Home
>
News
>
Publication
>
USDCHF Menguat, Kombinasi Geopolitik dan Inflasi Jadi Katalis
USDCHF Menguat, Kombinasi Geopolitik dan Inflasi Jadi Katalis
Monday, 13 April 2026

 

Pembukaan

% Perubahan

EURUSD

1.1666

0.17%

GBPUSD

1.3394

0.06%

AUDUSD

0.6994

0.54%

NZDUSD

0.5799

0.29%

USDJPY

158.59

0.71%

USDCHF

0.7908

0.16%

USDCAD

1.3864

-0.01%

GOLDUD

4670.42

1.13%

USD/IDR

17,051

0.44%

Fokus:

  1. Geopolitik: Gagalnya negosiasi AS–Iran picu risk-off, dorong USD sebagai safe haven.
  2. The Fed & Inflasi: Kenaikan minyak dan inflasi perkuat ekspektasi kebijakan hawkish USD.


USDCHF

Senin, 13 April 2026 - USDCHF memulai pekan dengan bergerak menguat dan berhasil bangkit. Saat ini, pasangan mata uang tersebut diperdagangkan di sekitar 0,7921, sekaligus mengakhiri tren pelemahan selama lima hari berturut-turut. Penguatan ini didorong oleh menguatnya dolar AS di tengah memburuknya sentimen pasar global.

Sentimen risk-off meningkat setelah kegagalan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran meskipun telah berlangsung hampir 21 jam. Ketegangan semakin memanas setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Angkatan Laut AS akan memblokade seluruh kapal yang masuk dan keluar dari Selat Hormuz, meningkatkan risiko eskalasi konflik di kawasan tersebut. Kondisi ini mendorong permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe-haven.

Selain itu, lonjakan harga minyak mentah memicu kembali kekhawatiran inflasi global, yang berpotensi mendorong bank sentral utama termasuk The Fed untuk mengambil kebijakan yang lebih hawkish. Data inflasi AS yang dirilis sebelumnya juga memperkuat pandangan tersebut, sehingga pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga dan bahkan mempertimbangkan kemungkinan kenaikan. Kenaikan imbal hasil obligasi AS turut menjadi faktor tambahan yang mendukung penguatan dolar.

Meski demikian, laporan menyebutkan bahwa negara-negara kawasan tengah berupaya membawa kembali AS dan Iran ke meja perundingan dalam waktu dekat, sehingga peluang diplomasi masih terbuka dan membatasi penguatan USD lebih lanjut. Secara teknikal, USDCHF menunjukkan ketahanan di bawah area Simple Moving Average (SMA) 100-hari dan membuka peluang kenaikan lanjutan. Support terdekat berada di kisaran 0,7880 dan 0,7855, sementara resistance berada di area 0,7950, dengan bias jangka pendek cenderung bullish.

EURUSD - Pasangan mata uang ini bergerak melemah dibandingkan dengan penutupan pekan lalu di tengah meningkatnya sentimen risk-off, yang dipicu oleh gagalnya perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Pada sesi Asia, pasangan mata uang ini diperdagangkan di kisaran 1,1686 setelah dibuka dengan gap turun pada perdagangan Senin. Wakil Presiden AS, JD Vance, menyatakan bahwa pembicaraan selama 21 jam di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan yang dapat diterima kedua belah pihak, dengan AS masih menuntut jaminan tegas bahwa Iran tidak akan mengembangkan senjata nuklir. Ketegangan meningkat setelah Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan rencana pemblokiran seluruh kapal yang masuk dan keluar dari Selat Hormuz, sementara CENTCOM menegaskan operasi tersebut akan dimulai pada pukul 14:00 GMT.

Dari sisi Iran, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menyebut upaya yang dilakukan pihaknya sudah konstruktif, namun kegagalan mencapai kesepakatan menunjukkan kurangnya kepercayaan terhadap AS. Garda Revolusi Iran (IRGC) juga memperingatkan bahwa setiap kapal militer yang mendekati Selat Hormuz akan dianggap melanggar gencatan senjata dan berpotensi mendapat respons tegas. EURUSD berpotensi melanjutkan pelemahan dengan area support terdekat di 1,1650, sementara resistance berada di kisaran 1,1720, yang menjadi batas penting jika terjadi rebound jangka pendek.

GBPUSD - Pasangan mata uang ini dibuka dengan gap turun dan diperdagangkan di kisaran 1,3402 pada pagi hari Senin. Tekanan terhadap pasangan ini muncul seiring meningkatnya sentimen risk-off setelah kegagalan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Permintaan terhadap aset safe-haven mendorong penguatan dolar AS, terutama setelah Wakil Presiden AS JD Vance mengonfirmasi bahwa pembicaraan selama 21 jam di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan. Ketegangan semakin meningkat usai Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana pemblokiran seluruh kapal yang melintas di Selat Hormuz, yang kemudian dikonfirmasi oleh CENTCOM akan dimulai pada pukul 14:00 GMT.

Dari sisi lain, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan bahwa upaya yang dilakukan sudah konstruktif, namun belum mampu membangun kepercayaan dengan pihak AS. Garda Revolusi Iran (IRGC) juga memperingatkan potensi respons tegas terhadap kapal militer yang mendekati wilayah tersebut. Sementara itu, Pound Sterling sempat mendapat dukungan dari optimisme terkait potensi perdamaian Rusia–Ukraina, meskipun ketegangan masih berlangsung dengan saling tuduh pelanggaran gencatan senjata Paskah Ortodoks. GBPUSD berpotensi bergerak terbatas dengan support di area 1,3350, sedangkan resistance berada di kisaran 1,3450.

