Kamis, 12 Februari 2026 - Pergerakan harga komoditas kelapa sawit, khususnya Crude Palm Oil (CPO) dan Tandan Buah Segar (TBS), menunjukkan dinamika yang optimistis namun tetap realistis pada perdagangan Rabu (11/02/2026). Bagi petani sawit, pelaku industri, dan profesional agribisnis, tren ini mencerminkan peluang stabilitas pendapatan dan daya saing ekspor yang terus terjaga di tengah tantangan global dan domestik.
Data perdagangan yang dirangkum dari Bursa Derivatif Malaysia (MDEX) menunjukkan bahwa harga CPO untuk kontrak Februari 2026 berada di sekitar 4.000 ringgit Malaysia per ton, sedikit turun dari pembukaan namun masih berada dalam rentang yang kompetitif. Kontrak Maret hingga Mei juga menunjukkan penguatan moderat berkisar +27 hingga +33 ringgit pada penutupan trading kemarin, mencerminkan minat pasar yang tetap stabil terhadap minyak sawit mentah.
Secara global, analis memperkirakan harga CPO akan bergerak dalam kisaran 3.800–4.300 ringgit per ton hingga pertengahan 2026, didorong oleh permintaan yang solid meskipun ada peningkatan produksi. Permintaan India, misalnya, diproyeksikan rebound karena CPO Indonesia memiliki harga yang lebih kompetitif dibandingkan beberapa alternatif minyak nabati.
Di tingkat petani, penetapan harga TBS menunjukkan variasi positif di beberapa wilayah utama produksi:
Jadi bila dibandingkan dengan data minggu sebelumnya:
Beberapa faktor yang mendukung stabilitas harga CPO dan TBS antara lain:
Permintaan Global yang Kokoh
Permintaan impor dari negara seperti India diperkirakan meningkat karena CPO Indonesia relatif kompetitif dibandingkan minyak nabati lain.
Kebijakan Produksi dan Biofuel
Walaupun Indonesia memilih untuk menunda perluasan biodiesel B50 sehingga menahan sebagian permintaan domestik minyak sawit, kebijakan ini juga memberi kesempatan pada pasar ekspor untuk mengatur pasokan lebih efisien. Permintaan global yang kuat tetap menjadi faktor positif jangka menengah.
Penetapan Harga TBS yang Transparan
Metode penetapan harga yang melibatkan unsur pemerintah daerah, perusahaan pengolah, dan perwakilan pekebun di beberapa provinsi terus menambah kepercayaan dan kepastian bagi petani.
Melihat tren perdagangan dan data referensi harga, diperkirakan pada Kamis, 12 Februari 2026, harga CPO akan mempertahankan kestabilan dalam kisaran saat ini dengan potensi kenaikan tipis, didorong permintaan ekspor yang tetap kuat dan dukungan permintaan domestik. Di tingkat petani, penetapan harga TBS periode berikutnya berpeluang menguat moderat, terutama jika faktor permintaan CPO terus membaik.
Kesimpulan:
Pergerakan harga CPO dan TBS pada 11 Februari 2026 menggambarkan keseimbangan yang sehat antara produksi, permintaan, dan penetapan harga yang adil. Bagi petani dan pelaku industri, tren ini memberikan sinyal positif untuk perencanaan tanam dan pemasaran ke depan.
Penulis: Yohanes Ferdinan Silaen
Disclaimer On:
Tulisan ini disusun berdasarkan data pasar, laporan lapangan, dan analisis independen. Informasi disajikan untuk tujuan edukatif dan tidak dimaksudkan sebagai rekomendasi investasi. Penulis tidak bertanggung jawab atas keputusan bisnis atau finansial yang diambil berdasarkan artikel ini. Data dan kebijakan dapat berubah sesuai dinamika pasar dan keputusan pemerintah.