| Pembukaan | % Perubahan |
EURUSD | 1.1720 | -0.19% |
GBPUSD | 1.3450 | -0.13% |
AUDUSD | 0.6693 | -0.28% |
NZDUSD | 0.5757 | -0.16% |
USDJPY | 156.69 | 0.36% |
USDCHF | 0.7918 | 0.21% |
USDCAD | 1.3743 | 0.07% |
GOLDUD | 4,356.50 | 1.49% |
COFU | 57.47 | -0.14% |
USD/IDR | 16,720 | 0.00% |
Senin, 05 Januari 2026 - Mengawali pembukaan pekan pagi ini, harga minyak terpantau masih melanjutkan tren bearish di bawah tekanan dari sentimen pasca rilisnya data ekonomi terbaru China yang lesu. Meski demikian, komitmen OPEC+ untuk mempertahankan produksi yang stabil, dan potensi eskalasi konflik di Iran membatasi penurunan harga lebih lanjut.
Aktivitas sektor jasa Tiongkok bulan Desember menunjukkan laju pertumbuhan paling lambat dalam enam bulan, ungkap hasil survei sektor swasta yang dirilis pada hari Senin. Indeks PMI Jasa Layanan Umum turun menjadi 52,0 pada bulan Desember dari 52,1 pada bulan sebelumnya, dan menandai angka terlemah sejak juni, ungkap S&P Global. Sinyal melesunya aktivitas ekonomi di China tersebut memicu kekhawatiran akan turut berdampak pada penurunan permintaan di negara importir minyak terbesar pertama dunia itu.
Turut membebani harga, produksi minyak Venezuela berpotensi meningkat dalam jangka panjang setelah Presiden Donald Trump pada hari Sabtu mengatakan AS berencana membangun kembali infrastruktur energi Venezuela pasca penangkapan Presiden Nicolas Maduro, ujar bank investasi global, Goldman Sachs. Venezuela selaku pemilik cadangan minyak terbukti yang terbesar di dunia, mencapai puncak produksi di pertengahan tahun 2000-an, yaitu sekitar 3 juta bph, tambah Goldman.
Sementara itu, OPEC dan sekutunya pada hari Minggu menyepakati untuk mempertahankan produksi minyak yang stabil, setelah harga minyak sepanjang tahun 2025 menunjukkan penurunan tajam lebih dari 18 persen, kata seorang delegasi dan sumber yang mengetahui pembicaraan kelompok aliansi produsen tersebut. Selain itu, dalam pertemuan yang berlangsung hari Minggu tersebut, OPEC+ juga membahas mengenai ketegangan politik antara anggota utama Arab Saudi dan UEA yang memuncak bulan lalu, dan penangkapan Presiden Venezuela oleh AS pada akhir pekan.
Dari Timur Tengah, aksi protes yang memicu bentrokan kekerasan dan menewaskan setidaknya 16 orang selama seminggu kerusuhan di Iran berpotensi meningkat lebih lanjut pasca Presiden AS mengancam akan membantu para demonstran jika mereka menghadapi kekerasan. Menanggapi ancaman Trump tersebut, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei mengatakan Iran tidak akan menyerah kepada AS.
Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level $60 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level $55 per barel.
Jam | Data | Aktual | Ekspektasi | Sebelumnya |
22:00 | USA - ISM Manufacturing PMI |
| 48.3 | 48.2 |