AUDUSD - Saat ini pasangan diperdagangkan di kisaran 0,7032, masih melemah sekitar 0,50% secara harian di tengah meningkatnya sentimen risk-off global. Kegagalan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran setelah hampir 21 jam pembicaraan meningkatkan kekhawatiran eskalasi konflik, terlebih setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana pemblokiran Selat Hormuz oleh Angkatan Laut AS. Kondisi ini mendorong penguatan dolar AS sebagai aset safe-haven dan menekan AUDUSD.

Di sisi lain, lonjakan harga minyak mentah memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi kebijakan hawkish The Fed, yang turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi AS dan menopang dolar. Namun, peluang diplomasi masih terbuka seiring adanya upaya negara-negara kawasan untuk mempertemukan kembali AS dan Iran, ditambah sikap hawkish dari Reserve Bank of Australia (RBA) yang membantu menahan pelemahan AUD. Secara teknikal, area 0,7000 menjadi support, sementara itu, resistance berada di kisaran 0,7060 hingga 0,7100.

NZDUSD - Pasangan mata uang ini dibuka dengan gap bearish di awal pekan sebagai respons atas gagalnya perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran, dan diperdagangkan di sekitar level 0,5816 pada sesi Asia. Negosiasi tingkat tinggi yang dimediasi Pakistan selama hampir 21 jam berakhir tanpa kesepakatan, setelah Iran menolak tawaran final dari AS sebagaimana disampaikan Wakil Presiden JD Vance. Ketegangan semakin meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana pemblokiran Selat Hormuz oleh Angkatan Laut AS, yang berpotensi menggagalkan gencatan senjata yang rapuh. Kondisi ini memperburuk sentimen risiko global, mendorong penguatan dolar AS sebagai aset safe-haven dan menekan NZDUSD.

Kenaikan tajam harga minyak mentah turut meningkatkan kekhawatiran inflasi global, diperkuat oleh data inflasi AS yang melonjak signifikan pada Maret dan mempertegas ekspektasi kebijakan hawkish dari The Fed, yang mendukung kenaikan imbal hasil obligasi AS dan memperkuat dolar. Meski demikian, adanya laporan upaya negara-negara kawasan untuk mempertemukan kembali AS dan Iran membuka peluang diplomasi lanjutan dan membatasi penguatan USD. NZDUSD cenderung berada dalam tekanan dengan support terdekat di 0,5770, sementara resistance berada di kisaran 0,5850. Bias jangka pendek masih bearish, sehingga potensi rebound cenderung dimanfaatkan sebagai peluang jual selama belum ada konfirmasi penguatan lanjutan.

USDJPY - Pasangan mata uang ini melanjutkan penguatan dua hari sebelumnya dengan dibuka gap bullish di awal pekan dan naik ke kisaran 159,85. Namun, potensi kenaikan lebih lanjut masih tertahan oleh kekhawatiran intervensi dari otoritas Jepang. Penguatan pasangan ini didorong oleh meningkatnya sentimen risk-off global akibat gagalnya perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran, yang memperkuat peran dolar AS sebagai aset safe-haven. Selain itu, lonjakan harga minyak turut memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi kebijakan hawkish dari The Fed, sehingga semakin mendukung penguatan USD terhadap Yen.

Di sisi lain, Yen Jepang tertekan oleh kekhawatiran ekonomi akibat lonjakan biaya energi impor di tengah konflik Timur Tengah. Meski demikian, spekulasi intervensi pemerintah Jepang membatasi pelemahan lebih dalam dan menahan kenaikan USDJPY. USDJPY support berada di 158,56, sementara resistance berada di area 160,00.

USDCAD - Dolar Kanada (CAD) melanjutkan pelemahan dari level tertinggi dua minggu di 1,3863 terhadap Dolar AS (USD) pada awal perdagangan Senin, dengan pasangan USDCAD menguat seiring meningkatnya permintaan terhadap USD sebagai aset safe-haven. Penguatan dolar dipicu oleh eskalasi baru konflik AS-Iran setelah gagalnya pembicaraan damai akhir pekan lalu, yang mengancam keberlanjutan gencatan senjata. Presiden AS Donald Trump bahkan menyatakan rencana pemblokiran Selat Hormuz serta membuka kemungkinan melanjutkan serangan militer terbatas terhadap Iran guna memecah kebuntuan negosiasi, yang semakin memperburuk sentimen risiko global.

Namun, potensi penguatan USDCAD cenderung terbatas di tengah lonjakan tajam harga minyak akibat ketegangan di Timur Tengah. Minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) dibuka dengan gap bullish dan sempat melonjak hingga 8%, dengan target menuju level $100 per barel. Kenaikan harga minyak ini memberikan dukungan bagi CAD sebagai mata uang komoditas. Secara teknikal, USDCAD memiliki resistance di area 1,3900 hingga 1,3950, sementara support berada di kisaran 1,3820 dan 1,3750. Pergerakan selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh dinamika harga minyak dan perkembangan geopolitik.



DATA EKONOMI HARIAN

Jam

Pair

Data

Actual

Ekspektasi

Sebelumnya

5:30am

NZD

BusinessNZ Services Index

46

 

47.6

6:50am

JPY

M2 Money Stock y/y

2.00%

1.60%

1.70%

7:30pm

CAD

Building Permits m/m

 

-0.40%

4.80%

Day 1

All

IMF Meetings

 

 

Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange

Forex Daily Newsletter


Licensed and supervised by
Member of
Certified by
© Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX)
Join Our Monthly Newsletter
Follow Us
Contact Us
Midpoint Place, 22nd Floor, K.H. Fachrudin Street No. 26, Tanah Abang, Jakarta Pusat
Jl. M.H. Thamrin No.3 7th Floor, RT.11/RW.2, Gambir, Central Jakarta City, Jakarta 10110
+62 21 4050 7788