| Pembukaan | % Perubahan |
EURUSD | 1.04400 | -0.01% |
GBPUSD | 1.21830 | -0.23% |
AUDUSD | 0.70010 | -0.14% |
NZDUSD | 0.62970 | -0.17% |
USDJPY | 133.820 | 0.54% |
USDCHF | 0.99420 | 0.29% |
USDCAD | 1.28880 | 0.02% |
GOLDUD | 1832.000 | -0.11% |
COFU | 115.98 | 0.28% |
USD/IDR | 14711 | 0.10% |
Kamis, 16 Juni 2022 - Harga minyak pagi ini terpantau bergerak terkonsolidasi dibebani oleh sejumlah sentimen negatif antara lain laporan EIA, kenaikan suku bunga AS serta potensi penurunan permintaan oleh China. Meski demikian, proyeksi positif IEA membatasi penurunan harga lebih lanjut.
Dalam laporan yang dirilis Rabu malam oleh badan statistik pemerintah, Energy Information Administration (EIA) menunjukkan produksi minyak mentah AS, yang cenderung bergerak stagnan selama beberapa bulan terakhir, pada pekan lalu naik tipis sebesar 100 ribu bph menjadi 12 juta bph, level tertinggi sejak April 2020. Dari sisi stok minyak mentah juga dilaporkan melonjak naik sebesar 1.96 juta barel, di luar prediksi awal yang memperkirakan stok akan turun sebesar 1.31 juta barel.
Masih dari AS, bank sentral AS pada hari Rabu memutuskan untuk menaikkan suku bunga dari 1% menjadi 1.75% atau sebesar 75bps, tertinggi sejak 1994. Kenaikan suku bunga tersebut juga turut memicu indeks dolar naik ke level tertinggi sejak 2002. Penguatan dolar AS secara tidak langsung juga berimbas pada harga minyak yang secara global dikuotasikan dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi negara pemilik mata uang lain, sehingga membatasi permintaan.
Turut membebani di sisi permintaan, penyebaran wabah Covid terbaru di China memicu kekhawatiran akan penerapan kembali fase baru pembatasan dan penguncian. Otoritas kesehatan ibu kota China, Beijing, melaporkan total kasus mencapai 327 kasus, dengan 7 kasus infeksi lokal baru pada Rabu sore. Di kota pusat keuangan China, Shanghai, berencana akan mewajibkan semua 16 distriknya untuk menyelenggarakan tes Covid massal bagi warga setiap akhir pekan hingga akhir Juli, kata seorang pejabat kota, Rabu.
Sementara itu, International Energy Agency (IEA) pada hari Rabu merilis laporan bulanan yang memperkirakan permintaan minyak global akan naik lebih dari 2% ke rekor tertinggi 101.6 juta bph pada 2023. Untuk output dari OPEC dan sekutunya juga diproyeksikan akan meningkat sebesar 2.6 juta bph pada tahun ini karena berakhirnya komitmen pemangkasan produksi, namun pada tahun 2023 berpotensi merosot sebesar 520 ribu bph akibat sanksi terhadap minyak Rusia, tambah IEA.
Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level $120 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level $110 per barel.
Jam | Data | Aktual | Ekspektasi | Sebelumnya |
19:30 | USA - Continuing Jobless Claims |
| 1302K | 1306K |
19:30 | USA - Initial Jobless Claims |
| 215K | 229K |
19:30 | USA - Building Permits MoM |
| 178M | 182M |
19:30 | USA - Housing Starts |
| 170M | 172M |
19:30 | USA - Philadelphia Fed Manufacturing Index |
| 55 | 26 |