| Pembukaan | % Perubahan |
EURUSD | 1.1871 | 0.09% |
GBPUSD | 1.3666 | 0.11% |
AUDUSD | 0.6916 | -0.13% |
NZDUSD | 0.5972 | -0.22% |
USDJPY | 154.13 | -0.03% |
USDCHF | 0.7761 | 0.18% |
USDCAD | 1.3707 | 0.09% |
GOLDUD | 5,035.79 | 0.80% |
COFU | 60.78 | -0.74% |
USD/IDR | 16,774 | 0.00% |
Selasa, 27 Januari 2026 - Harga minyak pagi ini terpantau bergerak bearish tertekan oleh sentimen dari sinyal konflik dagang baru antara AS dengan Korea Selatan, dan potensi tambahan pasokan Rusia ke pasar. Meski demikian, isyarat OPEC+ untuk menahan peningkatan produksi, dan ancaman badai musim dingin Fern di AS menjadi katalis positif yang berpotensi mendukung harga kembali menguat.
Presiden AS Donald Trump pada hari Senin mengatakan akan menaikkan tarif impor barang-barang Korea Selatan ke AS, termasuk mobil, kayu, dan farmasi, dari 15% menjadi 25% sebagai tanggapan karena Korea Selatan belum mengesahkan kesepakatan dagang yang disepakati oleh Trump dan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung pada Juli tahun lalu. Meskipun belum jelas kapan tarif baru tersebut akan berlaku, namun berita tersebut memicu kekhawatiran akan mendorong terjadinya konflik dagang baru antara AS dengan Korea Selatan.
Turut membebani harga, Rusia dilaporkan menjual minyak mentah jenis Urals untuk pengiriman bulan Februari ke pelabuhan India dengan diskon $10 per barel dibandingkan dengan Brent, yang sekaligus mendekati diskon terbesar sejak 2022, ungkap dua sumber pada hari Senin. Dengan diskon besar yang ditawarkan tersebut memicu kekhawatiran akan mendorong lebih banyak pasokan minyak Rusia ke pasar.
Sementara itu, delapan anggota OPEC+ diperkirakan akan mempertahankan untuk menangguhkan peningkatan produksi minyak untuk kuartal pertama tahun ini pada pertemuan 1 Februari, ungkap tiga delegasi dari kelompok aliansi itu. Delapan anggota yang akan bertemu itu termasuk Arab Saudi, Rusia, UEA, Kazakhstan, Kuwait, Irak, Aljazair, dan Oman, merupakan anggota produsen utama di OPEC+ yang berkontribusi atas sekitar setengah dari pasokan minyak dunia.
Dukungan lainnya datang dari ancaman badai musim dingin Fern yang menghantam pantai AS berpotensi memangkas produksi minyak mentah hingga 2 juta barel per hari atau sekitar 15 persen dari produksi nasional selama akhir pekan, ungkap sumber analis dan pedagang. Dalam laporan yang dirilis hari Senin, JPMorgan mengatakan bahwa cuaca buruk telah menyebabkan penurunan produksi minyak sekitar 250.000 bph, termasuk di ladang Bakken di Oklahoma dan sebagian Texas.
Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level $63 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level $58 per barel.
Jam | Data | Aktual | Ekspektasi | Sebelumnya |
21:00 | USA - S&P/case Shiller Home Price YoY |
| 1.2% | 1.3% |
21:00 | USA - Home Price Index MoM |
| 0.3% | 0.4% |
22:00 | USA - CB Consumer Confidence |
| 90.9 | 89.1 |
22:00 | USA - Richmond Fed Manufacturing Index |
| -8 | -7 |