Home
>
News
>
Publication
>
Emisi Gas Rumah Kaca Dari Pertanian
Emisi Gas Rumah Kaca Dari Pertanian
Tuesday, 11 January 2022

PETANI MENGHASILKAN EMISI KARBON?

Dalam proses pembuatan peraturan perdagangan suatu komoditi di Bursa, kami sedapat mungkin mempelajari segala aspek mengenai produk tersebut. Begitu pula dalam persiapan perdagangan Unit Emisi Karbon, kami jadi mempelajari proses-proses yang menghasilkan emisi karbon dan juga upaya-upaya pengurangannya. Yang menarik dalam proses ini adalah ketika mempelajari besarnya emisi karbon yang dihasilkan dari aktivitas pertanian.

Pertanian menghasilkan emisi karbon? Itu adalah pertanyaan yang sering kami jumpai ketika masyarakat awam pertama kali berhadapan dengan informasi ini. Karena persepsi yang umumnya dipahami adalah bahwa tanaman akan menyerap karbon dioksida. Memang benar, tanaman menyerap karbon dioksida pada siang hari dan melepaskan oksigen. Sebaliknya, dalam proses respirasi tumbuhan di malam hari, tumbuhan pada umumnya akan melepaskan karbon dioksida. Namun itu adalah proses yang sudah diperhitungkan oleh para ahli dalam perhitungan upaya pengurangan emisi karbon. Bagaimanapun, manfaat hutan dalam mengurangi gas rumah kaca di atmosfer sangat besar. 

BAGAIMANA SEKTOR PERTANIAN MENYEBABKAN EMISI GAS RUMAH KACA?

Berdasarkan data dari Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, emisi gas rumah kaca dari sektor pertanian pada tahun 2018 mencapai 131.642 gigagram equivalen karbon dioksida (CO2e). Jumlah ini mencapai 8% dari total emisi gas rumah kaca Indonesia pada tahun tersebut. Sementara berdasarkan data dunia, aktivitas pertanian di negara berkembang bahkan bisa mencapai 24% dari emisi gas rumah kaca negara tersebut. Jumlah yang sangat besar. 

Lantas bagaimana pertanian menghasilkan emisi karbon? Ada dua hal yang perlu kita ketahui terkait hal ini. Pertama bahwa istilah emisi karbon, dalam konteks pemanasan global dan perubahan iklim, mencakup enam jenis gas yang memiliki efek gas rumah kaca. Tiga diantaranya adalah gas karbon dioksida (CO2), gas metana (CH4) dan gas nitrogen oksida (N2O). Tiga jenis gas ini adalah gas rumah kaca yang terkait aktivitas pertanian. Selain itu, hal kedua yang perlu kita ketahui adalah bahwa dalam kategori pertanian, selain pertanian itu sendiri, juga mencakup aktivitas perkebunan dan peternakan. Sehingga cakupan aktivitas pertanian menjadi lebih luas.

AKTIVITAS PETERNAKAN PENYUMBANG BESAR GAS METANA

Dari cakupan aktivitas pertanian, yang paling mudah dipahami tentu adalah aktivitas peternakan. Bisa dipastikan bahwa ternak akan menghasilkan kotoran hewan. Kotoran hewan merupakan penyumbang besar gas metana. Selain itu, kotoran hewan juga digunakan sebagai pupuk kandang. Proses pembuatan pupuk kandang juga akan menghasilkan emisi gas rumah kaca lebih lanjut. Antara lain adalah gas nitrogen oksida yang dilepaskan dari tanah. Total aktivitas pertanian bisa menyumbang hingga 22,7% emisi karbon sektor pertanian pada tahun 2018.

Sumber penghasil emisi gas rumah kaca selanjutnya adalah dari proses pengolahan lahan pertanian. Pembakaran jerami padi ataupun sisa hasil pertanian sebelumnya, pemberian kapur untuk mengurangi keasaman tanah pertanian, serta penggunaan pupuk memiliki kontribusi pada emisi gas rumah kaca dari aktivitas pertanian. Berbagai jenis pupuk yang mengandung unsur nitrogen bisa melepaskan gas nitrogen oksida.

