Home
>
News
>
Publication
>
Menguatnya Sinyal Perang Dagang Bebani Pergerakan Minyak
Menguatnya Sinyal Perang Dagang Bebani Pergerakan Minyak
Thursday, 27 June 2024

Indikator Harga

 

Pembukaan

% Perubahan

EURUSD

1.06780

-0.07%

GBPUSD

1.26230

-0.02%

AUDUSD

0.66460

-0.09%

NZDUSD

0.60890

-0.16%

USDJPY

160.790

-0.22%

USDCHF

0.89690

0.03%

USDCAD

1.36990

0.04%

GOLDUD

2,299.430

-0.05%

COFU

80.86

-0.38%

USD/IDR

16,385

0.21%

Fokus Crude Oil:

  • China akan mulai melakukan peninjauan kebijakan anti-dumping untuk impor toluidin UE yang akan segera berakhir.
  • Biden ingin melakukan segala kemungkinan untuk memastikan harga bahan bakar tetap rendah, ujar seorang pejabat AS.

***********************************************************

Kamis, 27 Juni 2024 - Harga minyak pagi ini terpantau bergerak bearish dipicu oleh menguatnya sinyal perang dagang China - UE. Selain itu, isyarat AS untuk menahan penerapan sanksi yang lebih berat terhadap Rusia dan Iran, serta rilisnya laporan EIA turut menjadi katalis negatif bagi harga minyak.

Sinyal perang dagang antara China dengan UE terus meningkat. Kementerian Perdagangan China pada hari Kamis mengumumkan akan memulai peninjauan terkait kebijakan tindakan anti-dumping terhadap impor toluidin UE yang akan berakhir pada bulan Juni ini. Toluidin yang digunakan untuk pewarna, obat-obatan, dan pestisida mulai dimasukkan dalam daftar anti-dumping pemerintah China sejak tahun 2013, dan telah diperpanjang selama 5 tahun sejak berakhir pada tahun 2019.

Turut membebani pergerakan harga lebih lanjut, AS mengisyaratkan keraguan untuk menerapkan sanksi minyak terhadap Rusia dan Iran dalam skala penuh karena tengah berupaya untuk menstabilkan harga bahan bakar menjelang pemilihan Presiden AS pada bulan November mendatang. John Smith, mantan kepala Kantor Pengawasan Aset Luar Negeri di Departemen Keuangan AS pada hari Rabu mengatakan bahwa Presiden Biden ingin melakukan segala upaya guna memastikan harga bahan bakar tetap rendah, oleh karenanya AS dan sekutunya menerapkan sanksi baru dengan sangat hati-hati.

Masih dari AS, dalam laporan yang dirilis Rabu malam oleh badan statistik EIA menunjukkan stok minyak mentah naik tak terduga sebesar 3,59 juta barel, di luar ekspektasi sebelumnya yang memperkirakan stok akan turun sebesar 3 juta barel. Untuk stok bensin juga naik tak terduga sebesar 2,65 juta barel, di luar prediksi sebelumnya yang memperkirakan stok akan turun sebesar 1,1 juta barel. Laporan EIA tersebut mengindikasikan permintaan yang sedang lesu di pasar energi AS.

Sementara itu, eskalasi tensi geopolitik antara israel dengan kelompok Hizbullah asal Lebanon memicu kekhawatiran akan mengarah pada perang skala besar baru di wilayah Timur Tengah. Presiden Turki Tayyip Erdogan pada hari Rabu menyatakan dukungan solidaritas dengan Lebanon, dan meminta dukungan serupa dari negara-negara regional.

Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level $82 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level $78 per barel.

DATA EKONOMI HARIAN

Jam

Data

Aktual

Ekspektasi

Sebelumnya

19:30

USA - GDP Growth Rate QoQ Final

 

1.4%

3.4%

19:30

USA - Continuing Jobless Claims

 

1820K

1828K

19:30

USA - Continuing Jobless Claims

 

236K

238K

19:30

USA - Durable Goods Orders MoM

 

-0.1%

0.7%

Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange

Crude Oil Daily Newsletter

Licensed and supervised by
Member of
Certified by
© Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX)
Join Our Monthly Newsletter
Follow Us
Contact Us
Jl. M.H. Thamrin No.3 7th Floor, RT.11/RW.2, Gambir, Central Jakarta City, Jakarta 10110
+62 21 4050 7788