34990

0.11%

GOLDUD

2,033.590

-0.15%

COFU

76.40

-0.34%

USD/IDR

15,595

0.22%

Fokus Crude Oil:

  • Tren penurunan harga rumah di China secara nasional masih berlanjut meskipun ada stimulus Pemerintah.
  • OPEC+ diperkirakan akan melanjutkan pemangkasan produksi hingga kuartal berikutnya, ungkap survei terbaru Bloomberg.

***************************************************************

Senin, 26 Februari 2024 - Harga minyak pagi ini terpantau bergerak pada tren bearish, dibebani oleh data terbaru sektor properti China yang masih belum pulih serta laporan jumlah rig minyak AS. Meski demikian, potensi OPEC+ untuk memperpanjang kebijakan dan situasi di Laut Merah yang masih terus memanas memberikan dukungan pada harga minyak.

Harga rumah baru di China memperlambat penurunan bulan ke bulan di bulan Januari dengan kota-kota terbesar mulai stabil, namun tren penurunan secara nasional masih berlanjut meskipun ada dukungan stimulus dari Pemerintah untuk menghidupkan kembali permintaan di sektor properti. Harga rumah baru bulan Januari turun 0,3% dari sebelumnya 0,4% di bulan Desember, ungkap data dari Biro Statistik Nasional (NBS) pada hari Jumat. Data tersebut mengindikasikan bahwa pemulihan ekonomi China belum maksimal sepenuhnya, yang artinya dari sisi permintaan terhadap sejumlah komoditas termasuk minyak mentah juga masih belum pulih.

Sentimen negatif lainnya datang dari laporan terbaru yang dirilis oleh perusahaan layanan jasa energi, Baker Hughes, yang menunjukkan jumlah rig minyak AS melonjak sebesar 6 rig menjadi 503 rig untuk pekan yang berakhir 23 Februari, yang sekaligus menandai peningkatan terbesar sejak awal tahun ini. Laporan tersebut mengisyaratkan potensi peningkatan pasokan minyak AS di masa mendatang.

Sementara itu, Arab Saudi dan sekutunya yang tergabung dalam aliansi OPEC+ diperkirakan akan melanjutkan pemangkasan produksi sekitar 2 juta bph setelah bulan Maret, ungkap survei yang dilakukan Bloomberg. Sebanyak 14 dari 17 sumber yang disurvei melihat bahwa keputusan itu sangat mungkin dilakukan seiring dengan melambatnya pertumbuhan permintaan global dan produksi minyak mentah AS yang meningkat. Sementara 3 sumber lainnya memperkirakan pembatasan tersebut akan dilonggarkan secara bertahap.

Dari Timur Tengah dilaporkan bahwa serangan Houthi terhadap kapal-kapal yang melalui Laut Merah masih terus berlangsung. Pasukan AS dan Inggris melancarkan serangan terhadap lebih dari selusin sasaran Houthi di Yaman pada hari Sabtu, sebagai balasan atas serangan Houthi yang menargetkan kapal tanker milik AS, Torm Thor, di Teluk Aden pada hari yang sama. Ketegangan yang terus berlangsung di Laut Merah turut mengganggu pola distribusi komoditas secara global karena jalur Laut Merah membawa lebih dari 10% dari seluruh perdagangan internasional, mewakili sekitar 20% lalu lintas peti kemas secara global.

Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level $78 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level $74 per barel.

DATA EKONOMI HARIAN

Jam

Data

Aktual

Ekspektasi

Sebelumnya

20:00

USA - Building Permits Final

 

1.470M

1.493M

22:00

USA - New Home Sales

 

0.680M

0.664M

22:30

USA - Dallas Fed Manufacturing Index

 

 

-27.4

Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange

Crude Oil Daily Newsletter

Licensed and supervised by
Member of
Certified by
© Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX)
Join Our Monthly Newsletter
Follow Us
Contact Us
Jl. M.H. Thamrin No.3 7th Floor, RT.11/RW.2, Gambir, Central Jakarta City, Jakarta 10110
+62 21 4050 7788