| Pembukaan | % Perubahan |
EURUSD | 1.13070 | -0.26% |
GBPUSD | 1.33400 | -0.04% |
AUDUSD | 0.71130 | 0.37% |
NZDUSD | 0.68140 | 0.18% |
USDJPY | 113.350 | 0.24% |
USDCHF | 0.92370 | 0.24% |
USDCAD | 1.27920 | -0.37% |
GOLDUD | 1789.190 | 0.24% |
COFR | 993451 | 3.71% |
USD/IDR | 14350 | 0.00% |
Fokus Crude Oil:
Senin, 29 November 2021 - Mengawali pembukaan pekan pagi ini, harga minyak terpantau mengalami koreksi naik didukung oleh sinyal hati-hati dari OPEC+ mendekati pertemuan pembahasan kebijakan produksi pada pekan ini. Meski demikian, tekanan dari sisi permintaan akibat ancaman dari varian Omicron serta ditambah dengan potensi surplus pasokan membatasi pergerakan harga minyak lebih lanjut.
Varian coronavirus Omicron yang terdeteksi pertama kali di Afrika Selatan pada Kamis pekan kemarin, dilaporkan telah menyebar ke sejumlah negara. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada hari Minggu melaporkan bahwa varian tersebut juga telah terdeteksi di di Australia, Belgia, Botswana, Inggris, Denmark, Jerman, Hong Kong, Israel, Italia, Belanda, Prancis, dan Kanada. WHO memperingatkan akan potensi penularan yang lebih cepat dari varian sebelumnya. Sejauh ini banyak negara telah memberlakukan larangan atau pembatasan perjalanan ke Afrika Selatan.
Turut membebani pergerakan harga minyak, Iran berencana untuk meningkatkan produksi minyaknya menjadi lebih dari 5 juta bph, ungkap direktur pelaksana National Iran Oil Co, Mohsen Khojastehmehr pada hari Sabtu. Dia juga menambahkan bahwa kapasitas produksi harian Iran akan mencapai 4 juta bph pada bulan Maret nanti. Produksi minyak Iran sendiri mencapai puncaknya di level 6 juta bph pada tahun 1970-an. Pernyataan tersebut memicu spekulasi bahwa dalam pertemuan nuklir yang akan dilanjutkan minggu depan di Wina, memungkinkan Iran untuk mendapatkan beberapa keringan sanksi, termasuk di sektor minyak, yang sekaligus juga mengindikasikan potensi surplus pasokan didorong oleh tambahan barel Iran ke pasar minyak global di tengah komitmen perilisan cadangan minyak strategis oleh negara-negara konsumen utama.
Sementara itu, aliansi produsen minyak OPEC dan sekutunya diperkirakan akan mengambil sikap hati-hati dalam mengambil keputusan saat pertemuan Desember nanti, ungkap Mike Muller dari Vitol Group, grup pedagang minyak independen terbesar di dunia. Muller juga menambahkan bahwa ada tanda-tanda permintaan akan melemah seiring dengan memasuki bulan-bulan musim dingin di Asia dan Eropa, ditambah dengan berita kemunculan Omicron, varian baru Covid-19, yang berpotensi memicu lebih banyak pembatalan penerbangan pada minggu ini.
Perkiraan Vitol Group itu juga diperkuat oleh pernyataan dari OPEC dan sekutunya yang memutuskan untuk memundurkan pertemuan komite teknis dari Selasa menjadi hari Rabu agar dapat memiliki lebih banyak waktu untuk menilai dampak varian baru Covid-19, Omicron, terhadap permintaan dan harga minyak, ungkap sumber yang mengetahui hal tersebut pada hari Minggu.
Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak akan berada dalam kisaran Resistance di IDR 1,050,000 - 1,070,000 per barel serta kisaran Support di IDR 980,000 - 960,000 per barel.
Jam | Data | Aktual | Ekspektasi | Sebelumnya | |||||
22:00 | USA - Treasury Secretary Yellen Speech | - | - | - | |||||