Home
>
News
>
Publication
>
Pound Sterling Tertekan Akibat Ekspektasi Kebijakan The Fed yang Ketat
Pound Sterling Tertekan Akibat Ekspektasi Kebijakan The Fed yang Ketat
Wednesday, 10 December 2025

INDIKATOR HARGA

 

Pembukaan

% Perubahan

EURUSD

1.1628

-0.05%

GBPUSD

1.3304

-0.12%

AUDUSD

0.6647

-0.23%

NZDUSD

0.5782

-0.28%

USDJPY

156.66

0.17%

USDCHF

0.8052

0.16%

USDCAD

1.3839

0.11%

GOLDUD

4209.44

0.21%

USD/IDR

16,672

0.00%

Fokus GBP/USD:

  1. Jelang Keputusan penting The Fed.
  2. Pejabat BoE menyampaikan pandangan penuh kehati-hatian.

Rabu, 10 Desember 2025 – Poundsterling dibuka di 1.3304 dan turun -0.12%. GBP/USD kembali berada di bawah tekanan memasuki paruh pertama pekan ini, seiring pasar global menumpuk eksposur terhadap Dollar AS menjelang keputusan penting Federal Reserve pada 10 Desember. Meskipun pemangkasan suku bunga oleh The Fed diperkirakan hampir pasti terjadi dengan probabilitas pasar berada di kisaran 85-90 persen investor melihat bahwa dampak terbesar bukan pada keputusan itu sendiri, melainkan pada detail komunikasi yang menyertainya. Pelaku pasar khawatir bahwa Powell, dalam salah satu konferensi pers terakhir sebelum transisi kepemimpinan The Fed pada 2026, dapat memberikan sinyal yang lebih berhati-hati mengenai arah suku bunga jangka panjang. Di tengah inflasi AS yang masih “lengket” dan data tenaga kerja seperti JOLTS serta ADP yang menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja belum benar-benar melemah, ruang untuk sikap dovish yang agresif menjadi semakin sempit. Ekspektasi bahwa The Fed mungkin menahan pelonggaran yang terlalu cepat membuat arus kapital kembali masuk ke USD, sehingga menekan Pound dan mendorong GBP/USD melemah konsisten.

Pada saat yang sama, dinamika domestik Inggris tidak memberikan dukungan kuat bagi Pound. Sejumlah pejabat Bank of England menyampaikan pandangan yang semakin mengarah pada kehati-hatian, bahkan sebagian mulai terbuka pada potensi pemangkasan suku bunga lebih cepat jika tren penurunan inflasi berlanjut. Pernyataan Clare Lombardelli yang menyoroti risiko struktural terhadap inflasi dan kekhawatirannya bahwa kebijakan moneter mungkin tidak seketat yang diasumsikan pasar memperdalam ketidakpastian. Catherine Mann, yang selama ini dikenal hawkish, juga menegaskan bahwa perilaku harga di Inggris telah berubah setelah empat tahun inflasi di atas 2 persen—menandakan bahwa tekanan inflasi tidak akan turun secepat yang diharapkan. Ditambah lagi, perlambatan konsumsi terlihat dari turunnya penjualan ritel menurut data BRC. Dengan prospek seperti ini, pasar menilai bahwa BoE tidak memiliki ruang bagi sikap hawkish yang kuat, sehingga Pound kehilangan daya saingnya terhadap USD.

Secara eksternal, pasar juga memperhatikan perbedaan kecepatan pemulihan ekonomi antara AS dan Inggris. Sinyal yang datang dari OECD menunjukkan bahwa pertumbuhan Inggris memang membaik, namun pemulihan tersebut masih rapuh dan sangat bergantung pada stabilitas harga serta kondisi pasar tenaga kerja yang mulai menunjukkan tanda moderasi. Investor juga menantikan data inflasi PCE AS dan laporan tenaga kerja resmi sebagai penentu arah kebijakan moneter global ke depan. Kombinasi ekspektasi Fed yang lebih defensif, ketidakpastian suku bunga BoE, serta lemahnya data konsumsi Inggris menciptakan tekanan serempak yang menahan pemulihan Pound. Dengan demikian, GBP/USD tetap berada dalam bias pelemahan yang kuat, dan pasar kemungkinan menunggu kejutan positif yang signifikan sebelum mempertimbangkan pembalikan arah yang lebih solid.

