Home
>
News
>
Publication
>
Harga Minyak Meningkat Di Tengah Ancaman Sanksi
Harga Minyak Meningkat Di Tengah Ancaman Sanksi
Thursday, 12 December 2024

INDIKATOR HARGA

 

Pembukaan

% Perubahan

EURUSD

1.0494

-0.04%

GBPUSD

1.2751

0.09%

AUDUSD

0.6368

0.64%

NZDUSD

0.5784

0.31%

USDJPY

152.45

-0.24%

USDCHF

0.8844

-0.10%

USDCAD

1.4156

-0.04%

GOLDUD

2718.03

0.08%

COFU 

70.43

0.03%

USD/IDR

15920

0.06%

Fokus Crude Oil:

  • Duta Besar Uni Eropa menyetujui sanksi baru terhadap Rusia.
  • OPEC memangkas prospek pertumbuhan permintaan untuk tahun 2024 dan 2025.

***********************************************************

Kamis, 12 Desember 2024 – Harga minyak menguat ke level $70.43 per barel pasca Uni Eropa menyetujui  sanksi tambahan yang mengancam aliran minyak Rusia yang dapat memperketat pasokan minyak mentah global.

Para duta besar Uni Eropa pada hari Rabu menyetujui paket sanksi ke-15 terhadap Rusia atas perangnya melawan Ukraina. Sanksi ini menargetkan armada bayangan Rusia. Sebelumnya pada tahun 2022, G7 memberlakukan batas harga $60 per barel untuk minyak mentah Rusia yang diangkut melalui laut, sebagai bagian dari upaya untuk membatasi pendapatan Rusia dari ekspor minyaknya. Namun, Rusia menggunakan armada bayangan ini untuk menghindari batas harga tersebut. Kapal-kapal ini sering kali tidak terdaftar secara resmi atau menggunakan bendera negara lain untuk menyamarkan asal muasal minyak yang mereka angkut. Selain itu, terdapat laporan bahwa Pemerintahan Biden sedang mempertimbangkan sanksi-sanksi baru yang lebih keras terhadap perdagangan minyak Rusia yang hanya beberapa minggu sebelum Presiden terpilih Donald Trump kembali ke Gedung Putih

Sementara itu, kelompok produsen OPEC+ memotong perkiraannya untuk pertumbuhan permintaan pada tahun 2024 dan 2025 selama lima bulan berturut-turut pada hari Rabu dan merupakan jumlah terbesar yang pernah ada. Sebelumnya pada awal bulan ini OPEC+, yang merupakan kelompok anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dengan produsen lain seperti Rusia, pada awal bulan ini menunda rencana untuk mulai meningkatkan produksi. Lemahnya permintaan, terutama di Tiongkok sebagai negara importir utama, dan pertumbuhan pasokan non-OPEC+ menjadi faktor utama dibalik langkah ini. Namun, pelaku pasar juga mengantisipasi peningkatan permintaan dari Tiongkok setelah Beijing mengumumkan rencana untuk mengadopsi kebijakan moneter yang "cukup longgar" pada tahun 2025, yang dapat memacu permintaan minyak. Tiongkok mengimpor lebih banyak minyak mentah di bulan November untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu terakhir yang dilaporkan oleh otoritas bea cukai Tiongkok, impor mencapai 48,5 juta ton atau 11,8 juta barel per hari, ini merupakan kenaikan 14% pada bulan November dibandingkan tahun sebelumnya.

Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level $75.50 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level $66.50 per barel.

DATA EKONOMI HARIAN

Jam

Data

Actual

Ekspektasi

Sebelumnya

2:00am

US - Federal Budget Balance

-366.8B

-349.0B

-257.5B

8:30pm

US - Core PPI m/m

-

0.2%

0.3%

8:30pm

US - PPI m/m

-

0.2%

0.2%

8:30pm

US - Unemployment Claims

-

221K

224K

Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange

Crude Oil Daily Newsletter

Licensed and supervised by
Member of
Certified by
© Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX)
Join Our Monthly Newsletter
Follow Us
Contact Us
Jl. M.H. Thamrin No.3 7th Floor, RT.11/RW.2, Gambir, Central Jakarta City, Jakarta 10110
+62 21 4050 7788