| Pembukaan | % Perubahan |
EURUSD | 1.17950 | 0.06% |
GBPUSD | 1.37590 | 0.03% |
AUDUSD | 0.72950 | -0.04% |
NZDUSD | 0.69930 | 0.39% |
USDJPY | 109.920 | -0.05% |
USDCHF | 0.91670 | -0.02% |
USDCAD | 1.26000 | 0.08% |
GOLDUD | 1810.010 | 0.15% |
COFR | 991349 | -0.59% |
USD/IDR | 14330 | 0.07% |
Fokus Crude Oil:
Selasa, 31 Agustus 2021 - Harga minyak pagi ini terpantau masih berada pada tren bearish dibebani oleh sentimen penemuan varian baru Covid-19 di Afrika Selatan serta data ekonomi China yang menunjukkan perlambatan. Di sisi lain, pertemuan OPEC+ pada hari Rabu akan menjadi penentu arah minyak selanjutnya.
Institut Nasional Penyakit Menular (NICD) Afrika Selatan pada hari Senin melaporkan telah mendeteksi varian baru Covid-19 yang disebut dengan "C.1.2". Meski NICD mengatakan bahwa varian baru ini hanya "hadir pada tingkat yang sangat rendah" dan masih terlalu dini untuk memprediksi bagaimana hal itu dapat berkembang, namun menarik perhatian para ilmuwan karena mutasinya hampir dua kali lebih cepat dari varian global lainnya. Berita tersebut menambah kekhawatiran pasar yang saat ini masih berjuang di tengah hantaman Covid-19 varian Delta.
Fokus utama pasar minyak juga tertuju pada pertemuan OPEC+ yang akan berlangsung pada hari Rabu, 1 September untuk membahas kuota produksi yang rencananya akan ditingkatkan sebesar 400,000 bph sesuai kesepakatan dalam pertemuan sebelumnya. Meski para delegasi OPEC memperkirakan rencana tersebut akan terus berlanjut, namun menteri perminyakan Kuwait pada hari Minggu mengisyaratkan bahwa rencana itu dapat dipertimbangkan kembali. Keputusan yang akan diambil oleh OPEC+ tersebut akan berdampak pada sisi pasokan minyak global, yang sekaligus mempengaruhi pergerakan arah minyak selanjutnya.
Sementara itu, data ekonomi terbaru China untuk bulan Juli menunjukkan aktivitas pabrik berkembang pada kecepatan yang lebih lambat sementara sektor jasa merosot ke kontraksi tajam untuk pertama kalinya sejak puncak pandemi pada Februari tahun lalu, dipicu oleh pembatasan baru terkait Covid-19 dan harga bahan baku yang tinggi. Data tersebut mengindikasikan potensi penurunan permintaan minyak dari negara konsumen minyak terbesar kedua dunia dan tentunya akan menjadi salah satu faktor pertimbangan OPEC+ dalam memutuskan rencana produksinya.
Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak akan berada dalam kisaran Resistance di IDR 1,010,000 - 1,030,000 per barel serta kisaran Support di IDR 960,000 - 940,000 per barel.
Jam | Data | Aktual | Ekspektasi | Sebelumnya | |||||
20:45 | USA - Chicago PMI | - | 68 | 73.4 | |||||
21:00 | USA - CB Consumer Confidence | - | 124 | 129.1 | |||||