Home
>
News
>
Publication
>
Minyak Terkoreksi Menguat Dipicu Potensi Eskalasi Dua Konflik Besar
Minyak Terkoreksi Menguat Dipicu Potensi Eskalasi Dua Konflik Besar
Monday, 18 November 2024

Indikator Harga

 

Pembukaan

% Perubahan

EURUSD

1.05330

0.10%

GBPUSD

1.26100

0.22%

AUDUSD

0.64520

0.36%

NZDUSD

0.58580

0.14%

USDJPY

154.410

-0.07%

USDCHF

0.88750

-0.06%

USDCAD

1.40900

-0.11%

GOLDUD

2,561.090

0.42%

COFU

66.77

0.27%

USD/IDR

15,840

0.00%

Fokus Crude Oil:

  • Israel menewaskan kepala media Hizbullah dalam serangan terbarunya di Beirut.
  • Biden mengizinkan Ukraina menggunakan senjata buatan AS untuk menyerang wilayah Rusia.

***********************************************************

Senin, 18 November 2024 - Mengawali pembukaan pekan pagi ini, harga minyak terpantau bergerak terkoreksi menguat didukung oleh isyarat meningkatnya konflik di Timur Tengah antara Israel dan Lebanon, serta konflik di Eropa timur antara Rusia dan Ukraina.

Kelompok Hizbullah mengonfirmasi bahwa kepala hubungan medianya Mohammad Afif tewas dalam serangan terbaru yang dilancarkan Israel di sebuah gedung di pusat kota Beirut pada hari Minggu. Menyusul setelahnya, Israel juga melancarkan serangan kedua terpisah pada Minggu sore yang menghantam jalan Mar Elias, kutip media TV Al-Manar milik Hizbullah. Kedua serangan Israel yang menargetkan personel yang tidak memiliki peran militer serta lokasi warga sipil Lebanon itu memicu kekhawatiran akan memuncaknya konflik di wilayah Timur Tengah tersebut. 

Turut mendukung pergerakan harga lebih lanjut, Presiden Joe Biden telah mengizinkan Ukraina menggunakan senjata buatan AS untuk menyerang wilayah Rusia, ungkap dua pejabat AS dan seorang sumber pada hari Minggu. Ukraina berencana untuk melakukan serangan jarak jauh pertamanya dalam beberapa hari mendatang, tambah sumber tersebut. Keputusan yang diambil Biden itu mengindikasikan potensi eskalasi konflik yang lebih intens di wilayah Eropa timur tersebut, karena Rusia sebelumnya telah memperingatkan akan terjadinya eskalasi jika batasan penggunaan senjata AS dilonggarkan.

Dukungan lainnya datang dari laporan setidaknya tiga perusahaan kilang di Rusia yaitu Tuapse, Ilsky, dan Novoshakhtinsky - telah menghentikan produksinya dalam beberapa bulan terakhir akibat kerugian finansial yang disebabkan oleh pembatasan ekspor, kenaikan harga minyak mentah, dan biaya pinjaman yang tinggi, ungkap lima sumber industri. Penghentian produksi yang mengarah pada penutupan usaha kilang tersebut berpotensi mendorong Rusia mengurangi produksi minyak untuk diproses menjadi bahan bakar, yang sekaligus mengindikasikan menurunnya pasokan ekspor bahan bakar Rusia ke pasar energi global. 

Sementara itu, data terbaru yang dirilis pada akhir pekan lalu oleh Biro Statistik Nasional menunjukkan output kilang minyak China bulan Oktober mencapai 59,54 juta metrik ton minyak mentah, setara dengan 14,02 juta bph. Output Oktober tersebut turun dari 14,3 juta bph pada September dan 15,05 juta bph pada Oktober 2023. Data tersebut mengindikasikan permintaan domestik yang lesu di negara importir minyak terbesar pertama dunia itu.

Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level $69 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level $65 per barel.

DATA EKONOMI HARIAN

Jam

Data

Aktual

Ekspektasi

Sebelumnya

22:00

USA - NAHB Housing Market Index

 

44

43

22:00

USA - Fed Goolsbee Speech

 

 

 

Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange

Crude Oil Daily Newsletter

Licensed and supervised by
Member of
Certified by
© Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX)
Join Our Monthly Newsletter
Follow Us
Contact Us
Jl. M.H. Thamrin No.3 7th Floor, RT.11/RW.2, Gambir, Central Jakarta City, Jakarta 10110
+62 21 4050 7788