| Pembukaan | % Perubahan |
EURUSD | 1.09130 | 0.06% |
GBPUSD | 1.27540 | 0.02% |
AUDUSD | 0.65680 | 0.20% |
NZDUSD | 0.59930 | 0.27% |
USDJPY | 146.730 | -0.07% |
USDCHF | 0.86370 | -0.08% |
USDCAD | 1.37290 | -0.04% |
GOLDUD | 2,430.710 | 0.04% |
COFU | 76.99 | 0.09% |
USD/IDR | 15,915 | 0.13% |
Senin, 12 Agustus 2024 - Mengawali pembukaan pekan pagi ini, pergerakan harga minyak terpantau melaju bullish dipicu oleh situasi geopolitik di Timur Tengah yang kian memanas dan menambah kekhawatiran akan mengganggu pasokan minyak dari wilayah produksi utama minyak tersebut. Fokus pasar masih tertuju pada ancaman serangan balasan Iran terhadap Israel, dan eskalasi intensitas serangan Israel di Gaza.
Potensi Iran untuk melancarkan serangan balasan terhadap Iran yang dipicu oleh pembunuhan pemimpin Hamas di Iran pada 31 Juli lalu kian menguat pasca dua sumber yang dikutip oleh situs berita Axios pada hari Minggu mengatakan serangan akan dilakukan langsung dalam beberapa hari ke depan, mungkin sebelum pembicaraan gencatan senjata Gaza yang dijadwalkan berlangsung pada hari Kamis nanti.
Selain itu, Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant dalam pembicaraan dengan Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin pada hari Minggu, mengatakan bahwa persiapan militer Iran menunjukkan Iran sedang bersiap untuk serangan skala besar terhadap Israel. Austin juga menambahkan bahwa AS telah memerintahkan pengerahan kapal selam rudal USS Georgia ke Timur Tengah sebagai bentuk komitmen AS dalam mendukung Israel.
Turut menambah eskalasi tensi di Timur Tengah, kelompok Hamas pada hari Minggu menyatakan keraguan untuk menghadiri perundingan baru untuk membahas kelanjutan gencatan senjata Gaza yang dijadwalkan berlangsung pada 15 Agustus di Kairo atau Doha, sesuai desakan dari AS, Mesir, dan Qatar pada minggu lalu. Sumber dari Hamas juga meminta agar pihak mediator untuk menyampaikan rencana gencatan senjata berdasarkan negosiasi yang telah dilakukan sebelumnya, alih-alih memulai kembali negosiasi baru.
Di sisi lain, pasukan Israel pada hari Sabtu lalu meningkatkan serangan udara yang menargetkan sebuah sekolah di Kota Gaza, dan menyusul mengeluarkan perintah evakuasi besar-besaran pada hari Minggu kepada warga di Khan Younis, selatan Jalur Gaza. Perintah evakuasi itu sekaligus menjadi perintah evakuasi terbesar dalam konflik yang telah berlangsung selama 10 bulan di Gaza.
Sentimen positif lainnya datang dari potensi penurunan alokasi ekspor minyak mentah Saudi ke China sekitar 3 juta barel menjadi 43 juta barel pada bulan September mendatang, ungkap beberapa sumber perdagangan pada hari Senin.
Sementara itu, perusahaan energi AS menambah jumlah rig minyak dan gas alam untuk ketiga kalinya dalam empat minggu, ungkap laporan terbaru yang dirilis oleh Baker Hughes untuk penutupan pekan yang berakhir 9 Agustus. Jumlah rig minyak dan gas secara total naik dua rig menjadi 588 rig, dan untuk rig minyak sendiri naik tiga rig menjadi 485 rig. Kenaikan tersebut sekaligus menguatkan indikasi tambahan output AS pada masa mendatang, menyusul proyeksi terbaru dari EIA yang memperkirakan output minyak mentah AS naik menjadi 13,2 juta bph pada tahun 2024, dari rekor sebelumnya 12,9 juta bph pada tahun 2023.
Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level $79 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level $75 per barel.
Jam | Data | Aktual | Ekspektasi | Sebelumnya |
22:00 | USA - Consumer Inflation Expectations |
| 3.0% | 3.0% |