Secara teknikal kinerja mata uang GBP/USD turun. Support terdekat berada di 1.3275, dengan resistance di 1.3335. Support selanjutnya berada pada level 1.3240 dan dilanjutkan ke level 1.3185. Sedangkan resistance lanjutan di area 1.3360 hingga 1.3395.

EURUSD – Euro dibuka di 1.1628 dan melemah -0.05%. EUR/USD bergerak melemah karena pasar kembali meningkatkan eksposur terhadap Dollar menjelang keputusan penting The Fed. Meskipun peluang pemangkasan suku bunga pada pertemuan Desember kini di atas 85 persen, pelaku pasar menilai bahwa pemotongan tersebut mungkin disertai dengan komunikasi yang ketat. Ekspektasi “hawkish cut” muncul setelah data tenaga kerja seperti ADP dan JOLTS memperlihatkan bahwa pasar kerja AS tetap resilien. Kondisi ini tidak hanya meredam spekulasi pemangkasan agresif tahun depan, tetapi juga memberikan ruang bagi Dollar untuk mempertahankan dominasinya. Di sisi lain, investor menilai bahwa Eropa belum memiliki katalis pertumbuhan yang cukup untuk menyaingi momentum AS. Aktivitas industri dan konsumsi di kawasan Euro masih bergerak lambat, sementara tekanan inflasi mulai turun namun belum memberikan gambaran pemulihan yang kuat. Pada saat yang sama, sejumlah pejabat ECB terus menyampaikan pandangan yang cenderung netral sehingga tidak ada dorongan kuat yang bisa menahan pelemahan Euro. Investor menunggu data inflasi inti Jerman dan Prancis untuk memastikan apakah tren penurunan inflasi dapat bertahan, sebab jika inflasi kembali turun signifikan, pasar bisa mempercepat proyeksi pemangkasan suku bunga ECB pada 2025. Dengan kondisi seperti ini, pergerakan Euro menjadi sangat bergantung pada dinamika sentimen USD, sehingga pelemahan menjadi lebih dalam menjelang rilis dot plot Fed yang akan menentukan arah suku bunga jangka panjang. Support terdekat berada di 1.1605, sementara resistance berada di 1.1650.

AUDUSD – Dolar Australia dibuka di 0.6647 dan melemah -0.23%. AUD/USD juga melemah karena tekanan global yang mengarah pada penguatan USD. Dalam beberapa pekan terakhir, Australia sebenarnya memiliki dinamika domestik yang relatif konstruktif. Inflasi yang masih tinggi di sektor jasa sempat memicu spekulasi bahwa RBA dapat mempertahankan sikap hawkish lebih lama dibanding bank sentral lain. Namun, momentum tersebut tidak cukup untuk menahan arus permintaan Dollar AS yang kembali menguat. Investor melihat bahwa diferensial suku bunga ke depan masih akan berpihak pada AS, terutama jika Fed mengirim sinyal bahwa proyeksi pelonggaran untuk 2026 bisa lebih kecil dari perkiraan. Selain itu, tekanan eksternal dari Tiongkok juga mempengaruhi kinerja Aussie. Data CPI dan PPI Tiongkok yang kembali menunjukkan sentimen yang tidak solid menimbulkan kekhawatiran mengenai daya serap permintaan komoditas global. Sebagai negara yang mengandalkan ekspor bahan baku seperti bijih besi dan batubara ke Tiongkok, kondisi tersebut langsung menekan AUD. Investor juga mengambil posisi defensif menjelang rilis data ekonomi AS berikutnya, sehingga risk sentiment kembali mendingin dan membuat mata uang komoditas seperti AUD sulit mempertahankan performanya. Support terdekat berada di 0.6620, sedangkan resistance berada di 0.6675.

