| Pembukaan | % Perubahan |
EURUSD | 1.08300 | 0.07% |
GBPUSD | 1.28470 | 0.10% |
AUDUSD | 0.67470 | 0.21% |
NZDUSD | 0.60820 | 0.20% |
USDJPY | 161.630 | -0.04% |
USDCHF | 0.89950 | -0.10% |
USDCAD | 1.36180 | -0.03% |
GOLDUD | 2,371.360 | 0.16% |
COFU | 82.40 | 0.45% |
USD/IDR | 16,210 | -0.19% |
Kamis, 11 Juli 2024 - Harga minyak pagi ini terpantau bergerak bullish didukung oleh sentimen dari optimisme OPEC akan pertumbuhan permintaan minyak, meningkatnya ekspektasi penurunan suku bunga AS pada bulan September, dan laporan EIA. Meski demikian, sinyal lesu ekonomi China membatasi pergerakan harga lebih lanjut.
OPEC optimis untuk tetap mempertahankan perkiraan pertumbuhan permintaan minyak global yang bullish hingga tahun depan, dengan mempertimbangkan ekspektasi akan berlanjutnya ekspansi ekonomi dan peningkatan tajam aktivitas perjalanan udara di bulan-bulan musim panas. Permintaan diperkirakan akan meningkat sebesar 2,25 juta bph pada tahun 2024 dan sebesar 1,85 juta bph pada tahun 2025, ungkap Laporan Pasar Minyak Bulanan OPEC yang dirilis hari Rabu. Kedua angka tersebut tidak berubah dari perkiraan pertama yang dirilis pada bulan Januari 2024.
Turut mendukung pergerakan harga lebih lanjut, Ketua The Fed Jerome Powell pada hari Rabu menegaskan bahwa bank sentral AS akan membuat keputusan suku bunga "kapan dan jika" diperlukan, murni berdasarkan data ekonomi, dan tidak mempertimbangkan faktor-faktor lain, termasuk faktor politik. Komentar Powell tersebut memicu ekspektasi penurunan suku bunga dapat dilakukan pada bulan September, bukan karena didorong oleh tindakan politik menjelang pemilihan presiden musim gugur. Suku bunga yang lebih rendah akan menurunkan biaya pinjaman, sehingga dapat meningkatkan aktivitas ekonomi dan juga permintaan minyak.
Sentimen positif lainnya datang dari laporan yang dirilis Rabu malam oleh EIA yang menunjukkan stok minyak mentah dan stok bensin AS dalam sepekan mengalami penurunan masing-masing sebesar 3,4 juta barel dan 2 juta barel untuk pekan yang berakhir 5 Juli. Laporan EIA tersebut mengindikasikan permintaan yang kuat di pasar energi AS.
Sementara itu, pertumbuhan PDB China pada Kuartal II diperkirakan akan meningkat 5,1% atau melambat dibanding pertumbuhan sebesar 5,3% pada Kuartal I, dan sekaligus merupakan yang terlemah sejak Kuartal III tahun 2023, ungkap survei para analis yang dilakukan Reuters pada hari Rabu. Lesunya permintaan konsumen akibat krisis sektor properti, kenaikan harga konsumen, dan perselisihan dagang dengan negara Barat dianggap menjadi pemicu perlambatan tersebut.
Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level $85 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level $80 per barel.
Jam | Data | Aktual | Ekspektasi | Sebelumnya |
19:30 | USA - Inflation Rate YoY |
| 3.1% | 3.3% |
19:30 | USA - Continuing Jobless Claims |
| 1860K | 1858K |
19:30 | USA - Initial Jobless Claims |
| 240K | 238K |
22:30 | USA - Fed Bostic Speech |
|
|
|