| Pembukaan | % Perubahan |
EURUSD | 1.05680 | -0.16% |
GBPUSD | 1.21110 | -0.19% |
AUDUSD | 0.63070 | -0.43% |
NZDUSD | 0.58000 | -0.33% |
USDJPY | 150.190 | 0.07% |
USDCHF | 0.89650 | 0.07% |
USDCAD | 1.37940 | 0.10% |
GOLDUD | 1,979.470 | 0.33% |
COFU | 85.37 | -0.18% |
USD/IDR | 15,880 | 0.26% |
Kamis, 26 Oktober 2023 - Harga minyak pagi ini terpantau bergerak melemah dibebani beberapa sentimen antara lain Israel yang mengisyaratkan penundaan invasi ke Gaza, kebijakan terbaru China mengenai persyaratan kapasitas kilang penyulingan baru, serta laporan stok EIA.
Israel telah setuju untuk menunda invasi yang diperkirakan ke Gaza untuk saat ini hingga AS dapat mengerahkan pertahanan rudal ke wilayah tersebut untuk melindungi pasukan AS di sana, ungkap Wall Street Journal (WSJ) pada hari Rabu, yang dikutip dari para pejabat AS dan Israel. WSJ menambahkan bahwa AS akan berupaya mengerahkan hampir selusin sistem pertahanan udara, termasuk untuk pasukannya yang bertugas di Irak, Yordania, Kuwait, Yordania, Arab Saudi, Suriah, dan Uni Emirat Arab.
Sentimen negatif lain datang dari China yang merilis kebijakan baru dalam penetapan ukuran kapasitas minimum bagi fasilitas kilang minyak baru menjadi 200 ribu bph dan berencana melarang pengolah minyak mentah skala kecil yang mengaku sebagai produsen bahan kimia atau aspal berdasarkan rencana mereka untuk membatasi total kapasitas sebesar 1 miliar metrik ton pada tahun 2025, ujar perencana negara China pada hari Rabu. Beberapa ahli menilai kebijakan yang diambil tersebut menyusul sinyal perlambatan ekonomi China dan permintaan bahan bakar dalam negeri, sehingga mendorong pemerintah untuk menyeleksi ulang kilang yang kurang kompetitif. Di sisi lain, keputusan tersebut mengisyaratkan potensi penurunan permintaan minyak oleh negara importir minyak terbesar pertama dunia itu.
Turut membebani pergerakan harga lebih lanjut, dalam laporan mingguan yang dirilis Rabu malam oleh badan statistik pemerintah, Energy Information Administration (EIA) menunjukkan stok minyak mentah AS dalam sepekan naik sebesar 1.37 juta barel untuk pekan yang berakhir 20 Oktober, jauh lebih besar dari prediksi awal yang memperkirakan stok akan naik sebesar 239 ribu barel. Untuk stok bensin dilaporkan naik sebesar 156 ribu barel, di luar dugaan pasar yang sebelumnya memperkirakan stok akan turun sebesar 897 ribu barel. Kenaikan stok minyak mentah dan bensin tersebut mengindikasikan permintaan yang sedang lesu di pasar energi AS.
Sementara itu, beberapa pejabat pemerintahan Biden mulai mengkhawatirkan kemungkinan harga gas yang tinggi atau melebihi $5 per galon akan kembali terjadi, terutama melihat dari jumlah stok minyak di Cadangan Strategis yang saat ini masih berada di level terendah sejak tahun 1983, ujar The New York Times pada hari Rabu. Selain itu, ditambah dengan situasi di Timur Tengah yang memanas akibat konflik Israel-Hamas membuat AS berada di posisi rentan apabila harga energi kembali melonjak, maka minyak yang tersisa di Cadangan Strategis tidak akan cukup untuk meredam lonjakan harga dalam negeri AS. Pekan lalu, Departemen Energi AS mengumumkan rencana untuk membeli jutaan barel guna mengisi kembali Cadangan Strategis saat harga minyak sebesar $79 per barel.
Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level $87 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level $83 per barel.
Jam | Data | Aktual | Ekspektasi | Sebelumnya |
19:30 | USA - Durable Goods Orders MoM |
| 1.7% | 0.2% |
19:30 | USA - Continuing Jobless Claims |
| 1740K | 1734K |
19:30 | USA - Initial Jobless Claims |
| 208K | 198K |
19:30 | USA - GDP Growth Rate QoQ Adv |
| -1.8% | -7.1% |
21:00 | USA - Pending Home Sales MoM |
| -1.8% | -7.1% |