| Pembukaan | % Perubahan |
EURUSD | 1.08310 | -0.05% |
GBPUSD | 1.27080 | 0.06% |
AUDUSD | 0.66100 | 0.08% |
NZDUSD | 0.61310 | 0.03% |
USDJPY | 147.500 | -0.14% |
USDCHF | 0.86100 | -0.09% |
USDCAD | 1.34170 | -0.09% |
GOLDUD | 2,031.720 | 0.03% |
COFU | 77.02 | -0.06% |
USD/IDR | 15,780 | 0.06% |
Selasa, 30 Januari 2024 - Pasca ditutup turun sebesar lebih dari 2 persen pada perdagangan kemarin, harga minyak pagi ini bergerak terkonsolidasi dibayangi beragam sentimen yang beredar. Rencana pemberlakuan kembali sanksi terhadap Venezuela, ancaman krisis pasokan gas alam, serta situasi di Timur Tengah mendukung pergerakan harga minyak. Meski demikian, sinyal peningkatan pasokan Rusia dan memburuknya krisis properti di China membebani pergerakan harga lebih lanjut.
Pemerintahan Biden mempertimbangkan untuk menerapkan kembali sanksi terhadap sektor minyak dan gas Venezuela, serta sanksi tambahan lainnya jika negara tersebut tetap menerapkan larangan terhadap kandidat oposisi María Corina Machado untuk mencalonkan diri sebagai Presiden, kata dua pejabat AS pada hari Senin. Berita tersebut mengindikasikan potensi kembali menurunnya pasokan minyak Venezuela ke pasar global, setelah pada bulan Oktober lalu AS kembali mengizinkan transaksi sektor minyak dan gas di negara produsen minyak terbesar kedua belas dunia itu.
Masih dari AS, keputusan yang diambil Presiden AS Joe Biden pada akhir pekan lalu untuk menghentikan sementara ekspor gas alam cair (LNG) berpotensi diikuti oleh pemerintah Kanada dan Inggris. Sama seperti AS, Kanada memproduksi gas alam lebih banyak dari yang dibutuhkan dalam negeri. Sementara Inggris berupaya mengganti fasilitas pembangkit listrik berbasis gas alam menjadi tenaga air. Apabila terealisasi maka situasi tersebut berpotensi mengarah pada penurunan pasokan gas alam ke negara pengguna terutama Eropa yang bergantung pada gas alam, dan dikhawatirkan akan kembali mengalami krisis energi.
Dari Timur Tengah dilaporkan bahwa AS berjanji akan mengambil “semua tindakan yang diperlukan” untuk membela pasukan AS setelah serangan pesawat drone menewaskan tiga tentara AS di Yordania. Pernyataan itu dilontarkan pasca serangan hari Minggu oleh militan yang didukung Iran adalah serangan mematikan pertama terhadap pasukan AS sejak perang Israel-Hamas meletus pada bulan Oktober dan menandai peningkatan besar ketegangan yang melanda Timur Tengah.
Sementara itu, dalam upaya untuk meningkatkan ekspor menyusul gangguan dari sanksi Barat dan cuaca buruk, operator tunggal jaringan pipa Rusia, Transneft, akan berupaya mengoptimalkan sistem pemberitahuan badai di pelabuhan Novorossiisk di Laut Hitam untuk menambah waktu pemuatan sebelum dan setelah badai, kata CEO Transneft, Nikolay Tokarev pada hari Senin. Tiga sumber pedagang minyak Rusia tujuan ekspor mengatakan pelabuhan telah menerima rekomendasi tidak resmi untuk melanjutkan pemuatan selama badai dan sebisa mungkin melonggarkan kontrol terkait es untuk memungkinkan lebih banyak kapal tanker berada di pelabuhan.
Sentimen negatif lainnya datang dari semakin parahnya situasi krisis properti yang melanda China pasca Pengadilan Hong Kong pada hari Senin memerintahkan likuidasi terhadap raksasa properti China Evergrande Group yang gagal menawarkan rencana restrukturisasi secara konkret. Krisis properti yang semakin parah merupakan pukulan terhadap kepercayaan investor akan perekonomian negara importir minyak utama tersebut, dimana data sebelumnya menunjukkan aktivitas yang lebih lambat dari perkiraan.
Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level $80 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level $76 per barel.
Jam | Data | Aktual | Ekspektasi | Sebelumnya |
21:00 | USA - S&P/Case-Shiller Home Price YoY |
| 5.8% | 4.9% |
22:00 | USA - CB Consumer Confidence |
| 115.0 | 110.7 |
22:00 | USA - JOLTs Job Openings |
| 8.75M | 8.79M |
22:30 | USA - Dallas Fed Services Index |
|
| -8.7 |