| Pembukaan | % Perubahan |
EURUSD | 1.1710 | 0.08% |
GBPUSD | 1.3372 | 0.20% |
AUDUSD | 0.6605 | 0.27% |
NZDUSD | 0.5745 | 0.42% |
USDJPY | 157.67 | -0.28% |
USDCHF | 0.7958 | -0.21% |
USDCAD | 1.3796 | -0.04% |
GOLDUD | 4,340.90 | 1.01% |
COFU | 56.63 | 0.55% |
USD/IDR | 16,717 | 0.08% |
Senin, 22 Desember 2025 - Mengawali pembukaan pekan pagi ini, harga minyak terpantau bergerak bullish didukung oleh sentimen dari eskalasi tensi lebih lanjut antara AS dengan Venezuela pasca aksi penyitaan dan pengejaran kapal tanker Venezuela pada akhir pekan lalu. Selain itu, potensi meningkatnya kembali konflik antara Israel dengan Iran juga turut menjadi katalis positif bagi harga minyak.
Ketegangan antara AS dengan Venezuela semakin meningkat pasca sejumlah laporan pada Minggu malam dan Senin pagi mengatakan AS sedang mengejar kapal tanker minyak ketiga Venezuela, Bella 1, tepat sehari setelah AS menyita kapal tanker kedua, Centuries, pada hari Sabtu di perairan internasional di lepas pantai Venezuela. Tindakan AS untuk meningkatkan penargetan kapal tanker Venezuela berpotensi mengganggu pasokan minyak, terutama mengingat sebagian besar minyak Venezuela tersebut diekspor ke China.
Dukungan lainnya datang dari potensi meningkatnya kembali ketegangan antara Israel dengan Iran setelah beberapa pejabat pada hari Sabtu mengatakan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akan menyampaikan rencana kemungkinan serangan baru terhadap Iran kepada Presiden AS Donald Trump selama kunjungan mendatangnya ke Washington, yang dijadwalkan pada akhir bulan ini. Menurut sumber pejabat tersebut, Israel memandang produksi rudal balistik Iran sebagai masalah yang sangat mendesak.
Sementara itu, harapan akan segera tercapainya kesepakatan damai yang mengakhiri perang di Eropa timur menguat pasca utusan khusus AS Steve Witkoff pada hari Minggu mengatakan bahwa pembicaraan yang diadakan antara pejabat AS, Eropa, dan Ukraina selama tiga hari terakhir di Florida berjalan produktif dan konstruktif. Selain itu, dalam pernyataan terpisah, Witfoff mengatakan bahwa pembicaraan dengan utusan khusus Presiden Rusia Vladimir Putin, Kirill Dmitriev, pada hari Sabtu, juga berlangsung positif dan Rusia tetap sepenuhnya berkomitmen untuk mencapai perdamaian di Ukraina.
Turut membebani harga, perusahaan minyak negara Irak, SOMO, pada hari Minggu mengatakan bahwa Kementerian Sumber Daya Alam Kurdistan telah menegaskan kembali komitmennya terhadap perjanjian ekspor yang disepakati pada September lalu, yang mewajibkan semua produsen internasional di wilayah Kurdistan untuk mengirimkan minyak mentah mereka. Berita tersebut meredakan kekhawatiran gangguan pasokan pasca DNO Norwegia mengatakan tidak akan ikut serta dalam perjanjian itu.
Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level $59 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level $54 per barel.
Jam | Data | Aktual | Ekspektasi | Sebelumnya |
20:30 | USA - Chicago Fed National Activity Index |
| -0.4 | -0.12 |