| Pembukaan | % Perubahan |
EURUSD | 1.1391 | 0.67% |
GBPUSD | 1.3265 | 0.71% |
AUDUSD | 0.6363 | 0.44% |
NZDUSD | 0.5927 | 0.71% |
USDJPY | 142.0200 | -0.63% |
USDCHF | 0.8154 | -0.53% |
USDCAD | 1.3831 | -0.10% |
GOLDUD | 3,332.30 | 1.25% |
COFU | 63.65 | -0.96% |
USD/IDR | 16,819 | 0.06% |
Senin, 21 April 2025 - Pada pembukaan pekan pagi ini, harga minyak terpantau melaju bearish dibebani oleh sentimen dari potensi eskalasi konflik dagang antara AS dengan China. Selain itu, tekanan lebih lanjut datang dari kemajuan positif negosiasi nuklir Iran, dan proyeksi pesimis Rusia akan harga minyak mentah tahun ini.
China menuduh Washington telah menyalahgunakan tarif dan memperingatkan negara-negara agar tidak membuat kesepakatan dagang yang lebih luas dengan AS karena hanya akan merugikan, kata Kementerian Perdagangan China pada hari Senin. Selain itu, sumber kementerian juga menyatakan bahwa Beijing akan menentang pihak mana pun yang membuat kesepakatan dengan mengorbankan China dan akan mengambil tindakan balasan dengan cara yang tegas. Komentar tersebut memicu kekhawatiran akan mendorong eskalasi konflik dagang lebih lanjut antara AS dengan China, yang juga akan berdampak pada penurunan permintaan bahan bakar global.
Turut membebani pergerakan harga, pembicaraan mengenai kesepakatan nuklir antara AS dengan Iran menunjukkan kemajuan positif, di mana dalam negosisasi di Roma, kedua belah pihak pada hari Sabtu menyepakati untuk mulai menyusun kerangka kerja untuk kesepakatan nuklir potensial, kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi. Selain itu juga disepakati bahwa negosiasi akan berlanjut ke fase berikutnya, yang akan dimulai pada hari Rabu di Oman, tambah Araqchi. Kemajuan positif tersebut memicu ekspektasi akan pelonggaran sanksi AS terhadap Iran, terutama yang menargetkan sektor perminyakan Iran.
Sentimen negatif lainnya datang dari proyeksi terbaru Kementerian Ekonomi Rusia yang memangkas perkiraan untuk harga rata-rata minyak mentah Brent pada tahun 2025 hampir 17% menjadi $68 per barel, turun dari $81,7 per barel yang diasumsikannya dalam perkiraan pada bulan September, ungkap kantor berita Interfax pada Senin pagi. Proyeksi tersebut menyusul peringatan dari Bank Sentral Rusia yang pada awal April memperingatkan bahwa harga minyak bisa lebih rendah dari perkiraan selama beberapa tahun akibat permintaan global yang lebih rendah.
Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pada hari Minggu membagikan rincian serangan Maret terhadap Houthi Yaman, termasuk rincian jadwal serangan udara yang dilancarkan terhadap sekutu Iran tersebut. Berita tersebut memicu kekhawatiran akan mendorong eskalasi konflik dengan Houthi Yaman, yang berpotensi membuat situasi keamanan di jalur pelayaran utama Laut Merah kembali terganggu.
Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level $65 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level $61 per barel.
Jam | Data | Aktual | Ekspektasi | Sebelumnya |
21:00 | USA - CB Leading Index MoM |
| -0.6% | -0.3% |