| Pembukaan | % Perubahan |
EURUSD | 1.13050 | 0.03% |
GBPUSD | 1.35230 | 0.07% |
AUDUSD | 0.71260 | 0.11% |
NZDUSD | 0.66160 | 0.08% |
USDJPY | 115.530 | -0.09% |
USDCHF | 0.92410 | -0.04% |
USDCAD | 1.27270 | 0.06% |
GOLDUD | 1870.600 | 0.05% |
COFU | 94.83 | 0.24% |
USD/IDR | 14305 | -0.10% |
Selasa, 15 Februari 2022 - Pergerakan harga minyak terpantau masih berada dalam tren bullish yang sejauh ini telah mencapai level tertinggi yang terakhir terlihat pada akhir Agustus 2014. Katalis utama yang mendongkrak kenaikan tersebut datang dari situasi di Eropa timur yang kian memuncak serta ditambah dengan lonjakan permintaan dari Asia untuk minyak Rusia.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Senin malam, juru bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price mengumumkan bahwa AS akan memindahkan kedutaan di Ukraina dari Kyiv ke Lviv yang posisinya berada lebih jauh ke barat. Price juga menambahkan alasan tersebut didorong oleh kekhawatiran akan dimulainya invasi Rusia yang dapat terjadi kapan saja, dilihat dari jumlah pasukan Rusia yang terus bertambah di perbatasan Ukraina.
Pada hari Senin, parlemen Rusia juga mengadakan pemungutan suara untuk menentukan apakah perlu meminta Presiden Rusia Vladimir Putin mengakui bagian-bagian yang memisahkan diri dari Ukraina timur sebagai bagian yang merdeka untuk kemudian bergabung dengan NATO. Putin sendiri telah memperingatkan (7/2) bahwa apabila NATO menerima Ukraina sebagai anggota, maka hal itu akan menjadi pemicu terjadinya perang di wilayah Eropa timur tersebut. Di hari yang sama, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy kembali menegaskan keinginannya agar Ukraina dapat bergabung dengan NATO seperti yang dijanjikan oleh NATO pada 2008 lalu.
Ketegangan yang terjadi di Eropa timur turut memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak dari Rusia karena potensi pemberlakuan sanksi terhadap Rusia. Lonjakan pembelian minyak Rusia telah terlihat sejak pekan lalu, dimana minyak Rusia jenis Sokol diperdagangkan pada harga premium tertinggi dalam dua tahun, bahkan mengutip dari Bloomberg, pedagang dan pembeli di Asia telah mempertimbangkan pemesanan untuk pengiriman bulan April nanti.
Sementara itu, kepala International Energy Agency's (IEA) Fatih Birol pada hari Senin mendesak OPEC+ untuk segera bertindak dalam menstabilkan kembali pasar minyak karena harga pada hari Senin telah melonjak ke level tertinggi lebih dari tujuh tahun. Di hari yang sama, Sekretaris Jenderal OPEC Mohammad Barkindo menyatakan bahwa OPEC beserta sekutunya siap bekerja untuk memastikan keamanan pasokan minyak ke pasar global.
Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level $96.10 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level $93.85 per barel.
Jam | Data | Aktual | Ekspektasi | Sebelumnya | |||||
20:30 | USA - PPI MoM |
| 0.5% | 0.3% | |||||
20:30 | USA - NY Empire State Manufacturing Index |
| 12.15 | -0.7 | |||||