Home
>
News
>
Publication
>
Permintaan Bahan Bakar China Melemah, Laju Minyak Ikut Terbebani
Permintaan Bahan Bakar China Melemah, Laju Minyak Ikut Terbebani
Friday, 20 December 2024

Indikator Harga

 

Pembukaan

% Perubahan

EURUSD

1.03620

-0.02%

GBPUSD

1.25010

-0.14%

AUDUSD

0.62380

-0.19%

NZDUSD

0.56270

-0.16%

USDJPY

157.430

0.04%

USDCHF

0.89840

0.12%

USDCAD

1.43970

0.20%

GOLDUD

2,593.870

0.18%

COFU

69.23

-0.32%

USD/IDR

16,290

0.06%

Fokus Crude Oil:

  • Konsumsi minyak China akan mencapai puncaknya pada 2027 karena melemahnya permintaan bahan bakar.
  • BP dan pemerintah Irak sepakati persyaratan teknis untuk membangun kembali ladang minyak Kirkuk.

***********************************************************

Jumat, 20 Desember 2024 - Pada penutupan pekan pagi ini, harga minyak terpantau bergerak melemah tertekan oleh sentimen dari proyeksi pesimis permintaan China, dan potensi tambahan pasokan dari Irak pasca tercapainya kesepakatan teknis terkait ladang minyak Kirkuk.

Konsumsi minyak China diperkirakan akan mencapai puncaknya pada tahun 2027, sekitar 800 juta metrik ton atau setara 16 juta barel minyak per hari, karena melemahnya permintaan solar dan bensin, ungkap raksasa penyulingan terbesar di Asia, Sinopec, pada hari Kamis. Permintaan solar diperkirakan turun 5,5% menjadi 174 juta ton, dan permintaan bensin turun 2,4 % menjadi 173 juta ton pada tahun 2025, tambah Sinopec.

Turut membebani harga, perusahaan minyak raksasa asal Inggris, BP, dan pemerintah Irak telah menyepakati persyaratan teknis untuk membangun kembali ladang minyak dan gas Kirkuk, kata Wakil Presiden Eksekutif BP, William Lin, pada hari Kamis. Kesepakatan tersebut merupakan tindak lanjut setelah penandatanganan perjanjian antar kedua pihak pada bulan Agustus lalu. BP memperkirakan ladang Kirkuk menyimpan sekitar 9 miliar barel minyak yang dapat diambil.

Sementara itu, konflik antara Israel dan kelompok Houthi menunjukkan peningkatan lebih lanjut pasca Israel melancarkan serangan terhadap pelabuhan dan infrastruktur energi di wilayah Yaman yang dikuasai Houthi pada hari Kamis dan mengancam serangan lebih lanjut terhadap kelompok militan yang berpihak pada Iran. Houthi menegaskan berjanji akan memberikan respon atas serangan dari Israel tersebut, kata juru bicara militer kelompok itu, Yahya Saree, pada hari Kamis.

Dukungan lainnya datang dari aliansi negara-negara G7 yang sedang mempertimbangkan untuk memperketat batas harga minyak Rusia, termasuk kemungkinan menurunkan batas harga saat ini sebesar $60 per barel menjadi sekitar $40 atau bahkan penerapan larangan menyeluruh atas pasokan minyak Rusia, ungkap sumber pada hari Kamis. Pembatasan yang lebih ketat tersebut berpotensi membuat sektor minyak Rusia semakin tertekan, yang terlihat dari beberapa kilang minyak Rusia, termasuk yang ada di Tuapse, Ilyich, dan Novoshakhtinsk, telah mengurangi atau menangguhkan operasi karena dampak gabungan dari sanksi dan serangan Ukraina.

Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level $71 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level $67 per barel.

DATA EKONOMI HARIAN

Jam

Data

Aktual

Ekspektasi

Sebelumnya

20:30

USA - PCE Price Index MoM

 

0.2%

0.2%

20:30

USA - Personal Income MoM

 

0.4%

0.6%

20:30

USA - Personal Spending MoM

 

0.5%

0.4%

22:00

USA - Michigan Consumer Sentiment Final

 

74.0

71.8

22:00

USA - Michigan Inflation Expectations Final

 

2.9%

2.6%

Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange

Crude Oil Daily Newsletter

Licensed and supervised by
Member of
Certified by
© Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX)
Join Our Monthly Newsletter
Follow Us
Contact Us
Jl. M.H. Thamrin No.3 7th Floor, RT.11/RW.2, Gambir, Central Jakarta City, Jakarta 10110
+62 21 4050 7788