NZDUSD – Kiwi dibuka di 0.5782 dan turun -0.28%. NZD/USD bergerak melemah setelah reli sebelumnya tertahan oleh meningkatnya arus permintaan terhadap Dollar AS. Pada kondisi normal, Kiwi cenderung mendapatkan keuntungan ketika pasar berada pada mode risk-on. Namun, jelang keputusan Fed, investor global beralih ke pendekatan lebih konservatif sehingga permintaan terhadap aset berisiko menurun. Data tenaga kerja AS yang masih kuat telah menciptakan pandangan bahwa Fed tidak memiliki urgensi untuk melakukan pelonggaran besar pada 2026. Ketidakpastian mengenai nada komunikasi Fed ini membuat Kiwi kehilangan momentum. Selain faktor eksternal, pasar juga terus mencermati kebijakan moneter RBNZ. Bank sentral Selandia Baru memang mempertahankan sikap hawkish karena inflasi masih berada di atas batas target, namun investor menilai bahwa bila kondisi global melemah atau resesi ringan terjadi di AS, RBNZ dapat terpaksa melonggarkan kebijakan lebih cepat. Ditambah lagi, hubungan dagang Selandia Baru dengan Tiongkok membuat NZD sangat sensitif terhadap perkembangan ekonomi di Beijing. Dengan data inflasi dan sektor manufaktur Tiongkok yang belum menunjukkan pola stabil, tekanan terhadap NZD semakin kuat dan membuat pasangan ini melanjutkan tren pelemahannya. Support terdekat berada di 0.5755, dengan resistance di 0.5805.

USDJPY – Yen Jepang dibuka di 156.66 dan menguat terhadap dolar AS sebesar 0.17%. USD/JPY menguat karena kombinasi penguatan Dollar dan pelemahan Yen akibat ketidakpastian domestik Jepang. Setelah gempa besar yang melanda wilayah Jepang, pelaku pasar memperkirakan bahwa Bank of Japan mungkin akan menunda rencana normalisasi suku bunga. Sebelumnya, BoJ telah mengirim sinyal bahwa kenaikan suku bunga dapat dilakukan sebelum akhir tahun, namun gangguan ekonomi akibat bencana alam memberi alasan bagi bank sentral untuk mempertahankan kebijakan ultra-longgar lebih lama. Hal ini melemahkan ekspektasi pasar terhadap penguatan Yen. Di saat yang sama, dinamika global mendukung penguatan USD. Data tenaga kerja yang kuat, ekspektasi “hawkish cut,” dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik membuat investor menempatkan posisi beli terhadap Dollar. Yen yang biasanya menjadi aset safe haven justru tidak mendapatkan dukungan memadai karena risiko domestik yang meningkat, sehingga fungsinya sebagai mata uang pelindung tergerus oleh sentimen negatif internal. Kombinasi faktor ini membuat USD/JPY tetap berada dalam bias naik yang kuat. Support terdekat berada di 156.35, sementara resistance terdekat berada di 157.00.

