| Pembukaan | % Perubahan |
EURUSD | 1.1644 | 0.09% |
GBPUSD | 1.3313 | 0.20% |
AUDUSD | 0.6631 | 0.21% |
NZDUSD | 0.5771 | 0.35% |
USDJPY | 155.18 | -0.18% |
USDCHF | 0.8041 | -0.14% |
USDCAD | 1.3842 | -0.18% |
GOLDUD | 4,211.86 | -0.34% |
COFU | 60.15 | -0.12% |
USD/IDR | 16,641 | -0.04% |
Senin, 08 Desember 2025 - Mengawali pembukaan pekan pagi ini, harga minyak terpantau mengalami koreksi bearish dibebani oleh sentimen dari ekspektasi akan segera dimulainya fase kedua gencatan senjata Gaza, dan sinyal esklasi konflik dagang antara China dan Uni Eropa.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada hari Minggu mengatakan bahwa fase pertama gencatan senjata di Gaza hampir selesai, dan ia berharap untuk segera melanjutkan ke fase kedua, yang pertemuannya dengan Presiden AS Donald Trump pada akhir bulan ini di AS. Netanyahu menambahkan bahwa implementasi fase kedua gencatan senjata dapat dimulai segera setelah akhir bulan.
Turut membebani harga, Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul dijadwalkan akan bertemu dengan pihak Tiongkok pada hari Senin guna mendesak Tiongkok untuk melonggarkan pembatasan ekspor produk-produk seperti tanah jarang dan semikonduktor. Konflik dagang antara Uni Eropa dan China mulai meningkat pasca pengumuman Komisi Eropa pada pekan lalu yang berencana untuk memperkuat langkah-langkah perdagangan seperti bea masuk anti-dumping dan anti-subsidi terhadap China.
Sementara itu, negara-negara G7 dan Uni Eropa mempertimbangkan untuk menggantikan sanksi batas harga yang diterapkan untuk minyak Rusia dengan larangan penuh atas layanan maritim untuk ekspor minyak Rusia, ungkap enam sumber yang dikutip oleh UATV English pada hari Sabtu. Larangan tersebut dapat dimasukkan dalam paket sanksi Uni Eropa berikutnya, yang diperkirakan akan berlaku pada awal 2026, kata tiga dari enam sumber itu. Berita tersebut mengindikasikan potensi pengetatan pasokan minyak Rusia ke pasar minyak global.
Dukungan lainnya datang dari kilang-kilang independen Tiongkok yang akan membeli minyak mentah Iran pasca dirilisnya kuota impor minyak mentah gelombang pertama sebesar sekitar 8 juta ton atau setara 58,4 juta barel, kata sumber perdagangan dan analis. Pembelian minyak Iran itu sekaligus meredakan kondisi pasokan berlebih setelah menumpuknya stok minyak dalam beberapa bulan terakhir.
Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level $62 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level $58 per barel.
Jam | Data | Aktual | Ekspektasi | Sebelumnya |
23:00 | USA - Consumer Inflation Expectations |
| 3.1% | 3.2% |