| Pembukaan | % Perubahan |
EURUSD | 1.07860 | -0.04% |
GBPUSD | 1.34860 | -0.03% |
AUDUSD | 0.72530 | 0.12% |
NZDUSD | 0.67730 | -0.07% |
USDJPY | 113.710 | 0.50% |
USDCHF | 0.91730 | 0.15% |
USDCAD | 1.27550 | -0.06% |
GOLDUD | 1946.800 | -0.21% |
COFU | 102.38 | 0.60% |
USD/IDR | 14370 | 0.02% |
Rabu, 20 April 2022 - Setelah sempat terkoreksi turun pasca rilisnya laporan bernada negatif dari IMF, harga minyak pagi ini terpantau kembali bergerak menguat didukung oleh gangguan produksi di Libya yang semakin meluas serta penegasan komitmen Irak. Fokus pasar juga tertuju pada rilis data resmi pasar energi AS dari EIA malam nanti.
Dalam laporan World Economic Outlook yang dirilis hari Selasa, International Monetary Fund (IMF) memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi global tahun 2022 dari 4.4% menjadi 3.6% dengan mempertimbangkan aspek konflik Ukraina serta ancaman inflasi yang lebih tinggi. Laporan IMF tersebut menguatkan proyeksi sebelumnya dari Bank Dunia yang dirilis pada hari Senin, yang merevisi perkiraan pertumbuhan ekonomi global dari 4.1% menjadi 3.2% karena alasan serupa. Kedua laporan dari lembaga keuangan internasional tersebut memicu kekhawatiran akan potensi penurunan permintaan termasuk untuk produk energi.
Sementara itu, perusahaan minyak negara Libya, National Oil Corporation (NOC) pada hari Selasa menyatakan status force majeure untuk pengiriman minyak melalui pelabuhan Marsa El Brega. Sebelumnya, NOC telah menyatakan force majeure pada sejumlah fasilitas minyak antara lain pelabuhan Zueitina, pelabuhan Mellitah dan ladang minyak El Feel pada 17 April, yang kemudian disusul ladang minyak terbesarnya, Sharara pada 18 April. Ladang minyak El Feel memproduksi minyak sekitar 90,000 bph dan dari Sharara lebih dari 300,000 bph, sehingga diperkirakan produksi minyak Libya akan turun sekitar 400,000 bph dari total produksi saat ini yang mencapai sekitar 1.2 juta bph.
Turut mendukung pergerakan harga minyak, dalam kunjungannya ke Washington, Wakil Perdana Menteri Irak Ali Allawi pada hari Selasa menegaskan komitmen terhadap kesepakatan produksi OPEC+ serta menyatakan bahwa Irak tidak dapat menambah lebih banyak ekspor minyak. Irak memproduksi minyak sebesar 4.34 juta bph pada bulan Maret, naik 80,000 bph dari bulan Februari, namun masih lebih rendah dari kuota produksi yang disepakati yaitu di level 4.37 juta bph.
Dari AS, persediaan minyak mentah dalam sepekan dilaporkan turun sebesar 4.50 juta barel, ungkap data dari grup industri American Petroleum Institute (API) untuk pekan yang berakhir 15 April. Laporan API tersebut mengindikasikan kondisi permintaan yang positif di pasar energi AS. Sementara untuk angka resmi versi pemerintah akan dirilis malam nanti oleh badan statistik pemerintah AS, Energy Information Administration (EIA).
Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level $110 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level $95 per barel.
Jam | Data | Aktual | Ekspektasi | Sebelumnya |
22:30 | USA - EIA Crude Oil Domestic Production |
|
| 11.8M |
22:30 | USA - EIA Crude Oil Stocks Change |
| 2.471M | 9.382M |
22:30 | USA - EIA Gasoline Stocks Change |
| -0.976M | -3.649M |