| Pembukaan | % Perubahan |
EURUSD | 1.1567 | 0.17% |
GBPUSD | 1.3281 | 0.17% |
AUDUSD | 0.6471 | 0.12% |
NZDUSD | 0.5906 | 0.27% |
USDJPY | 147.08 | -0.32% |
USDCHF | 0.8077 | -0.17% |
USDCAD | 1.3777 | -0.10% |
GOLDUD | 3,376.19 | 0.18% |
COFU | 66.21 | 0.15% |
USD/IDR | 16,489 | -0.64% |
Selasa, 05 Agustus 2025 - Harga minyak pagi ini terpantau bergerak menguat didukung oleh sentimen dari rilisnya data ekonomi terbaru China, dan ancaman meluasnya konflik Gaza. Meski demikian, meningkatnya kekhawatiran perang tarif antara AS dengan India, dan potensi tambahan pasokan Libya membatasi pergerakan harga lebih lanjut.
Pertumbuhan aktivitas jasa di China menunjukkan ekspansi pada laju tercepatnya dalam 14 bulan pada bulan Juli, ungkap survei sektor swasta yang dirilis pada hari Selasa. S&P Global melaporkan PMI Jasa Umum China naik menjadi 52,6 pada bulan Juli dari 50,6 pada bulan sebelumnya, menandai laju tercepat sejak Mei tahun lalu. Data tersebut mengisyaratkan laju pertumbuhan ekonomi yang positif di negara importir minyak terbesar pertama dunia itu.
Dukungan lainnya datang dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang pada hari Senin mengatakan akan mengadakan pertemuan kabinet keamanannya minggu ini untuk memutuskan langkah Israel selanjutnya di Gaza setelah perundingan gencatan senjata tidak langsung dengan Hamas gagal tercapai. Netanyahu juga mempertimbangkan pilihan untuk memperluas serangan dan merebut seluruh wilayah Palestina, ungkap seorang pejabat senior Israel yang dikutip oleh Saluran 12 pada hari Senin.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump pada hari Senin kembali mengancam akan menaikkan tarif barang-barang dari India atas pembelian minyak Rusia, menyusul berita yang beredar sebelumnya bahwa India menegaskan akan tetap membeli minyak Rusia. Menanggapi ancaman Trump tersebut, seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri India mengatakan bahwa India akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melindungi kepentingan nasional dan keamanan ekonominya. Sinyal eskalasi tensi tersebut berpotensi memicu perang tarif baru antara AS dengan India.
Turut membebani harga, perusahaan minyak negara Libya, NOC, pada hari Senin mengumumkan telah menandatangani nota kesepahaman dengan raksasa minyak asal AS, ExxonMobil, yang berfokus untuk mengidentifikasi sumber daya hidrokarbon di empat blok lepas pantai yang terletak di lepas pantai barat laut dan Cekungan Sirte di negara tersebut. Kerjasama tersebut menandai kembali aktifnya investasi baru di negara produsen minyak terbesar kedua di Afrika itu, setelah terhenti selama satu dekade, yang sekaligus mengindikasikan potensi peningkatan pasokan minyak Libya di masa mendatang.
Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level $69 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level $64 per barel.
Jam | Data | Aktual | Ekspektasi | Sebelumnya |
19:30 | USA - Trade Balance |
| $-61.6B | $-71.5B |
20:45 | USA - S&P Global Services PMI Final |
| 55.2 | 52.9 |
21:00 | USA - ISM Services PMI |
| 51.5 | 50.8 |
22:00 | USA - RCM/TIPP Economic Optimism Index |
| 49.2 | 48.6 |