USDCHF – Pasangan USDCHF dibuka di 0.8052 dan menguat 0.16%. USD/CHF menguat seiring meningkatnya minat investor terhadap Dollar AS. Kekuatan USD didukung oleh data ekonomi AS yang tetap solid, terutama dari sektor ketenagakerjaan yang terus memberikan kejutan positif. Walaupun peluang pemotongan suku bunga pada Desember sudah sangat tinggi, pasar menilai bahwa arah kebijakan jangka panjang masih akan mendukung USD. Dot plot yang lebih ketat, terutama untuk proyeksi 2026, berpotensi memperkuat pandangan tersebut. Dalam konteks ini, Swiss Franc tidak mendapatkan banyak ruang untuk menguat. Permintaan terhadap CHF sebagai safe haven juga melemah setelah risiko global sedikit mereda. Pasar melihat bahwa pembicaraan damai Ukraina-Rusia yang kembali muncul serta penilaian atas dampak gempa Jepang membuat investor lebih tenang. Swiss National Bank yang masih mempertahankan kebijakan moneter yang longgar turut mempersempit daya tarik CHF. Situasi ini membuat USD memiliki dominasi yang lebih besar terhadap Franc, sehingga USD/CHF menguat konsisten. Support terdekat berada di 0.8030, sedangkan resistance berada di 0.8075.

USDCAD – Dolar Kanada dibuka di 1.3839 dan menguat 0.11%. USD/CAD menguat karena tekanan terhadap CAD dari melemahnya harga minyak dan meningkatnya permintaan USD secara global. Kanada sangat sensitif terhadap pergerakan harga energi, dan melemahnya minyak mentah dalam beberapa sesi terakhir menciptakan tekanan tambahan. Kekhawatiran bahwa permintaan minyak dunia melambat akibat data ekonomi Tiongkok yang lemah menjadi salah satu pemicu sentimen negatif terhadap loonie. Di sisi lain, momentum penguatan Dollar AS membuat USD/CAD berada pada jalur kenaikan yang stabil. Selain itu, kebijakan moneter Bank of Canada masih memberikan tekanan tambahan. BoC menunjukkan kecenderungan lebih dovish dibanding The Fed, sehingga pasar mulai memperkirakan bahwa pemangkasan suku bunga di Kanada mungkin terjadi lebih cepat. Sementara itu, investor menilai bahwa Fed masih akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi dalam jangka lebih lama. Perbedaan arah kebijakan ini memperlebar selisih imbal hasil antara AS dan Kanada, yang pada akhirnya memberikan dorongan tambahan bagi kenaikan USD/CAD. Support terdekat berada di 1.3815, dan resistance di 1.3865.

DATA EKONOMI HARIAN

Jam

Pair

Data

Actual

Ekspektasi

Sebelumnya

1:01am

USD

10-y Bond Auction

4.18|2.6

-

4.07|2.4

3:45am

NZD

RBNZ Gov Breman Speaks

-

-

-

4:30am

USD

API Weekly Statistical Bulletin

-

-

-

4:48am

NZD

Visitor Arrivals m/m

0.6%

-

2.9%

6:10am

USD

President Trump Speaks

-

-

-

6:50am

JPY

PPI y/y

2.7%

2.7%

2.7%

8:30am

CNY

CPI y/y

0.7%

0.7%

0.2%

8:30am

CNY

PPI y/y

-2.2%

-2.0%

-2.1%

4:00pm

EUR

Italian Industrial Production m/m

-

-0.3%

2.8%

Tentative

GBP

10-y Bond Auction

-

-

4.61|2.8

5:55pm

EUR

ECB President Lagarde Speaks

-

-

 

8:30pm

USD

Employment Cost Index q/q

-

0.9%

0.9%

9:45pm

CAD

BOC Rate Statement

-

 

 

9:45pm

CAD

Overnight Rate

-

2.25%

2.25%

10:30pm

CAD

BOC Press Conference

-

 

 

10:30pm

USD

Crude Oil Inventories

-

-1.2M

0.6M

Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange

Forex Daily Newsletter

Licensed and supervised by
Member of
Certified by
© Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX)
Join Our Monthly Newsletter
Follow Us
Contact Us
Midpoint Place, 22nd Floor, K.H. Fachrudin Street No. 26, Tanah Abang, Jakarta Pusat
Jl. M.H. Thamrin No.3 7th Floor, RT.11/RW.2, Gambir, Central Jakarta City, Jakarta 10110
+62 21 4050 7788