Rabu, 13 Mei 2026 - Industri kelapa sawit Indonesia kembali menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah dinamika pasar global. Pergerakan harga Crude Palm Oil (CPO) dan Tandan Buah Segar (TBS) pada 12 Mei 2026 memperlihatkan tren yang relatif positif dan memberikan optimisme bagi petani, pelaku industri, hingga pasar ekspor nasional.
Di sejumlah sentra sawit nasional, khususnya Provinsi Riau dan Kalimantan Barat, harga TBS tercatat mengalami penguatan tipis namun stabil. Kenaikan ini dinilai menjadi sinyal baik bagi keberlanjutan pendapatan petani sawit rakyat di tengah kondisi global yang masih berfluktuasi.
Berdasarkan hasil penetapan harga resmi Dinas Perkebunan Provinsi Riau untuk periode 13–19 Mei 2026, harga TBS plasma sawit mengalami kenaikan dan mendekati angka Rp3.900 per kilogram. Kenaikan ini terutama dipicu oleh membaiknya harga CPO dan kernel di pasar domestik maupun ekspor.
Untuk periode sebelumnya, harga TBS usia tanaman 9 tahun di Riau berada di level Rp3.880,38/kg dan menjadi harga tertinggi pada kelompok umur produktif. Sementara harga CPO tercatat di kisaran Rp15.274 hingga Rp15.339 per kilogram.
Di Kalimantan Barat, harga TBS untuk usia tanaman 10–20 tahun juga mengalami penguatan dan mencapai Rp3.683,89/kg, dengan harga CPO sebesar Rp15.078/kg.
Ringkasan Pergerakan Harga 12 Mei 2026
Beberapa faktor utama yang mendorong penguatan harga sawit nasional antara lain:
Untuk perdagangan dan sentimen hari ini, 13 Mei 2026, pasar sawit diperkirakan bergerak stabil cenderung menguat terbatas.
Beberapa faktor yang diperkirakan memengaruhi pasar hari ini antara lain:
Pelaku pasar memperkirakan harga CPO masih akan bertahan di area positif selama tidak terjadi tekanan besar dari pasar global. Sementara harga TBS di tingkat petani diprediksi tetap stabil dengan peluang kenaikan bertahap di sejumlah wilayah sentra sawit.
Pemerintah Indonesia juga terus menunjukkan komitmennya menjadikan sawit sebagai salah satu tulang punggung energi nasional. Program biodiesel dan penguatan industri hilir diyakini akan membuka ruang pasar yang lebih luas bagi CPO Indonesia ke depan.
Langkah ini dinilai bukan hanya menjaga stabilitas industri sawit, tetapi juga memperkuat ketahanan energi nasional, membuka lapangan kerja, serta menjaga kesejahteraan jutaan petani sawit di Indonesia.
Penulis: Yohanes Ferdinan Silaen
Disclaimer On:
Tulisan ini disusun berdasarkan data pasar, laporan lapangan, dan analisis independen. Informasi disajikan untuk tujuan edukatif dan tidak dimaksudkan sebagai rekomendasi investasi. Penulis tidak bertanggung jawab atas keputusan bisnis atau finansial yang diambil berdasarkan artikel ini. Data dan kebijakan dapat berubah sesuai dinamika pasar dan keputusan pemerintah.