Pembakaran sisa hasil pertanian tentu melepaskan emisi karbon, dan proses kimia dari penambahan kapur pada tanah juga menghasilkan emisi karbon dioksida. Namun jumlahnya tidak terlalu besar. Dari kedua aktivitas ini, emisi karbon yang dilepaskan hanya mencakup 4,2% dari emisi karbon sektor pertanian. Namun demikian, ada sejumlah artikel yang menyarankan untuk tidak lagi membakar sisa hasil pertanian, karena ada kerugian tambahan. Tanah tidak mendapatkan nutrisi dari biomassa yang dibakar. Sisa pembakarannya hanya tinggal karbon saja.

APLIKASI PUPUK MENJADI DAMPAK PALING BESAR

Dampak paling besar dari pengolahan lahan pertanian adalah aplikasi pupuk. Emisi gas nitrogen oksida yang dihasilkan pada tahun 2018 mencapai 29% dari total emisi sektor pertanian. Dari laporan yang ada bahkan selain emisi nitrogen oksida secara langsung dari tanah, ada penguapan-penguapan amonia dan limpasan unsur nitrogen dari tanah yang dikelola juga bisa menghasilkan tambahan emisi nitrogen oksida.

Dari seluruh sumber emisi karbon terkait aktivitas pertanian, yang paling mengejutkan adalah fakta bahwa emisi gas rumah kaca terbesar bersumber dari budidaya padi sawah. Pada sawah yang tergenang, ternyata terjadi suatu proses pembusukan bahan organik. Hasil dari proses ini adalah gas metana. Emisi gas rumah kaca dari aktivitas ini mencapai 32,3% emisi karbon dari sektor pertanian.

Informasi ini sangat menarik karena aktivitas pertanian dan peternakan merupakan sumber konsumsi banyak orang. Mengingat suatu artikel online tentang pengukuran emisi karbon dari penghasilan energi listrik, ada pertanyaan menarik di mana emisi karbon akan diukur pada tempat energi listrik dibuat, atau pada tempat di mana energi listrik digunakan? Karena data yang dihasilkan menjadi sangat berbeda.

Akan menarik bila hal serupa diterapkan untuk pertanian dan peternakan. Bila pengukuran emisi dihitung pada tempat di mana produk pertanian dan peternakan dikonsumsi, maka siapapun yang mengkonsumsi produk pertanian dan peternakan tersebut ikut bertanggung jawab atas emisi karbon yang dihasilkan.

Dengan terbukanya wawasan atas sumber emisi karbon sektor pertanian, bisa memperluas makna “go-green”. Go green tidak lagi terpaku pada elektrifikasi transportasi, atau penghematan listrik dan kertas pada lingkungan kerja, tapi go green juga bisa bermakna untuk memanfaatkan bahan makanan secara bijak. Go green bisa bermakna untuk tidak membuang-buang makanan yang ada.

Berdasarkan informasi ini, mari kita coba introspeksi diri: berapa besar sumbangan kita pada emisi karbon? Berapa besar aktivitas kita yang secara langsung maupun tidak langsung berdampak pada pemanasan global? Apakah kita bisa sepenuhnya mengubah aktivitas dan gaya hidup kita sehingga mencapai zero carbon? Bila kita masih belum bisa mencapai zero carbon, maka setidaknya kita bisa berupaya menjadi carbon neutral dengan membantu upaya-upaya aktif penurunan emisi gas rumah kaca di atmosfer melalui pembelian unit emisi karbon di bursa.

By: Isa Djohari

Member of
© Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX)
Join Our Monthly Newsletter
Follow Us
Contact Us
Midpoint Place, 22nd Floor, K.H. Fachrudin Street No. 26, Tanah Abang, Jakarta Pusat
+62 21 3002 7788