| Pembukaan | % Perubahan |
EURUSD | 1.17230 | -0.03% |
GBPUSD | 1.36780 | -0.03% |
AUDUSD | 0.72580 | 0.34% |
NZDUSD | 0.70210 | 0.07% |
USDJPY | 110.680 | -0.03% |
USDCHF | 0.92440 | 0.06% |
USDCAD | 1.26520 | -0.19% |
GOLDUD | 1750.690 | 0.46% |
COFR | 1056466 | 1.00% |
USD/IDR | 14240 | 0.14% |
Fokus Crude Oil:
Senin, 27 September 2021 - Mengawali pekan pagi ini, harga minyak terpantau masih melanjutkan reli bullish didukung oleh sinyal peningkatan permintaan energi dari China serta negosiasi nuklir Iran yang berpotensi kembali menemui hambatan. Meski demikian, peningkatan kasus infeksi Covid-19, khususnya di Asia, memicu kekhawatiran akan pemulihan permintaan bahan bakar yang membatasi pergerakan harga lebih lanjut.
Lembaga yang bertanggung jawab terkait kebijakan energi di China, National Energy Administration (NEA), pada hari Minggu mengatakan kepada perusahaan energi untuk meningkatkan produksi mereka agar dapat memastikan China memiliki pasokan energi yang cukup untuk menjaga rumah tetap hangat selama musim dingin. Adapun untuk produksi energi di beberapa provinsi China saat ini dilanda kekurangan pasokan listrik, yang sebagian disebabkan karena penurunan tenaga angin. Pernyataan dari NEA itu sekaligus mengisyaratkan bahwa akan terjadi peningkatan permintaan energi dalam waktu dekat di negara konsumen minyak terbesar kedua dunia tersebut.
Turut mendukung harga minyak, perusahaan milik negara Petroleos de Venezuela (PDVSA) dan Perusahaan Minyak Nasional Iran (NIOC) sepakat untuk memperdalam kerja sama antara dua negara yang saat ini masih berada di bawah sanksi AS. Venezuela menyetujui kontrak barter untuk menukar minyak beratnya dengan kondensat Iran yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas minyak mentahnya yang seperti tar, dengan kargo pertama sebesar 1.9 juta barel akan dikirimkan pada awal pekan ini, kata lima orang yang dekat dengan kesepakatan itu. Berita tersebut memicu spekulasi bahwa pembicaraan Iran terkait kesepakatan nuklir dengan syarat pencabutan sanksi AS akan sulit tercapai, sekaligus meredam kekhawatiran pasar akan tambahan barel Iran ke pasar minyak global.
Sementara itu pandemi Covid-19 masih membayangi pemulihan permintaan bahan bakar, khususnya di Asia. Korea Selatan pada hari Sabtu melaporkan kasus infeksi baru mencapai lebih dari 3,000 kasus untuk pertama kalinya, yang dikaitkan dengan lonjakan perjalanan selama liburan Thanksgiving di negara tersebut. Pihak otoritas memperkirakan infeksi harian masih akan terus meningkat dalam satu atau dua minggu ke depan. Di Singapura, Kementerian Kesehatan pada hari Minggu melaporkan 1,939 kasus baru, tertinggi sejak awal pandemi, yang memaksa pemerintah menghentikan pembukaan kembali lebih lanjut.
Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak akan berada dalam kisaran Resistance di IDR 1,080,000 - 1,100,000 per barel serta kisaran Support di IDR 1,040,000 - 1,020,000 per barel.
Jam | Data | Aktual | Ekspektasi | Sebelumnya | |||||
| | | | | |||||
| | | | | |||||
| | | | | |||||